JOMBANG – Grandong masih menjadi hama yang menghantui para petani bawang merah di Jombang.
Sebab, hama jenis ini kerap muncul di musim penghujan, saat menjelang panen bawang merah. Saat ini bawang merah yang dipelajarinya sudah berumur 1,5 bulan.
“Grandong biasanya datang 20 hari menjelang panen, jadinya takut. Tapi mudah-mudahan tidak,” ungkap Kasiran, salah satu petani bawang merah di Desa Sumberejo, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, kemarin (3/12). Tingginya curah hujan menurut dia juga akan menjadikan tanaman bawang merah sulit berkembang.
Apalagi jika hama grandong datang, tanaman bawang merah menurutnya bisa mati. Ia menyebut, jika sampai gagal panen, maka petani yang harus siap menanggung kerugian puluhan juta rupiah.
Sebab, serangan hama jelas berpengaruh pada kuantitas dan kualitas bawang merah. “Hewan itu bentuknya seperti lalat,” ujar dia.
Berbeda dengan tanaman seperti padi, menurutnya penyebaran penyakit pada bawang merah berlangsung sangat cepat. “Jika dibiarkan terus, maka semua tanaman akan mati. Bahkan tanaman sudah disemprot dengan obat pun, grandong tetap saja menyerang,” imbuhnya.
Ia menyebut, selama masa tanam bawang merah, modal yang dikeluarkannya tidak kecil. Paling banyak modal keluar untuk membeli bibit yang harganya mencapai Rp 30-50 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitas. “Untuk beli bibit saja, harus menyiapkan Rp 10 juta lebih,” tambah dia.
Selain itu, pihaknya juga mengeluarkan modal untuk beli pupuk, obat-obatan, dan membayar upah buruh tani yang menanam dan merawat tanaman bawang merah. “Kalau ditotal, seluruh modal bisa Rp 20 juta.
Setiap musim tanam bawang merah datang, biasanya ya jual barang-barang di rumah,” ujar Kasiran.
Karena itulah dirinya memastikan modal yang sudah dikeluarkan tak bisa kembali. Padahal jika bawang merah hasil panen punya kualitas bagus, bisa ditebas tengkulak hingga Rp 30-40 juta perkilogram. “Apalagi saat panen, tidak ada tengkulak yang mau beli,” terang Kasiran.
Editor : Rojiful Mamduh