Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Masjid Baiturrohman Pagerwojo Perak, Berdiri Sejak Abad 18

Rojiful Mamduh • Jumat, 13 November 2020 | 15:38 WIB
Masjid Baiturrohman Pagerwojo, Perak, termasuk tertua di Jombang. Dita
Masjid Baiturrohman Pagerwojo, Perak, termasuk tertua di Jombang. Dita


JOMBANG – Masjid Baiturrohman Pagerwojo, Perak, termasuk tertua di Jombang. Ditandai adanya makam Sayyid Abdurrohman yang diyakini sebagai pendiri masjid. ’’Yang pasti masjid ini sudah ada sejak zaman Sayyid Abdurrohman. Masjidnya dibangun, lalu beliau dimakamkan di sebelahnya,’’ kata Irsyad, 65, juru kunci makam Sayyid Abdurrohman (11/11).



Posisi makam tepat di balik pengimaman. Untuk menuju makam, harus melewati sisi selatan masjid. Melewati jalan antara masjid dan tempat wudu. Sebelum sampai di makam Sayyid Abdurrohman, lebih dulu melewati dua makam pendereknya; Syekh Muhyiddin dan Khidlir Mujau Wali. Makam Sayyid Abdurrohman berada di bangunan khusus. Di luarnya ada makam Mbah Baidlowi atau Mbah Bolawi, juru kunci pertama.



’’Sayyid Abdurrohman ini kakaknya Sayyid Sulaiman Betek Mojoagung,’’ tambah Irsyad. Sayyid Sulaiman wafat pada 17 Rabiul Awal 1193 H atau 24 Maret 1780 M. Ini berarti Sayyid Abdurrohman hidup di abad 18. Dan Masjid Baiturrohman Pagerwojo juga dibangun abad 18.



’’Cuma pastinya tahun berapa saya tidak tahu. Karena di masjid dan makam Sayyid Abdurrohman juga tidak ada tulisan tahun lahir maupun wafatnya,’’ urainya. Namun dia masih ingat jika dulunya Masjid Baiturrohman terbuat dari kayu jati. ’’Sebelum tahun 1961, bangunan masjid ini masih berupa kayu jati,’’ ucapnya. Baru setelah itu masjid direhab menjadi bangunan permanen.



Awalnya, sekitar tahun 1970, masjid kembali direhab dengan dibangun dua lanta. ’’Lantai atas untuk madrasah,’’ jelas dia. Namun hal itu dikritik oleh KH Ismail Mojokerto (alm) yang terkenal wali. ’’Di bawah ada makam wali kok angkruk-angkruk di atasnya,’’ ucap Irsyad menirukan nasehat Kiai Ismail.



Akhirnya, bangunan lantai dua itu pun ditiadakan. Hingga saat ini, masjid sudah beberapa kali direhab. ’’Tahun 1990, 2000 dan terakhir kemarin 2018,’’ paparnya.Rehab terakhir membangun gapuro megah di depan masjid. Ruang kantor di halaman depan masjid sisi selatan. Serta memasang AC dan granit di bangunan utama. ’’Luas masjid ini 25 x 25 meter,’’ terangnya.



Bagian utama yang digranit ukuran 5 x25 meter. Sedangkan serambi masjid 20 x 25 meter. Dari sisi arsitektur, bentuk masjid Baiturrohman khas seperti masjid di makam para wali. Atapnya limas dengan tiga tingkat. Maknanya, menggambarkan Islam, iman dan ihsan.



Tuanya Masjid Baiturrohman juga bisa dilihat dari peninggalannya. Masih ada gentong batu yang dulu dipakai wudu dengan satu pancuran. Kini, gentong batu itu ditaruh halaman masjid. ’’Untuk mindahnya dulu orang 12 mengangkat tidak kuat, jadi harus diseret,’’ papar Irsyad.



Juga ada bencet atau tiang pendek untuk melihat waktu salat berdasarkan sinar matahari. Jika bayangan sudah geser ke timur, berarti masuk waktu Duhur. Jika tinggi bayangan sudah sama dengan bendanya, berarti sudah masuk waktu Asar. (jif/bin)



Editor : Rojiful Mamduh