KECAMATAN Peterongan juga pernah memiliki sejarah kepemilikan pabrik gula di era kolonial Belanda. Pabrik gula ini berdiri di jantung Kecamatan Peterongan. Pasca kemerdekaan, tak banyak yang tersisa dari pabrik ini selain pondasi bangunan dan menara air.
Dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang dari buku Siukerlord 1886 milik Belanda, Suker Fabriek (SF) Peterongan berdiri 1872. Pabrik ini dimiliki Cultuur Maatschappij Peterongan. Sempat juga tercatat dimiliki M Dieffenbach, G Lebret dan DJ Jut. Sedangkan administraturnya, JJ Van Delden.
Tak banyak data yang menyebutkan bagaimana operasional pabrik ini. Beberapa foto yang ditemukan, hanya menggambarkan sebuah cerobong besar di belakang pabrik. Ciri khas cerobongnya bercincin delapan. Cerobong pabrik ini sempat diperbarui 1900 dengan tanda tahun di bagian bawah.
Seperti banyak pabrik gula di Jombang, pabrik ini akhirnya ikut dihancurkan saat Indonesia Merdeka setelah tahun 1945. Lahan bekas pabrik, sempat dibagikan kepada warga saat land reform 1960. “Kalau lahannya sekarang membentang dari Polsek Peterongan ke barat sampai rel kereta api,” terang Ali Muzaki Kepala Desa Peterongan.
Seluruh lahan bekas pabrik gula disebutnya telah berubah fungsi. Mulai Mapolsek Peterongan, Koramil Peterongan, SDN Peterongan 1, UPT Pengairan, Balai Desa Peterongan hingga seluruh pemukiman warga. Ia menyebut, seluruh lahan pabrik gula Peterongan berada di Dusun Wonokerto, baik Wonokerto utara maupun Wonokerto selatan.
“Dua dusun ini dibelah jalan, begitupun fungsinya dulu, yang sebelah utara bangunan utama pabrik. Dan yang sebelah selatan jadi rumah pejabat, tapi sudah jadi pemukiman sekarang,” lontar Zaky. Hingga kini, yang tersisa dari pabrik gula hanyalah sejumlah pondasi tebal dan keras yang menyebar di lahan pemukiman warga. Selain itu, ada juga menara air yang lokasinya tepat di selatan jembatan layang Peterongan.
“Seperti juga di bekas pabrik gula Mojoagung, water torren itu fungsinya untuk suplai air dalam pabrik, selain juga untuk rumah-rumah pejabat Belanda,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh