Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Jatuh Bangun Gereja Katolik Santa Maria Jombang

Rojiful Mamduh • Minggu, 18 April 2021 | 16:32 WIB
SALAH satu bangunan yang punya sejarah panjang di Jombang adalah Gerej
SALAH satu bangunan yang punya sejarah panjang di Jombang adalah Gerej


JOMBANG - Salah satu bangunan yang punya sejarah panjang di Jombang adalah Gereja Katolik Santa Maria. Gereja ini ada sejak awal abad 20, namun sempat hilang beberapa puluh tahun hingga akhirnya berdiri kembali.



Dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang, gereja ini ada sejak 1908. Awalnya, dibangun gedung gereja dengan nama pelindung St Theodorus. Pemrakarsanya, orang Belanda yang bekerja di Pabrik Gula Jombang Baru.



Sempat berlangsung beberapa tahun, gereja ini hancur saat pendudukan Jepang masuk Jombang 1942-1945. Kompleks gereja sempat jadi salah satu kamp interniran. Sebuah kamp untuk mengurung orang-orang Belanda di masa pendudukan Jepang. Selain tiga kamp interniran lainnya, yakni Pabrik Gula Sumobito, Lapas Jombang dan Pabrik Gula Ceweng. Sebuah peta kamp tahun 1942 jadi salah satu bukti.



“Berdasarkan buku sejarah gereja, diketahui memang pada masa revolusi fisik itu gereja sempat hancur lebur dan dihuni tamu tak diundang,” terang Reverendus Dominus Albertus Widya Rahmadi Putra, Romo Kepala Paroki Santa Maria Jombang, kemarin.



Ia menjelaskan, perebutan kembali tanah gereja, baru bisa dilakukan 1955. Atas bantuan inisiasi beberapa umat katolik, gereja kecil atau biasa disebut kapel. “Lokasi gereja lama sekarang dipakai kantor SMPK Wijana,” lanjutnya.


Gereja besar yang kini berdiri megah di samping Jl KH Wahid Hasyim, baru dibangun 1973. Kemudian 27 Juli 1974, gereja ini diresmikan Mgr J Klooster CM. “Dalam acara itu diberi nama pelindung Santa Maria,” tambahnya. Bangunan gereja terus berkembang beserta beberapa fasilitas pendukung di sekitarnya. Seperti lembaga pendidikan yang bernaung dibawahnya.


Editor : Rojiful Mamduh