JOMBANG - Masjid Al Huda di Dusun/Desa Wringinpitu, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, memiliki kubah besar. Saking besarnya, masjid ini terlihat unik. Apalagi masjid dibangun sejak 1932 silam dengan kubah yang tak berubah.
Menurut Zaini Ketua Takmir Masjid Al Huda, saat berdiri awal, bangunan masjid tidak seperti sekarang. Ukuran bangunan waktu itu hanya sekitar 8 x 8 meter. Itupun bahan material banyak yang terbuat dari kayu. Kemudian, ada salah satu warga yang mewakafkan tanahnya untuk pelebaran masjid.
"Memang terlalu sempit, apalagi kalau digunakan salat Jumat, sampai meluber ke halaman," katanya. Untuk menampung para jamaah, tepatnya 27 April 1998 silam, dilakukan renovasi bangunan secara bertahap.
Dua tahun kemudian baru diresmikan. Tepatnya, 14 Oktober 2000. ”Dibongkar total, dilebarkan, sekarang lebar sekitar 20 x 20 meter persegi dan dibangun dua lantai,” imbuh dia.
Salah satu yang menjadi ciri khas masjid ini adalah kubah yang berukuran besar. Nampak, langit-langit kubah dicat sedemikian rupa, seolah-olah para jamaah tengah menjalankan salat di bawah langit lepas.
“Jika memandang ke atas, para jamaah akan terhibur dengan pemandangan khas langit, didominasi warna biru putih yang menyerupai gumpalan awan tebal,” katanya.
Selain itu, hal unik lainnya yang terlihat di masjid Al Huda, yakni mimbar. Bentuk bangunan mirip singgasana raja. Dibuat seratus persen dari bahan kayu jati pilihan.
Meski sudah berusia belasan tahun, kondisi mimbar tetap kokoh dan kuat. Termasuk bagian kayunya juga masih utuh. ”Memang dibuat dari kayu jati pilihan,” bebernya.
Tidak hanya mencerminkan kokohnya bangunan, di sejumlah bagian mimbar juga dilengkapi sejumlah ukiran arab. Sehingga menambah keindahan mata memandang.
Berbeda dengan mimbar masjid pada umumnya, mimbar masjid Al Huda ini terlihat lebih luas. ”Sekitar dua meter persegi,” imbuh Zaini. Bagian atasnya dilengkapi dengan langit-langit dari bahan kayu.
”Kebetulan warga di sini (Wringinpitu, Red), banyak yang punya usaha mebel, jadi kalau ukiran banyak yang bisa,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh