JOMBANG – Proyek konstruksi pagupon rumah burung hantu (rubuha) di Dinas Pertanian yang saat ini masuk tahap pengiriman barang, terus menuai sorotan.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur menyebut pagupon harus bisa memberi rasa nyaman untuk burung hantu. Sebab burung hantu memiliki karakteristik cukup jauh dibanding burung lainnya.
”Burung hantu tidak suka sinar matahari dan tidak suka panas. Jadi kandangnya harus nyaman,” kata Hartojo, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jatim kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (14/12).
Selain itu, dalam membangun rubuha juga harus memperhatikan fungsinya. Hanya sebagai rumah singgah, atau justru sebagai tempat tinggal burung hantu jantan, betina, beserta anak-anaknya.
Pihaknya menjelaskan, burung hantu yang memiliki nama lain Tyto Alba adalah jenis satwa nocturnal atau berhubungan dengan malam hari. ”Sampai sekarang belum ada penelitian mengenai spesifikasi baku pagupon burung hantu.
Tapi karena burung hantu ini hewan nocturnal, kandangnya berbeda dengan burung lainnya,” tambahnya.
Soal pagupon burung hantu yang saat ini dibeli Disperta, Hartojo mengaku tak bisa mengomentari. Namun yang ia tahu, beberapa daerah di Jawa Tengah ada yang menggunakan kawat untuk penangkaran.
”Kalau untuk paguponnya, yang penting itu fungsinya sebagai apa. Rumah singgah saja, atau tempat tinggal,” pungkasnya.
Sementara itu Kasi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan BBKSDA Jawa Timur Nur Rohman menambahkan, hingga saat ini pihaknya belum pernah melakukan riset mengenai populasi burung hantu yang masih tersisa.
Khususnya di Kabupaten Jombang, yang secara administrasi masuk Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Kediri. ”Kami belum pernah riset jumlah burung hantu,” jelasnya.
Editor : Rojiful Mamduh