Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

SF Blimbing, Satu dari Dua Pabrik Gula di Gudo

Rojiful Mamduh • Minggu, 20 Desember 2020 | 15:00 WIB
JOMBANG - Di Kecamatan Gudo, dua pabrik gula megah pernah berdiri yang
JOMBANG - Di Kecamatan Gudo, dua pabrik gula megah pernah berdiri yang


JOMBANG - Di Kecamatan Gudo, dua pabrik gula megah pernah berdiri yang salah satunya berada di Desa Blimbing. Dari data yang dihimpun Suiker Fabriek Blimbing berdiri 1888. Sejak awal, pabrik ini dimiliki NV Blimbing dengan administraturnya CK Douwes Dekker.



Dari foto bersetting tahun 1920, terlihat bangunan SF cukup megah. Berbentuk bangunan kecil di bagian depan dengan gedung berwarna putih, jauh lebih besar di bagian belakang.


Pabrik gula ini dikenal dengan bentuk kustin atau cerobong asap yang hanya satu dan tak bercincin. “Dari foto itu diketahui kondisi SF Blimbing saat akan memasuki masa giling,” terang Handi Gambit salah seorang penelusur sejarah Jombang, kemarin.



Dari penelusurannya, pabrik gula memiliki foto terakhir tahun 1925. Namun dari keterangan warga setempat, bangunan pabrik ini sudah hancur tahun 1950. “Jadi disinyalir berhenti. Hancurnya pabrik ini setelah pendudukan Jepang, karena ditakutkan jadi basis kekuatan militer Belanda,” lanjut dia serius.



Namun lokasi pabrik, disebut gambit berada di Dusun Sukomulyo, Desa Blimbing. Lokasi bangunan utama seluruhnya telah berubah menjadi permukiman warga. Sementara bangunan pendukung, kini telah berubah menjadi kantor desa dan puskesmas.


“Jadi Kantor Desa Blimbing dan Puskesmas Blimbing dulu emplasemennya, tempat parkir lori. Kalau bangunan utama di sisi selatan jalan,” tambahnya.


Tak banyak sisa bangunan pabrik gula yang ada. Satu-satunya pondasi yang masih bertahan adalah bangunan ketel pabrik yang kini tinggal bagian bawah. Reruntuhan ini berada di lahan kosong milik warga.


“Reruntuhan ini hingga sekarang masih ada dan tidak bisa dihancurkan, karena kuat dan pondasi sangat keras,” pungkas Handi.


Editor : Rojiful Mamduh