JOMBANG – Porprov 2019 menjadi pelajaran berharga bagi atlet yang akan kembali turun di porprov 2022. Seperti Nurul Ayu Zakia, atlet muaythai yang di porprov 2019 meraih perunggu di wushu. Tahun depan, ia akan ikut porprov lagi, namun di muaythai.
’’Saya pindah ke muaythai sesuai arahan pelatih,’’ ucapnya, kemarin. Sejak awal dia sebenarnya sudah berlatih muaythai. Namun pada porprov 2019, kelas yang sesuai berat tubuhnya tak ada di muaythai. Kelas yang cocok dengan berat badannya justru ada di wushu. Alhasil, dia turun di wushu.
Pada porprov 2022, dia bertekad lebih maksimal di muaythai. Menurutnya, tidak terlalu sulit untuk beralih dari wushu sanda (tarung) ke muaythai. Karena tekniknya hampir sama. Yang membedakan, wushu ada bantingan, sedangkan muaythai tidak ada.
Ia menyebut, persiapan porprov 2022 baru akan dilaksanakan setelah lebaran. Satu bulan terakhir ia tidak aktif latihan. ’’Nanti setelah lebaran langsung digenjot latihan lagi,’’ katanya. Apalagi target yang ia canangkan tahun depan lebih tinggi, yaitu medali emas.
Evaluasi dari porprov 2019, menurut Nurul, ia masih kurang tenang dalam bertanding. Bahkan terkesan emosi menghadapi lawan. Ia ingin lebih bisa mengendalikan emosi saat bertanding.
’’Saya harus bermain lebih santai, tidak terlalu mengedepankan emosi, itu saja sih,” ungkap warga Desa Candimulyo Kecamatan/Kabupaten Jombang ini.
Mental yang tidak stabil tersebut sering kali dimanfaatkan lawan, sehingga banyak poin yang hilang karena mengedepankan emosi dalam bertanding.
’’Tahun depan harus bisa bertanding dengan lebih tenang, sehingga emosi stabil,’’ jelasnya.
Untuk saat ini, ia masih belum kembali latihan seperti biasa. Pembelajaran tatap muka sudah mulai berlangsung, sehingga ia memilih fokus di sekolah terlebih dahulu.
Dia terakhir bertanding di kejurprov Banyuwangi Februari lalu. Turun di kelas 63,5 kilogram putri, ia berhasil meraih medali emas. ’’Setelah dari Banyuwangi kemarin, untuk sementara libur latihan sampai nanti lebaran,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh