Ide bisa datang kapan saja. Itulah yang dialami Sugeng Hartobi, salah satu seniman lukis asal Dusun Weru, Desa Mojongapit, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Tidak hanya melukis di atas kanvas, ia kini melukis di atas limbah kayu.
WENNY ROSALINA, Jombang
”SAYA bingung menyebutnya sebagai apa, karena kalau lukisan bermodal cat dan kuas. Sedangkan yang saya buat ini perpaduan antara seni lukis dan kerajinan,” ucap Tobi, begitu nama panggungnya.
Hobi melukis di atas kayu ini sebetulnya sudah dilakukan sejak lama. Hanya saja, dia lakukan di atas kayu biasa, tanpa ada tambahan apapun. Namun sekarang, kayu yang dibuat dibentuk menyerupai obyek gambar.
Ia baru memiliki tiga karya lukis dari kayu dengan berbagai bentuk. Ketiganya bergambar binatang jenis burung. Pertama, ia memanfaatkan limbah kayu sederhana, yang digambar burung dan ditambah ranting agar lebih estetik. Yang kedua, ia juga menggambar burung di sebuah papan yang kemudian dibingkai lengkap dengan ranting dan daun sebagai hiasan.
Yang ketiga, ia membuat burung merak. Tak hanya gambar di atas papan kayu, tapi juga bentuk kayu yang menyerupai burung merak. ”Ini baru setengah jadi, rencanaya mau saya tambah ranting agar lebih menarik,” tambahnya.
Bentuk merak yang ia buat berasal dari dua papan kayu bekas yang tidak terpakai. Ia jadikan satu, kemudian ditempel menggunakan lem kayu. Digambar bentuk merak. Baru kemudian ia potong menggunakan gergaji sesuai dengan pola yang ia buat.
Setelah berbentuk sempurna, baru ia melukisnya dengan cat akrilik. Ia campurkan banyak warna. Apalagi di bagian ekor yang menjuntai hingga keluar dari frame. Yang membuat merak kayu tampak hidup dan nyata. ”Ini sambungan, tapi tidak terlihat karena disamarkan dengan warna,” jelas dia.
Inspirasi melukis di atas kayu dengan tambahan aksesoris lain ini baru muncul beberapa bulan terakhir. Setelah, ia melihat banyak kayu yang tak terpakai. Sedangkan lukisan kayu yang sekarang, banyak dilakukan di atas kayu datar biasa. ”Kalau lukisan kayu sudah ada sejak lama, kayak di telenan, kan sudah biasa, ini tiba-tiba kepikiran bikin begini, jadi langsung saya buat,” tambahnya.
Ia mengatakan, kayu apa saja bisa dijadikan sebagai media lukis. Namun, kebetulan limbah yang ia punya adalah kayu nangka. Ditambah dengan ranting pohon belimbing dan bunga plastik. ”Kayu apa saja yang sekiranya tidak terpakai kita olah jadi lukisan,” tambahnya.
Begitu juga dengan frame yang ia pakai menggunakan kayu nangka. Setelah pola terbentuk dan cat sudah diberikan. Ia kemudian menambah antigores agar lukisannya tampak lebih mengkilat, warnanya awet, dan warna frame juga lebih tegas.
Jika dibandingkan dengan seni lukis di atas kanvas. Melukis di atas limbah kayu biayanya lebih murah. Selain waktu yang dibutuhkan juga lebih singkat. ”Kalau kanvas kan beli kain kanvas, dilapisi cat, dijemur, dibentangkan pakai kayu. Berbeda dengan media kayu lebih cepat dan hemat,” jelas dia.
Harga jual lukisan kayu inipun cukup tinggi. Untuk gambar merak yang membutuhkan pola dengan frame berukuran 1m x 50cm, dijual dengan harga Rp 3-4 juta. Untuk model lukisan lain lebih murah mulai Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta. ”Masih lebih murah dibandingkan lukisan kanvas, kanvas butuh proses yang panjang dan lama,” tambahnya.
Karya lukisan kayunya akan ia pajang pada pameran di Sunrise Mall Mojokerto mulai 26 Maret sampai 4 April nanti. ”Makanya ini segera saya selesaikan, kurang tambah ranting biar lebih artistik,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh