JOMBNAG - Ajaran karate yang keempat yakni kontrol dirimu sebelum mengontrol orang lain. ’’Ini menyiratkan dua hal,’’ kata Ketua Harian Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jombang, Kwat Prayitno, 60, kemarin.
Pertama yakni pentingnya keteladanan. ’’Sebelum mengontrol dan membenahi kesalahan orang lain, karateka wajib mengontrol dan mengendalikan diri sendiri lebih dulu. Koreksi diri sebelum koreksi orang lain,’’ urainya.
Dalam setiap peragaan teknik gerakan karate, jangan hanya mencela gerakan orang lain. ’’Lihat gerakan sendiri dulu, sudah benar dan sesuai dengan teknik yang ada atau masih perlu koreksi,’’ terangnya.
Dalam semua aspek kehidupan, keteladan sangat penting. ’’Guru harus bisa menjadi teladan bagi murid. Guru harus benar lebih dulu sebelum membenarkan murid,’’ paparnya.
Orang tua, juga harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. ’’Misalnya ingin anaknya berkata, bersikap dan berperilaku baik, maka orang tua harus lebih dulu berkata, bersikap dan berperilaku baik,’’ terang anggota Dewan Guru Inkanas nasional ini.
Ingin anak bekerja keras dan jujur, maka orang tua harus memberi contoh bekerja keras dan jujur. Sejak kecil Kwat melihat kedua orang tuanya bekerja keras. Maka sebagai anak, dia meniru bekerja keras.
Kedua yakni menguasai diri dan kendalikan emosi. Serta menjaga sikap terhadap yang lain. Sebagai wujud pengamalan sumpah karate, sanggup menguasai diri.
Karateka Dan VII ini menuturkan, dalam kompetisi, atlet harus bisa mengontrol diri dan tidak emosi. ’’Sebab ketika emosi, amarah menguasai diri. Sehingga teknik yang dilatih tak bisa keluar,’’ urainya. Akibatnya, atlet akan kalah dalam pertandingan.
Dia lantas mengibaratkan orang menyulam kain. Ketika menyulam dalam kondisi emosi, hasilnya akan jelek bahkan jarinya sendiri bisa tertusuk jarum.
Dalam berwirausaha, kemampuan mengontrol diri juga sangat penting. ’’Kalau kita gampang emosi kepada pembeli, pasti pembeli kabur,’’ ucap pria yang telah lebih dari 40 tahun menjadi pengusaha ini.
Sebagai hamba Tuhan, kontrol diri juga sangat penting. ’’Dalam kondisi emosi, kita akan lupa semua Firman yang tiap Minggu didengar bahkan yang telah dihafal. Ini membuat kita jauh dari jalan Tuhan,’’ urainya. Agar terus berada di jalan Tuhan, kita harus bisa mengontrol diri dan emosi.
Editor : Rojiful Mamduh