Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Perajin Gerabah di Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan

Rojiful Mamduh • Minggu, 24 Januari 2021 | 15:30 WIB
Kerajinan gerabah di Dusun Mambang, Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaa
Kerajinan gerabah di Dusun Mambang, Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaa


Kerajinan gerabah di Dusun Mambang, Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, ternyata masih eksis sampai sekarang. Gerabah yang dibuat dengan cara tradisional inipun terjual hingga luar kota.



WENNY ROSALINA & LAILA, Plandaan



MASUK Dusun Mambang, aktivitas warga yang bergelut dengan gerabah mulai terlihat. Ada yang sedang produksi, ada yang sedang menjemur, dan ada juga yang sedang membakar. Deretan gerabah berbagai bentuk dan ukuran terlihat di sepanjang jalan. Sebagian  masih berupa tanah liat.



”Di Dusun Mambang ini saja yang membuat gerabah sampai sekarang, lainnya tidak,” ucap Susi Susanti salah satu perajin gerabah yang ditemui kemarin. Sambil berbincang dengan koran ini, ia sibuk menyusun gerabah yang sudah kering dengan sekam. Kemudian ditambah dengan tumpukan kayu, baru kemudian dibakar.



Sembari menunggu api, ia kembali melanjutkan aktivitasnya membuat gerabah di ruang tamu. ”Semua saya kerjakan sendiri, kadang dibantu bapak,” jelasnya. Proses pengerjaan gerabah memang  dilakukan dengan cara tradisional. Mulai dari pengolahan tanah liat dengan pasir yang dilakukan manual. ”Ya diiles (baca; diinjak) pakai kaki, sampai tercampur dan halus,” ungkapnya.



Ia menyampaikan, adonan untuk membuat gerabah harus halus. Tidak boleh ada satupun kerikil yang tercampur, agar hasilnya tercetak sempurna. Gerabah menjadi awet dan tidak mudah pecah. Selain  layah bolong, gerabah yang dihasilkan ada kendil ari-ari, pot anggrek dan cobek.



Pembuatannya diawali dengan mengambil selembar kayu yang ditabur pasir agar tidak lengket. Segumpal adonan bahan tanah liat yang sudah dihalus itu kemudian dicetak, diputar dan dibentuk. Tidak menggunakan alat cetak modern. Semua dikerjakan secara manual. Meski pengerjaan lebih lama, namun hasilnya lebih bagus karena sembari mencetak, tangan bisa meraba bagian mana yang belum sempurna.



Dalam sehari, ia bisa membuat sekitar 30 layah bolong, pot bunga, dan kendil ari-ari. Setelah selesai, hasil gerabah mentah itu kemudian dijemur. Proses ini berlangsung satu sampai dua hari, bergantung sinar matahari. ”Sekarang musim hujan, baru dikeluarkan sudah mendung, jadinya lama tiga hari,” jelas Susi.



Setelah gerabah kering, baru kemudian dibakar. Proses pembakaran dilakukan lebih singkat, cukup satu jam. Pembakaran gerabah ini  dilakukan dua minggu sekali. ”Kalau musim kemarau tiga hari sekali bakar,” ungkapnya.



Susi menyebut, kerajinan gerabah dilakukan turun temurun. Ia pun belajar dari ibunya sejak duduk di bangku kelas 2 SD. Maklum, sang ibu juga sejak lama membuat dan menjual gerabah. ”Sepulang sekolah saya langsung membuat gerabah, nggak seperti anak sekarang main-main. Dulu ibu saya penjual gerabah keliling,” ungkap bungsu dari empat bersaudara ini.



Untuk harga jual gerabah terhitung murah. Mulai harga Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per biji. Harga ini menyesuaikan besar kecilnya gerabah. Peminat gerabah sampai saat ini masih banyak. Tak heran, gerabahnya selalu habis terjual karena memang ia membuat sesuai pesanan. Gerabang yang dipesan itu selalu diambil untuk didistribusikan ke sejumlah daerah.


”Gerabah saya ini dijual ke Krian, Mojokerto, Surabaya. Paling dekat Pasar Mojoagung. Ini sudah ada yang ambil semua setelah matang,” pungkas Susi.


Editor : Rojiful Mamduh