NAMA Siti Masitoh, daiah alias penceramah asal Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang mulai dikenal masyarakat luas. Ceramahnya juga acapkali diunggah di Youtube.
Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bonang ini sering diundang untuk mengisi pengajian di berbagai kota. Siti Masitoh lahir 12 Juni 1978 dari pasangan KH Abdul Djalal dengan Hj Siti Kholifah pendiri Ponpes Sunan Bonang Mojojejer.
Sebagai anak tokoh agama, sejak kecil ia mendapat bimbingan langsung dari sang ayah. ”Sejak umur 2 tahun, sebelum berangkat sekolah, saya selalu diminta menirukan ayah dan ibu qiroah.
Waktu itu Surat Al Wakiah,’’ tuturnya, kemarin. Selain itu, ia sering ikut ayahnya menghadiri berbagai undangan dakwah di sejumlah tempat. Baik kegiatan tariqah, muslimat, majelis taklim dan kegiatan keagamaan lain. Padahal, pendidikannya diawali di Madrasah Ibtidaiyah Al Maunah Mojojejer 1989. Kemudian berlanjut ke MTs Najatud Daroini Gedangan Mojowarno 1993 dan MA Perguruan Mualimat Cukir.
”Tahun 1997 dari MA PM, saya diminta mengajar di MTs Perguruan Mualimat, jadi sekolah sambil mengajar,’’ kenangnya. Kebiasaan qiroah sejak kecil itulah mengantarkan dirinya sangat pandai melantunkan ayat suci Alquran.
Ia bahkan pernah menjuarai Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional selama dua kali. Mewakili Sumatera (1996) dan Jakarta (1998). ”Alhamdulilah, awalnya mengikuti seleksi tingkat kecamatan, kemudian lolos tingkat kabupaten.
Dan seterusnya sampai akhirnya menjadi juara di tingkat nasional,’’ jelas dia. Tak hanya MTQ, sejak kecil Siti seringkali menjuari berbagai MTQ mulai tingkat kabupaten dan regional, baik yang diselenggarakan perusahaan swasta maupun Kementerian Agama.
”Namun 1998, ayah meminta saya fokus sekolah dulu. Sehingga segala macam lomba saya hentikan,’’ tambahnya. Setelah lulus dari MA Perguruan Mualimat Cukir, ibu tiga anak ini melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Hasyim Asy’ari mengambil PAI dan lulus 2001.
Masih di kampus yang sama, ia merampungkan pendidikan pascasarjana dengan mengambil program Managemen Pendidikan dan lulus 2008. Berbekal bekal yang ditanamkan kedua orangtuanya dan ilmu yang didapatkan di bangku sekolah maupun perguruan tinggi itulah yang mengantarkan dirinya menjadi seorang daiyah sampai sekarang.
Selain mengasuh santri di Ponpes Sunan Bonang. ”Sebelum pandemi sehari bisa empat sampai lima tempat,’’ paparnya. Selain di Jombang, perempuan yang akrab disapa Bu Nyai Siti ini sering diminta menghadiri pengajian di beberapa kota di Jawa Timur.
Dia menikah dengan Nasihun Amin 2001 dan dikaruniai tiga anak. Pertama, Putri Mazidatun Najicha Annasit, Aniqoh Amin Qonita Miladia dan Miftahul Rochma (almarhum).
Selain mengisi kegiatan kegamaan, Siti juga pernah aktif di dunia politik sebagai Wakil Sekretraris DPC PPP 2004, Wakil Bendahara Umum DPC PPP 2009 dan 2014. ”Saya bergabung di partai politik tetap sesuai tujuan awal, yakni berjuang untuk umat,’’ pungkasnya. (ang/bin)
Editor : Rojiful Mamduh