JOMBANG – MTsN 5 Jombang di Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan turut menyukseskan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Bahkan sebelumnya ditunjuk sebagai madrasah percontohan persiapan PTM.
Purnomo Kepala MTsN 5 Jombang menerangkan, usai pembelajaran dilaksanakan secara daring, kini sudah bergeser kembali tatap muka. Namun, dengan ketentuan sesuai prokes. ’’Alhamdulillah sesuai imbauan pemerintah, khususnya Pemkab Jombang PTM di sini sudah dimulai dan berjalan lancar. Karena sejak awal sudah kami siapkan,’’ kata Purnomo kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Bukan tanpa alasan, sebab lanjut Purnomo jauh sebelum PTM dimulai, madrasah yang dia pimpin sudah ditunjuk sebagai madrasah percontohan berkaitan penerapan PTM di tengah pandemi Covid-19. ’’Jadi sewaktu masih daring dulu, kami salah satu madrasah yang ditunjuk sebagai percontohan. Di Jombang ada lima madrasah, untuk MTsN 1 dan MTsN 5, lainnya MAN dan MIN,’’ sebut dia.
Purnomo juga heran, madrasah yang berada di utara Brantas ini bisa ditunjuk. ’’Kami juga tidak tahu, karena dari kanwil langsung. Muncul madrasah kami. Memang tidak semudah yang kami bayangkan, karena sebagai percontohan ini ternyata kami yang ditunjuk,’’ papar Purnomo.
Sebagai tindak lanjut, saat itu pihaknya langsung membentuk tim. Seluruh keperluan dan persiapan langsung dilakukan. ’’Kita juga koordinasi dengan kecamatan, lalu puskesmas sebagai partner kerja. Waktu itu, puskesmas awalnya tidak menyetujui karena belum siap,’’ cerita dia.
Pihak puskesmas langsung datang ke madrasah. Melakukan pengecekan dan sebagainya. ’’Setelah dicek lagi kita dianggap sudah siap. Jadi kami tidak egois sebagai ASN, disamping di bawah Kemenag juga di bawahnya ini ada Kecamatan Ngusikan,’’ terang dia.
Seadainya saat itu tak mendapat persetujuan menurut Purnomo, bakal menghormati keputusan itu. ’’Sehingga begitu pemkab mengimbau dilaksanakan PTM sesuai prokes, kami sudah mempersiapkan itu. Bahkan lebih dulu sehingga tidak kerepotan lagi,’’ tegas Purnomo.
Untuk teknis PTM di MTsN 5 sama persis dengan madrasah pada umumnya. Pembelajaran tidak full diikuti siswa atau diberlakukan sistem sif. ’’Jadi dari 32 siswa dalam satu kelas kita ambil separo, atau hanya 16 siswa. Jadwal pembelajaran juga menyesuaikan,’’ sambung dia lagi.
Tidak hanya itu, pihaknya tetap mengikuti prosedur ketat sesuai aturan yang ada. ’’Sebelum anak-anak masuk madrasah, masuk di itu alat box disemprot. Lalu diukur suhu badannya, menggunakan masker dan sebagainya. Kita juga sudah sediakan bak cuci tangan, tempat belajar kita batasi, harus jaga jarak,’’ pungkas Purnomo.
Editor : Rojiful Mamduh