JOMBANG - Jajanan pasar tidak hanya bisa ditemui pagi hari. Di Jalan Kusuma Bangsa, Dusun Pulo Tawangsari, Desa Pulolor, Kecamatan/Kabupaten Jombang, ada yang jual putu, klepon hingga getuk lindri malam hari.
Bentuknya sebuah kios permanen kecil yang berdiri di depan rumah di pinggir jalan. Warung ini hanya diisi sebuah gerobak sederhana dan meja di belakangnya. Di dalam gerobak, terlihat tumpukan klepon dan getuk lindri. Sementara putu, dibuat langsung pada sebuah tungku uap di sisi utara.
’’Jualannya sudah sejak 1994, dulu di utara klenteng, kemudian 2010 pindah ke sini,” terang Marjuki, 54, pemilik warung. Sejak dulu, dagangan di warung miliknya ini tak berubah. Hanya tiga camilan jadul yakni klepon, putu dan getuk lindri.
Ia pun mengaku tak pernah mengubah rasa dan resep yang ada. Sejak diwariskan Warilah, sang ibu, seluruh jajanan jadul ini tetap dibuat sesuai resep awal dan tak pernah diubah komposisinya hingga sekarang. ’’Original semua, tiak ada yang diubah baik rasa maupun varian,” lanjutnya.
Jajanan yang dibuatnya ini juga dijamin fresh. Selalu baru setiap hari. Proses produksi dilakukan di belakang warung yang juga kediamannya sendiri. ’’Pukul 16.00 dibawa ke depan untuk dijual, malah kalau putu memasaknya waktu mau dibeli pelanggan, jadi lebih fresh,” tambahnya.
Untuk menikmati jajanan jadul di tempatnya, Marjuki tidak mematok harga mahal. Cukup merakyat dengan Rp 12.500 per paket yang berisi 10 jajan. Pembeli juga bisa menentukan sendiri harganya, menyesuaikan kemampuan. ’’Tidak harus sepaket, tapi yang jelas ya itu harganya,” tambah dia lagi.
Setiap hari, warung yang buka sejak pukul 16.00 hingga 21.00 itu tak pernah sepi. Pelanggan silih berganti datang dan pergi. Hanya saja, seluruh pembelinya tak akan bisa menikmati jajanan di tempat. Marjuki memang tak menyediakan banyak tempat untuk istirahat, juga tak ada menu minuman. ’’Jadi ya lebih banyak dibawa pulang, seluruhnya dibungkus,” pungkas Marjuki. (riz/bin/jif)
Editor : Rojiful Mamduh