Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Olah Kardus Bekas Jadi Kotak Hajatan

Rojiful Mamduh • Minggu, 8 November 2020 | 17:05 WIB
Belakangan ini, Agus Tono, selalu sibuk di belakang rumahnya.
Belakangan ini, Agus Tono, selalu sibuk di belakang rumahnya.

Belakangan ini, Agus Tono, selalu sibuk di belakang rumahnya. Bukan untuk bersantai, namun ia memotong kardus-kardus bekas yang akan  disulap menjadi kotak box hajatan. Selain nasi, kotak box itu bisa digunakan untuk snack dan kue, lengkap dengan tali yang didesain seperti tas.



WENNY ROSALINA, Ngoro



”SAAT ini sedang ramai pesanan, tapi tidak seramai dulu, sedang-sedang saja, Alhamdulillah,” ucapnya mengawali perbincangan dengan koran ini kemarin. Rumahnya yang berada di Dusun Gandan, Desa Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang tampak teduh.


Maklum, lokasinya memang berada di pinggir sawah dan dibawah pepohonan yang rindang. Di luar rumah, banyak tumpukan kardus yang siap diambil tetangga. Sementara di dalam rumah, penuh dengan kotak box hajatan dan hantaran siap dipasarkan.


Sementara di samping rumah, ada mobil pikap yang digunakan untuk mengangkut pesanan ke berbagai tujuan.  Di belakang rumahnya, tampak tumpukan kardus yang siap dipotong, lengkap dengan alat pemotong besar.


Beserta kursi untuk tempat duduk pekerja yang bertugas memotong kardus. ”Maaf berantakan, ya beginilah tempat saya memotong kardus bekas,” ungkapnya sembari mencari celah jalan untuk menuju ke tempat pemotong kardus.


Ya, Agus menekuni usaha kotak box hajatan sejak lama. Kini, kotak box untuk tempat nasi dan kue itu banyak dipesan karena lebih praktis. Satu wadah bisa dijadikan untuk tempat nasi sekaligus kue dan souvenir. Lengkap dengan tali yang bisa dijinjing. Sehingga tak lagi memerlukan plastik untuk membawa pulang box berkat tersebut.


Ia dan istrinya, Lilik Umu Khustiah sebenarnya bekerja di Surabaya. Pada 2010 memutuskan pindah ke Jombang meski harus menjadi pengangguran karena tak punya penghasilan.


”Sampai ibaratnya ingin merokok saja, saya tidak bisa,” ceritanya. Kemudian ia mendapat ide untuk berjualan es keliling. Es dalam kemasan gelas plastik itu dibekukan, kemudian dipotong menjadi dua. Es tersebut kemudian dijual ke sekolah-sekolah.


Usaha itu berjalan beberapa tahun hingga kardus bekas minuman yang ia jual menumpuk di gudang rumahnya. Lalu terbersit pikiran untuk mengolah kardus itu menjadi barang yang bisa dijual. Dibuatlah kotak untuk hantaran lamaran.


Mulanya, kadus hantaran itu dipasarkan dari toko ke toko. ”Tidak mudah, dua tahun pertama saya buat kotak ini sangat sepi. Saya taruh contoh di toko untuk dipesan, tapi tidak ada yang pesan,” kenang dia.


Keduanya tak patah semangat. Sambil terus berusaha, ia berinovasi membuat kotak susun yang bisa digunakan untuk wadah nasi sekaligus kue hajatan. Hasil kotak susun ini kemudian dipasarkan pada salah satu toko perlengkapan kue yang cukup besar. Hingga pesanan yang didapat berangsur naik.


”Saya terinspirasi dari Malang, di Malang kotak susun ini sangat laris. Saya coba di sini, Alhamdulillah pelan tapi pasti,” tambah ayah tiga anak ini. Lambat laun, hasil kreasi kardus bekas semakin dikenal konsumen.


Usahanya semakin laris ketika masuk 2015. Peralatan mesin potong manual cutter, kemudian ditinggalkan. Ia memilih menggunakan alat potong yang lebih besar dan hasilnya lebih cepat.


Jika semula disusun sendiri, kini sudah bisa memberi tambahan penghasilan untuk tetangga. Keduanya mempekerjakan siapa saja yang mau bekerja.


”Karena kalau dikerjakan sendiri nggak ngatasi, pesanan kadang sampai ribuan, jadi Alhamdulillah dibantu tetangga,” tambah dia. Sehingga potongan kardus yang sudah selesai, diambil oleh para tetangga. Jika rumahnya terlalu jauh, maka potongan kardus tersebut bisa ia antar.


Kardus itu kemudian dilapisi lem, yang kemudian ditempel dengan kertas kado dengan berbagai motif. Setelah selesai, kotak box nasi kembali dikirim ke rumah Agus.


Untuk motif, ia cenderung tidak lagi menggunakan motif lama sebagaimana yang dijual di toko-toko. Ia sengaja membuat dengan jumlah terbatas dengan berbagai motif cerah, agar tidak bosan dilihat.  Ukuran yang diguanakan bermacam-macam dengan harga yang beragam pula.


Agus lantas menyebut kotak box ukuran 18x20 ia jual dengan harga Rp 2.700. Ukuran 20x20 dijual dengan harga Rp 2.900, ukuran 22x22 Rp 3.200, dan ukuran 28x28 Rp 3.500. ”Yang pakai renda biasanya lebih mahal, 28x28 kalau pakai renda Rp 8.500,” tambahnya.


Dalam beberapa tahun terakhir, kotak box hajatan kreasinya mulai banyak yang dibuat oleh orang lain. Ia pun menanggapi dengan santai. Baginya, kualitas lebih diutamakan dalam mempertahankan pelanggan setia.


”Rejeki sudah ada jalannya sendiri-sendiri, saya pertahankan kualitas, bisa dibandingkan. Tutup kotak itu bisa dibuat dari plastik yang tidak mudah jebol. “Kotak yang saya buat juga kokoh, karena saya pakai kardus yang bagus,” tambah Agus.


Setelah kurang lebih delapan bulan libur karena ada pandemi, kini ia mulai banyak mendapat pesana. Aktivitas itupun dijalaninya kembali dengan rasa syukur. ”Alhamdulillah pesanan lumayan ramai, tapi masih belum seramai tahun lalu. mungkin juga masih Covid-19, jadi belum banyak hajatan” pungkasnya. (bin)


 


 

Editor : Rojiful Mamduh