Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Bubur Kacang Ijo Klenteng yang Legendaris

Rojiful Mamduh • Minggu, 27 Desember 2020 | 15:20 WIB
JOMBANG - Warung bubur kacang ijo klenteng, ada sejak 35 tahun lalu. T
JOMBANG - Warung bubur kacang ijo klenteng, ada sejak 35 tahun lalu. T


JOMBANG - Warung bubur kacang ijo klenteng, ada sejak 35 tahun lalu. Tak heran, bubur ini cukup legendaries.


Meski lokasinya telah berpindah, nama lama bubur milik pasutri Sulistiani, 50 dan Muhdori, 60 ini tak hilang dari sebutan pelanggan.



“Kalau jualan utama sejak dulu cuma bubur kacang hijau, paling sama gorengan dan kerupuk,” ucap Sulistiani. Di warung ini, bubur kacang hijau disajikan bersama dengan ketan hitam.


Disiram dengan kuah gurih santan, bubur ini ditaburi dengan es sirup dan ditutup dengan guyuran susu kental manis.



Meski tak berbeda dari penyajian bubur kacang hijau lainnya, Sulis menyebut yang membedakan bubur di warungnya adalah penggunaan kacang hijau lebih banyak dan lebih manis.


“Ini pelanggan yang bilang, jadi kenapa tetap beli di sini karena katanya lebih banyak kacang hijaunya, daripada tepungnya, juga lebih manis,” bebernya.



Ia menyebut, resep bubur kacang hijau sejak awal jualan dulu tidak berubah sampai sekarang. “Kami benar-benar menjaga kualitas,” imbuh dia.



Ya, Sulistiani dan suaminya Muhdori sudah 35 tahun terakhir menekuni usaha bubur kacang hijau. Saat awal berjualan, ia menghuni lokasi bahu jalan di depan Klenteng Hok Liong Kiong.


Hingga beberapa tahun kemudian berpindah ke sebuah kios di lokasi yang sama. “Lokasi jualan di depan klenteng itu yang membuat nama bubur kacang ijo dikenal sebagai bubur kacang ijo klenteng,” tambah warga Kepatihan Jombang ini.



Namun, sejak enam tahun terakhir ia berpindah lokasi di Jl RE Martadinata Jombang, sekitar 1 kilometer dari klenteng. Kendati demikian, nama bubur klenteng hingga kini tetap tak hilang.


“Ya, mungkin karena sudah puluhan tahun, terbiasa menyebut bubur klenteng, jadi dimanapun pindah, namanya tetap tak berubah,” lontarnya.


Warung bubur ini buka setiap hari hingga sore hari. Untuk menimkati semangkuk penuh bubur kacang hijau yang segar manis dan mengeyangkan, pengunjung cukup membayar Rp 7.000 saja.


Editor : Rojiful Mamduh