Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ekspedisi Pabrik Gula Peninggalan Kolonial di Jombang

Rojiful Mamduh • Minggu, 8 November 2020 | 16:30 WIB
PG Djombang Baru tercatat pabrik gula paling awal yang ada di Jombang. Ini adalah salah satu sisa bangunan kuno yang masih bisa disaksikan.
PG Djombang Baru tercatat pabrik gula paling awal yang ada di Jombang. Ini adalah salah satu sisa bangunan kuno yang masih bisa disaksikan.

PG Djombang Baru tercatat pabrik gula paling awal yang ada di Jombang. Sempat beberapa kali mengalami perubahan kepemilikan dan nama, hingga kini pabrik masih eksis produksi gula.


Sejumlah mesin lama juga masih dipergunakan sampai sekarang. Dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang, pabrik gula ini dibuka sejak 1836 dengan pemilik pertama Moorman en Co dan administrator IF M Stuckij, a.


Data ini tertulis di Regleringsalmanak Voor Nederlandsch- Indie (almanak milik pemerintah Hindia Belanda) 1898. Lokasi pabrik, juga terbaca pada peta Pemerintah Hindia Belanda 1884.


Di dalam peta, namanya masih Suiker Fabriek (SF) Djombang. Hingga tahun 1895, pabrik ini berubah nama menjadi SF Djombang Baru, dengan pemilik baru Ememaet en Co hingga Indonesia Merdeka.


Di tahun 1963, PG Djombang Baru tercatat ikut dalam program nasionalisasi perusahaan Belanda oleh Pemerintah Indonesia. “Sempat ikut dalam Pusat Perkebunan Nusantara, sempat juga di Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XXII, hingga saat ini dibawah PTPN X,” terang Seno Widyatmoko Asisten Manager SDM dan Umum PG Djombang Baru.


Dia menyebut manajemen perusahaannya menerapkan sistem cukup unik dalam perawatan dan penggunaan mesin. PG Djombang Baru mengawinkan sistem giling dan mesin lama dengan modern.


“Jadi hanya sedikit yang baru, lebih banyak pakai mesin peninggalan Belanda, begitupun bangunannya,” lanjut dia. Sebagaimana bisa dilihat pada roda gila sebagai ciri khas mesin tua. Dari lima roda gila yang ada itu disampaikan ada empat roda gila yang masih dipertahankan dan berfungsi normal.


“Begitupun bagian ketel uap sebagai pembangkit, seluruhnya masih berfungsi, kendati harus dibantu dengan diesel sebagai penguat,” tambahnya. Jika dilihat dari sisi bangunan, sejumlah tembok di dalam PG Djombang Baru masih bergaya Eropa.


Tembok tebal dengan pilar besar dan jendela lebar tinggi, nyaris mengelilingi seluruh kompleks pabrik. “Paling kentara di bagian gudang, dalam pabrik, juga rumah dinas. Semua asli bangunan kolonial. Perubahan hanya di genting dan keramik yang rusak. Begitu juga lori,” pungkasnya. (riz/bin)


 


 


 

Editor : Rojiful Mamduh