JOMBANG tercatat pernah punya 13 pabrik gula yang tersebar di beberapa wilayah. Salah satunya Pabrik Gula Tjoekir di Kecamatan Diwek. Pabrik gula ini telah eksis dan berproduksi sejak 1884 silam.
Pabrik Gula Tjoekir didirikan NV Kody En Van Vour tahun 1884 dengan nama awal Suikerfabriek Tjoekir. Seperti namanya, sejak didirikan pabrik ini bertugas untuk menghimpun tanaman tebu yang ada di sekitar Cukir untuk digiling dan diproses menjadi gula. “Sejak dibangun, pabrik ini terus eksis sampai dengan perang dunia II,” terang M Choiron Syakur Manager keuangan & Umum PG Tjoekir.
Dari foto yang ada, bangunan awal pabrik ini berbentuk gedung besar berbahan tembok tebal dengan atap seng. Pada tembok depan, tertulis “SUIKERFABRIEK TJOEKIR” di bagian atas. Pada tembok sisi kiri dan kanan, tertulis 1884, tahun pembangunan dan 1908 yang diartikan sebagai masa foto itu berasal. Di depan pabrik, juga terlihat sejumlah jalur rel untuk lalu lalang lori.
PG Tjoekir juga beberapa kali renovasi. Choiron menyebut, sempat dilakukan renovasi 1925 pada beberapa bagian pabrik. “Rehabilitasi pabrik itu ditujukan peningkatan kapasitas produksi, dengan mengganti beberapa instalasi pabrik,” tambahnya.
Wajah pabrik pun berubah. Bagian depan pabrik terbangun instalasi gedung tambahan yang jadi jalan masuknya tebu ke dalam pabrik. Selanjutnya, perbaikan dilakukan tahun-tahun berikutnya hingga Indonesia merdeka.
Revitaslisasi juga sempat dilakukan dengan merombak semua penggerak gilingan dari turbin uap menjadi electromotor. Serta penambahan kapasitas Turbin Alternator. “Jadi sekarang semua sudah memakai peralatan modern, tidak lagi pakai mesin kuno,” imbuhnya.
Pabrik ini mulai diambil alih Pemerintah Indonesia pada 8 Desember 1958. Setelah melalui serangkaian perubahan, berdasar sejumlah aturan, PG Tjoekir kini bagian dari PT Perkebunan Nusantara X. “Sebagai salah satu BUMN, kita masih berupaya meningkatkan produksi dan menyejahterakan petani tebu yang jadi mitra,” pungkas dia. (riz/bin)
Editor : Rojiful Mamduh