Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

39 Tahun berdiri, Pertahankan Resep Asli

Rojiful Mamduh • Minggu, 21 Maret 2021 | 15:25 WIB
SALAH satu bakso yang masih bertahan sejak puluhan tahun di Jombang ad
SALAH satu bakso yang masih bertahan sejak puluhan tahun di Jombang ad


JOMBANG - Salah satu bakso yang masih bertahan sejak puluhan tahun di Jombang adalah Bakso Kempot. Meski sempat berpindah lokasi, bakso legenda ini masih eksis dan punya pelanggan tetap. Kini, berlokasi di Jl Adityawarman Jombang.



Menempati sebuah ruko kecil di pinggir jalan dengan tulisan Bakso Kempot yang cukup besar dan mencolok di bagian depan. Meski terlihat sederhana, warung ini sebenarnya telah melegenda. “Bakso Kempot itu mulai 1982 sampai sekarang,” terang Pramono, 41, pengelola Bakso Kempot.



Dulu, bakso ini dijalankan Tiamin, sang pemilik asli. Berawal dari berjualan dengan gerobak keliling, hingga mulai menempati warung yang lokasinya berada di depan Lapas Jombang sekitar 1980-an. “Sampai sekarang beliau (Tiamin, Red) masih hidup, tinggal di Desa Senden, Kecamatan Peterongan,” ungkap pria yang akrab disapa Banu ini.



Nama Kempot sendiri lahir dari perawakan pemilik aslinya yang disebutnya kurus dan kecil. Sehingga, pembeli menjulukinya sebagai Pak Kempot. “Artinya itu orangnya kempot, bokongnya tipis,” ucapnya diiringi tawa.



Warung bakso ini mencapai kejayaan sekitar 1995 hingga 2000. Sempat berpindah ke Pujasera Kebonrojo dan memiliki dua cabang. “Jadi sempat ada tiga, waktu itu di Kebonrojo, sama di lantai atas Pasar Legi Jombang,” tambahnya.



Namun seiring perkembangan zaman, semakin banyak produk bakso di Jombang, membuat omset penjualannya terus menyusut. Kini, warung di Jl Adityawarman adalah satu-satunya warung Bakso Kempot yang tersisa.



Kendati demikian, baksonya tak pernah sepi pengunjung. Lantaran sudah 39 tahun berjualan, pelanggan setia baksonya tetap banyak. “Kita juga tidak pernah mengubah resep, jadi masih tetep resep aslinya dulu,” lontar dia.


Sementara untuk menu andalan, Banu menyebut para pelanggan biasanya datang untuk memburu siomay dan bakso kasar. “Kalau dibilang enak ya enak semua, tapi andalannya di sini dua, siomay dan bakso kasar. Kata pelanggan paling beda sama bakso lain,” pungkasnya.


Editor : Rojiful Mamduh