Kerajinan anyaman bambu sudah dilakukan warga Dusun Tulungrejo, Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito sejak puluhan tahun silam. Hingga kini, kerajinan itu tetap eksis di tengah gempuran produk plastik dari pabrik.
AINUL HAFIDZ, Sumobito
MELINTASI Dusun Tulungrejo, bakal melihat tumpukan bambu yang sudah dipotong tipis. Tak sedikit, hasil anyaman setengah atau yang sudah jadi, terpampang di teras atau halaman rumah warga.
Ya, di dusun ini dikenal sentra anyaman bambu. Hasil kerajinan tangan warga dilakukan turun temurun dari nenek moyang mereka. Bentuknya beragam mulai dari kaluh, tomblok, besek, wakul, kukusan dan semacamnya. Mayoritas perabot dapur dan perlengkapan rumah tangga.
Seluruhnya terbuat dari bambu yang dianyam dan dibentuk sedemikian rupa. Tak heran, banyak bambu yang dipotong tipis itu terpampang di rumah-rumah warga. ’’Kalau saya sudah lama, pokoknya nenek saya dulu sudah buat,’’ kata Sumiar, salah seorang perajin anyaman bambu mengawali perbincangan dengan koran ini.
Lelaki berusia 58 tahun ini lantas menceritakan, sejak usia 10 tahun, dirinya sudah belajar menganyam. ’’Mungkin saya ini puluhan tahun, soalnya waktu kecil sudah diajari cara menganyam,’’ imbuh dia. Aktivitas itupun dijalani warga lain yang seusia dengan dirinya.
’’Mungkin sudah warisan nenek moyang, jadi semua bisa buat anyaman bambu,’’ tambahnya sambil tertawa. Dia menyebut, anyaman yang dia buat adalah kaluh. Dibantu sang istri Suryani, dalam sehari biiasanya dia bisa membuat 10 hingga 11 kaluh.
’’Bambunya beli, lalu dipotong sesuai ukuan, baru kemudian dipotong tipis. Setelah itu dijemur terlebih dahulu,’’ terang Sumiar. Sembari menunjukkan potongan bambu, dia mengaku butuh waktu tiga hari untuk proses penjemuran. Tujuannya, agar bambu benar-benar kering dan tak mudah jamuran. ’’Bambu baru dianyam dan dibentuk menjadi lembaran persegi,’’ terangnya lagi.
Dengan cekatan, tangan Sumiar menganyam setiap potongan bambu tipis itu menjadi kaluh. ’’Setelah dibentuk baru ditambahkan penguat di pinggir anyaman,’’ sebut dia. Sejauh ini, hasil anyamannya tetap terjual karena memang sudah ada pengepul yang datang mengambil.
Seminggu sekali, para pengepul itu datang untuk mengambil produk anyaman bambu. Anyaman bambu itu kemudian dijual ke beberapa daerah di Jawa Timur. ’’Seminggu bisa buat rata-rata 100 kaluh, untuk harga Rp 5.000 perbiji,’’ pungkas Sumiar.
Editor : Rojiful Mamduh