JOMBANG - Salah satu jajanan asyik yang bisa dijumpai di Jombang yakni bakpau tjuyen. Setiap harinya, gerobak penjual bakpau bisa dijumpai di sejumlah titik ruas jalan di Jombang, sebagian berjualan keliling.
Sulastri, 62, warga Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan sudah puluhan tahun menggeluti usaha jajanan empuk ini, tepatnya sejak 1986.
Jawa Pos Radar Jombang pun berkesempatan mengunjungi rumah produksi bakpao tjuyen milik Sulastri.
Siang itu, aktivitas di rumah Sulastri cukup ramai. Sejumlah karyawan terlihat sibuk di lorong samping rumah.
”Kalau pembuatan adonannya di samping sini, nanti kalau sudah siap baru di kukus di dalam rumah,” terang Sulastri.
Dikatakan, proses pembuatan bakpao cukup mudah. Mula-mula, bahan-bahan pembuatan bakpao, mulai dari terigu, air serta bumbu tambahan lainnya dicampur.
Empat orang orang pria yang juga jadi penjual bakpau sore harinya, setiap pagi membantu Sulastri untuk membuat bakpau di rumahnya ini.
”Proses pengadonan ini berlangsung dua jam biasanya, sampai adonan benar-benar padat dan untuk kemudian dibentuk dan diletakkan di tampah-tampah berbahan bambu,” lanjutnya.
Setelah itu, barulah bakpau itu dikukus di sebuah panci besar yang ada di belakang rumah ini. Prosesnya, juga masih menggunakan cara manual yakni dengan tungku tradisional.
”Tidak ada mesin memang, semuanya manual. Ini untuk menjaga cita rasa aslinya saja, kualitasnya juga terjamin kalau manual begini,” imbuh ibu lima anak ini.
Selain proses yang masih tradisional, Sulastri juga menyebut seluruh bahan yang digunakan hingga dulu hingga sekarang tak berubah.
Misalnya untuk bahan pengembang, Sulastri, bertahan menggunakan soda kei dibanding menggunakan fermipan atau pengembang kue yang biasa digunakan.
”Karena menggunakan soda kei itu, jadinya memang tidak tahan lama, cuma dua hari mentok, tapi adonannya jadi lebih padat saat matang, tidak gembos dalamnya,” ungkapnya.
Dibantu lima pekerjanya, Sulastri menyebut bisa memproduksi hingga 30 kilogram adonan setiap harinya. Untuk varian rasa, ia biasa membuat lima jenis isian berbeda untuk bakpaunya, yakni kacang hijau, ayam, kacang tanah, cokelat dan strawberry.
”30 kilogram itu jadinya nanti sekitar 800 bakpau, dijualnya harganya Rp 3.000 per potong,” tambahnya.
Ia juga menyebut, masih mempertahankan cara berjualan dengan gerobak dorong khas bakpau jadul. Hal ini, lantaran pelanggannya yang enggan jika ia berganti media berjualan.
”Sudah pernah pakai becak, pakai gerobak motor juga tidak bisa, tidak seramai kalau pakai gerobak dorong, jadi ya memang kayaknya harus tetap klasik begini,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh