SALAH satu warung jadul yang masih eksis hingga kini adalah Es Dawet Ngeledok, di Desa Mojokrapak. Warung ini, telah eksis sejak tahun 1950 silam, dan tetap mempertahankan sajian utamanya yakni dawet.
Lokasi warung sangat mudah diakses, berada di pinggir Jl Raya Mojokrapak. Lokasi warung berada tepat di samping gapura masuk wilayah Jombang di Desa Mojokrapak.
Bangunannya tanpa pintu maupun jendela, dengan atap seng dan dinding dari bambu. Tak ada nama khusus di warung ini. Pemilik hanya memasang tulisan Es Dawet Ngeledok di depan warung yang sekaligus berfungsi sebagai penutup depan.
“Sejak 1950, dari mbah buyut saya dulu namanya cuma dawet Ngeledok, karena lokasi jualannya di Dusun Ngeledok, Desa Mojokrapak,” terang Emi Andriani, 38, pemilik warung.
Ia sendiri generasi ketiga. Sejak pertama berdiri, Emi menyebut menu warung juga tak pernah berubah. Hanya es dawet. Es dawet ini disajikan di mangkok keramik kecil dengan campuran bubur sumsum, agar-agar, baru disiram dengan cairan gula merah dan santan.
Disampaikan, seluruh bagian dawet dibuat sendiri dengan resep turun temurun. Hal ini yang membuat rasa es dawet tetap terjaga. “Mulai dawet, bubur sampai juruh (santan, Red) dibuat sendiri, tidak ada yang instan,” lanjutnya.
Selain menikmati es dawet, pengunjung juga bisa menikmati aneka gorengan seperti tahu goreng, pisang goreng dan cucur. Harganya pun sangat murah. Hanya Rp 4.000 per mangkok bubur dan Rp 1.000 untuk satu gorengan.
Suasana warung yang masih asri dan berada di pinggir sawah, bakal membuat nyaman pengunjung. Namun, karena warung ini cukup kecil, maka pengunjung harus mau bergiliran. “Buka mulai pukul 08.30 sampai 16.00,” pungkas dia. (riz/bin)
Editor : Rojiful Mamduh