JOMBANG - Salah satu perajin wayang kulit yang sudah berpuluh tahun dapat ditemukan di Dusun Mojowangi, Desa Mojowarno. Di sini, wayang kulit masih dibuat dengan cara manual.
Lokasi bengkel pembuatan ini berada di pinggir jalan utama Kecamatan Mojowarno. Di depan rumah sederhana itu, seorang pria tampak sibuk dengan kulit di meja dan cat di tangannya.
Dengan telaten, ia terlihat hati-hati mengusap kuas cat di lembaran kulit itu. ”Jadi ini proses pengecatan untuk wayang kulit, sebelum ini panjang prosesnya,” ucap Teguh Basuki, perajin wayang.
Proses pembuatan wayang ini, disebutnya bisa dibilang cukup rumit. Seluruh bahan wayang juga harus benar-benar berkualitas. Pertama dari pemilihan bahan kulit.
Teguh menyebut, kulit yang jadi bahan dasar pembuatan wayang memang harus kulit yang masih bersih dari bahan kimia.
”Bisa kulit sapi, kambing juga kerbau, asal belum diproses kimiawi, tapi yang paling enak dipahat kulit kerbau memang,” lanjutnya.
Pertama-tama bahan dasar kulit dibersihkan dari bulu, hingga kemudian dicuci dan dikeringkan. Setelah itu barulah proses pembentukan wayang dilakukan.
”Proses ini biasanya dilakukan dengan pemahatan, setelah dipotong sesuai mal, pemahatan dilakukan untuk menampilkan detail aksesoris wayangnya,” imbuhnya.
Setelah selesai, proses selanjutnya adalah penempelan aksesoris berupa kayu untuk penegak wayang. Setelah itu pewarnaan dilakukan.
”Proses ini juga sangat menentukan hasil wayang, warna yang bagus dan pas akan membuat harga jualnya tinggi, begitupun sebaliknya,” lontar Teguh.
Usai pewarnaan selesai, wayang harus kembali dijemur hingga cat kering. Proses ini, juga bergantung pada kondisi cuaca.
”Intinya paling cepat prosesnya biasanya lima hari,” sebutnya.
Karena prosesnya yang panjang dan rumit itulah, harga wayang buatan Teguh terhitung lumayan. Untuk satu buah produk wayang kulitnya, ia biasa membandrolnya dengan harga hingga Rp 1 juta.
”Bisa lebih juga tergantung ukuran dan kerumitan, kalau pasarnya sampai sekarang paling jauh pernah sampai ke Taiwan juga,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh