Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Jembatan Van Hengel, Jembatan Utama di Jantung Kota

Rojiful Mamduh • Minggu, 25 April 2021 | 15:25 WIB
JOMBANG – Membentang di sungai Jombang wetan, jembatan satu ini ternya
JOMBANG – Membentang di sungai Jombang wetan, jembatan satu ini ternya


JOMBANG – Membentang di sungai Jombang wetan, jembatan satu ini ternyata sudah jadi salah satu akses vital penghubung pusat kota Jombang sejak era kolonial. Putusnya jembatan ini bisa berdampak pada kerumitan lalu lintas di dalam kota.



Namanya Van Hengelbrug atau dalam Bahasa Indonesia disebut jembatan Van Hengel. Namun banyak warga Jombang menyebut sebagai jembatan Panengel. Mungkin karena kesulitan pelafalan bahasa Belanda. Tak diketahui pasti, kapan jembatan ini kali pertama dibangun. Namun dari data tertua, disebut sebagai jembatan baru 1937. Seperti yang tertulis pada koran De Indische courant 15/02/1937.



 “Het bruggehoofd" was door het watc» onderspoeld en deed deze pas nieuwe brug bezwijken (kepala jembatan "telah tenggelam oleh air" dan menyebabkan jembatan baru ini runtuh),” tulis koresponden koran dalam berita itu.



Selain sebagai jembatan utama yang jadi sarana lalu lintas angkutan darat, angkutan kereta api juga sempat menggunakan jembatan ini. Jembatan rel kereta sempat berdiri di samping barat jembatan utama. Jembatan rel kereta api ini jalur SS (Staats Spoorwegen) dari stasiun selatan Alun-Alun Jombang yang menuju Stasiun Jombang Kota di timur Pasar Legi.



Sebagai jembatan utama, putusnya jembatan ini sempat membuat kekacauan lalu lintas di dalam kota. Maklum,  jembatan van hengel memang ambruk, Sabtu (13/2) 1937 silam.



Penyebabnya, hujan dan badai hebat yang melanda Jombang sejak Jumat malam (12/2/1937). Sehingga air sungai meluap dan meruntuhkan kepala jembatan. Bahkan, jalur kereta di samping jembatan juga ikut ambruk. Akibat kejadian ini jalur kereta dan lalu lintas harus dialihkan. Pemandangan macet terlihat parah.



Data tersebut ditulis pada tiga koran berbeda pada masanya. Masing-masing De Indische courant 15 Februari 1937, De locomotief 16 Februari 1937 dan Nieuwe Schiedamsche Courant, 1 Maret 1937. Bahkan pada tampilan perwajahan koran ke-3, foto runtuhnya jembatan itu bisa dilihat dengan lebih jelas.



Kondisi jembatan di tahun 1937 tidak sama dengan sekarang, yang lebarnya mencapai 25 meter. Dulu, lebar jembatan Panengel sekitar 10 meter. Sebab di sisi barat jembatan, ada jalur rel kereta api SS yang bersebelahan. Jembatan untuk rel kereta api ini berukuran lebar sekitar 2 meter yang berbahan baja. Sedangkan di sisi kanan kiri jembatan, jalan raya yang terpasang pagar besi pengaman.



Kini, kondisi jembatan jauh berbeda. Lebar jembatan telah menutup seluruh bagian utama Jl KH Wahid Hasyim. “Kalau berapa kali direhab, saya sendiri kurang tahu, tapi dulunya ada rel kereta dan sekarang sudah tidak ada lagi,” terang Miftahul Ulum Kepala Dinas PUPR Jombang.


Ia menyebut, usai kemerdekaan jembatan itu sempat jadi aset milik Pempov Jatim, lantaran Jl KH Wahid Hasyim dulu merupakan jalan provinsi. “Baru sekitar tahun 2014, aset itu diserahkan ke Pemkab Jombang, asetnya kini menjadi aset pemkab,” pungkasnya.


Editor : Rojiful Mamduh