Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tinggalan Pak Harto, Desain Serba Segi Lima

Rojiful Mamduh • Jumat, 7 Mei 2021 | 15:05 WIB
MASJID Baiturrahman yang terletak di Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowar
MASJID Baiturrahman yang terletak di Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowar

JOMBANG - Masjid Baiturrahman yang terletak di Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowarno, satu dari tiga masjid yang didirikan yayasan amal bakti muslim pancasila di Jombang. Masjid ini diresmikan Presiden Soeharto 1987 silam.


”Masjid ini pemberian Pak Harto (sebutan Presiden Soeharto,Red) satu-satunya di Mojowarno. Tapi masyarakat memberi nama Baiturrahman,” ungkap Moh Hafidz Sekretaris Takmir Masjid Baiturrahman, kemarin.


Ia menyebut, ada 999 masjid yang dibangun yayasan amal bakti muslim pancasila. Sejumlah 136 masjid berada di Jawa Timur dan tiga diantaranya ada di Jombang. Selain di Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowarno, terdapat di kampus Undar Jombang, dan di Desa Banjardowo, Kecamatan Kabuh.


Masjid ini memiliki bentuk yang nyaris sama persis. Khas dengan bangunan segilima di setiap sisinya. Kusen jendela, pintu, dan teralis, semua berbentuk segi lima yang memiliki arti pancasila. Masjid ini memiliki atap tiga tingkat. Tidak memiliki kubah, namun ada lafal Allah yang dibingkai dengan bentuk besi segi lima.


”Semua serba segilima, karena ini dari yayasan amal bakti muslim pancasila jadi semua serba segi lima,” tambahnya. Masjid ini memiliki bentuk bangunan persegi, lebar dan panjangnya sama yaitu 25 meter. Atap masjid juga masih tampak seperti model lama. Menggunakan lampu neon panjang. Tidak ada lampu gantung besar seperti masjid pada umumnya. ”Baru rencana membuat lampu gantung,” ujar dia.


Masjid ini awalnya juga memiliki mimbar yang bentuknya kecil dan sederhana. Tapi masyarakat sekitar kemudian mengganti mimbar tersebut menjadi mimbar yang lebih bagus dan lebih modern. ”Dulu juga ditinggali mimbar, tapi sekarang sudah diganti dengan mimbar modern,” tambahnya.


Tidak banyak yang berubah dari Masjid Baiturrahman sejak awal berdiri sampai sekarang. Hanya penambahan beberapa bagian, seperti penambahan kanopi dan perbaikan kecil. ”Boleh direnovasi, asalkan tidak merubah bentuk awal,” beber Hafidz.


Ia menyampaikan, saat awal digunakan masjid ini sempat menuai kontrofersi dari masyarakat setempat. Namun lambat laun, keberadaan masjid sudah bisa diterima masyarakat. Jumlah jamaah juga banyak dengan kegiatan yang beragam sebagaimana masjid pada umumnya.


Selama ramadan, kegiatan pengajian juga dilakukan di masjid Baiturrahman ini. Hanya saja, selama pandemi, pengajian hanya dihadiri sedikit orang. Ceramah dilakukan dengan menggunakan pengeras suara. ”Jadi tidak ada yang hadir di masjid, masyarakat mendengarkan dari rumah,” pungkas dia.


Editor : Rojiful Mamduh