JOMBANG – Masjid Al Ikhlassul Chojum di Dusun Pucanganom, Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang sudah berdiri 49 tahun. Masjid yang berada di samping jalan kabupaten ini pernah berganti nama. Semula Al Ikhlas kini menjadi Al Ikhasul Chojum.
Dari pinggir jalan, masjid ini nampak begitu megah. Bangunan nampak begitu besar. Halaman masjid juga masih luas. Dari samping, para jamaah bakal disambut dua bangunan teras masjid. Memasuki serambi masjid banyak marmer yang terpasang. Mulai dari separo dinding hingga lantai. Di dalam masjid juga demikian, marmer lawas menempel di samping dan lantai masjid.
Abdul Hadi Sekretaris Takmir Masjid Al Ikhlassul Chojum, menyebut masjid dibangun di era 1970-an. ’’Jadi membangun 1972, sebelumnya tanah kosong, mulai dari nol,’’ katanya usai menjalankan salat duhur, Kamis kemarin (11/2). Berdirinya masjid ini merupakan pengembangan masjid tetangga dusun.
’’Dulu itu jamaahnya di Masjid Al Karimi Tegalrejo (Dusun Simo, Red) penuh. Warga sini dulu jamaahnya di sana. Akhirnya di sini bangun masjid baru,’’ sambung dia. Hadi lantas melanjutkan ceritanya, saat itu masjid masih menggunakan nama Al Ikhlas. Kemudian 1978 masjid semakin diperluas.
’’Bangun awal itu baru separo dari bangunan sekarang, tetapi sudah ditembok. Kemudian 1978-1980 dibangun lagi ada penambahan lantai sampai pemasangan marmer,’’ ungkap dia. Selama ini, hanya sekali masjid yang didominasi warna putih ini ada penambahan bangunan.
’’Jadi dibangun sampai ada penambahan ya masih sama. Mulai lantai, dinding, genting sampai kubah juga lama,’’ sambung dia. Model masjid ini pun seperti masjid era tahun 1970-an. Bagian atap terdapat beberapa tingkatan sebelum kubah. ’’Kalau model kok seperti masjid yang lain,’’ sambungnya.
Kendati demikian, masjid ini sudah pernah berganti nama. Semula hanya Al Ikhlas, kini menjadi Al Ikhalussul Choojum. ’’Lalu ada penambahan dana dari H Chojum 1978. Akhirnya atas kesepakatan pengurus diubah menjadi Al Ikhlassul Chojum sampai sekarang,’’ beber Hadi.
Masjid ini juga pernah memanfaatkan jam istiwak atau yang bisa disebut bencet. Jam itu dipergunakan sebagai tanda waktu masuk salat duhur. ’’Dulu ada bencet ya di samping masjid. Ada penambahan 1978 itu akhirnya dibongkar,’’ pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh