Di tengah pandemi, banyak hikmah yang didapat. Salah satunya, Dwi Barlian, warga Dusun Genjonglor, Desa Sidowarek, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Hiasan dinding makrame hasil karyanya justru melaju pesat.
WENNY ROSALINA, Ngoro
”SEBELUM membuah hiasan dinding makrame ini, sebenarnya saya membuat tas, dompet, tapi karena korona penjualan sangat sepi,” ungkap Dwi yang juga anggota Forum Industri Kecil Menengah Jombang (FIKMJ) ini.
Sejak pagi, rumahnya dipenuhi ibu-ibu dan anak-anak muda dari sekitar rumahnya. Kedatangan mereka untuk membuat kerajinan tangan makrame. Ada yang sudah mahir dan ada pula yang baru belajar. Ada juga yang dikerjakan di rumah. Ya, dia sengaja memanfaatkan tenaga warga sekitar untuk menambah penghasilan.
”Ada yang buruh tani, kerja pagi saja, atau pas musim tanam, siangnya santai, daripada nganggur, saya ajari membuat kerajinan makrame,” ungkapnya. Dengan telaten, ibu-ibu merajut satu persatu bahan tali yang sudah disediakan.
Barlian memang hobi membuat tas makrame dengan bahan tali kur sejak remaja. Usahanya berjalan selama dua tahun. Karyanya banyak diminati konsumen. Sayang, saat wabah Covid-19 merebak, usahanya berhenti total. Perekonomian sulit. Tas rajutnya tidak laku karena memang harganya juga tidak murah.
”Hanya orang-orang tertentu yang mau beli, karena modelnya begitu-begitu saja, tidak kekinian,” ungkap dia. Kemudian, dia membuka media sosial dan banyak melihat hiasan dinding makrame. Tekniknya hampir sama. Dari situlah ia terinspirasi membuat, mengajar dan menjualnya.
Usahanya membuahkan hasil. Hiasan dinding yang ia buat laris di pasaran. Bentuk yang dibuat juga kekinian dengan harga cukup terjangkau.
Khusus hiasan dinding makrame ini ia hanya memanfaatkan tali katun yang dibeli gelondongan. Dengan berat setengah kilogram dan satu kilogram. ”Belinya di luar kota, kalau di Jombang sulit, kalaupun ada harganya mahal,” tambah dia.
Selain tali katun. Ia juga menambahkan hiasan dengan bunga dari flanel, tali loopy yarn, bambu, midangan (bentang bordir) dan lain sebagainya.
Hiasannya dibuat dengan bentuk lingkaran dari midangan, karena memang kayu rotan harganya cukup mahal. Ia buang bagian yang menonjol itu lalu digabungkan dengan perekat. Setelah itu baru dibungkus dengan benang katun.
Guna mempermanis bentuk lingkaran itu ia menambahkan bunga dari flanel. Adapun bentuk lain yang banyak dipesan adalah kalung dan daun hingga hiasan backdrop.
”Modelnya bebas sesuai permintaan pelanggan, kita beri contoh gambar, atau mereka bisa membawa contoh gambar sendiri,” tambahnya.
Kini hiasan dinding makrame buatannya laris di pasaran. Bahkan ia sudah menjadi pemasok tetap salah satu toko. Seminggu sekali, hiasannya terjual dua sampai enam lusin. Pesanan perorangan juga banyak. ”Toko yang saya pasok kirimnya ke luar kota,” imbuh dia.
Harga makrame yang ia buat cukup murah mulai Rp 60 ribu, hingga Rp 500 ribu untuk dekor. ”Ada yang Rp 35 ribu juga untuk hiasan pot bunga, tapi satu set isi tiga, jadi Rp 35 ribu kali tiga,” pungkas Barlian.
Editor : Rojiful Mamduh