PABRIK gula ini berlokasi di utara brantas yang kini masuk Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso. SF Ngelom, tak saja jadi bangunan perusahaan gula. Keberadaannya sempat jadi saksi banyak sejarah perjuangan. Sayang, nyaris tak ada yang tersisa dari bangunan lama ini.
Dari data yang ditemukan, pabrik gula ini berdiri sejak 1891. Awalnya, pabrik ini dimiliki Fraser Eaton & Co dengan administraturnya CJG van Deun. Dari beberapa foto yang ada, pabrik ini berlokasi di area cukup luas di sebelah barat jembatan rel kereta api milik Belanda.
Foto paling tua ditemukan berangka 1910, memperlihatkan pabrik yang memiliki sebuah cerobong besar dan tiga gudang di bawahnya. Sementara di foto yang diambil 1920, terlihat gudang sudah bertambah menjadi empat bagian. Bahkan setengah cerobong sudah masuk ke dalam gudang.
Untuk melancarkan distribusi bahan baku dan hasil usaha. Selain didukung dengan keberadaan jembatan jalan raya, juga terdapat jalur kereta api jurusan Babat-Jombang.
Ada pula jembatan khusus untuk melintas lori pengangkut tebu. Jembatan lori ini melintas di Dusun Kleco, Desa Tanggungkramat, Kecamatan Ploso untuk sisi utara Brantas. Sedangkan di sisi selatan masuk Dusun Bungkil, Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh.
Tak banyak data kapan pabrik gula ini berdiri. Namun dari foto yang diambil Desember 1945, pabrik terlihat sudah luluh lantak dan hanya menyisakan bagian cerobong. “Yang saya tahu sekitar 1950-an malah tinggal puing-puing kecil, tanahnya sudah rata jadi tanah bero (tanah tak terpakai, Red),” terang Kepala Desa Rejoagung Sugeng.
Penjarahan warga ke sisa bangunan pabrik gula, disebut juga cukup masif. Mulai bagian bata hingga pondasi bangunan. Ia menyebut, dulu diambil warga untuk dijual lantaran ekonomi terbatas.
“Yang jelas, wilayah eks pabrik gula itu sekarang ada di Dusun Kopensari, bentuknya sudah berubah jadi KUD, PDAM, Rumah Sakit, bangunan sekolah hingga gedung balai desa,” tambahnya.
Beberapa bangunan yang tersisa, bisa dilihat di sudut utara simpang empat Dusun Kopensari. Sebuah bangunan kubus berpintu dua ini berdinding tebal layaknya tangsi Belanda. Sugeng dan warga setempat meyakini bangunan ini adalah salah satu bekas cerobong atau saluran air.
“Ada juga dua buah rumah tua yang diduga dulu tempat tinggal pembesar pabrik gula, lokasinya di sebelah barat, sekarang jadi lahan milik Dinas Pertanian Provinsi Jatim,” lanjut Sugeng.
Pada masa perang Kemerdekaan 1945-1949, kompleks pabrik gula Ngelom pernah menjadi benteng terakhir pasukan TNI saat menahan gempuran Marinir Belanda.
Tak lama setelah pecah Agresi Militer Belanda ke-2 pada pertengahan Desember 1948, pasukan TNI yang tergabung dalam Batalyon Darmosugondo dan Batalyon Munasir (Hizbullah) mendapat tugas untuk mempertahankan front sektor utara Brantas.
“Saat itu, pabrik ini pernah digunakan untuk pertahanan terakhir, sebelum para pejuang juga meledakkan jalur kereta yang melintang di sungai Brantas,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh