JOMBANG – Masjid Al Falah di Dusun Parimono, Desa Plandi, Kecamatan/Kabupaten Jombang termasuk masjid tua. Masjid ini dibangun sejak sebelum Indonesia Merdeka. ’’Masjid ini dibangun sekitar 1930,’’ kata Hariono, salah satu takmir, Kamis (29/10/2020).
Awalnya, masjid terbuat dari bambu. Hingga sekarang ini, masjid sudah direnovasi beberapa kali. ’’Pendirinya H Sayuti,’’ jelasnya.
Dulunya merupakan musala yang seluruh bangunannya terbuat dari bambu. Baik dinding maupun tempat khusus imam. Hanya tiang saja dari kayu. ’’Dulu langgar biasa, belum ada yang pakai batu bata. Baru waktu direhab total itu sudah berubah jadi begini,’’ imbuh lelaki kelahiran 1970 ini.
Kendati begitu, ada beberapa bagian saja yang sampai sekarang masih tersisa. Yakni, sebuah sumur yang berada di samping masjid. Selain itu, ada bulatan seperti kubah kecil yang berada di depan, dan sebuah jam istiwa yang menandai waktu salat duhur.
’’Waktu saya masih kecil itu dinding samping batu bata separo, atasnya masih kayu. Baru sekitar 1980 direhab, dan setahun yang lalu direhab total mulai dari nol akirnya jadi seperti ini,’’ bebernya.
Tak hanya itu, pendiri masjid juga dimakamkan tak jauh dari area masjid. Di batu nisan tertulis wafat 1941. ’’Jadi yang meneruskan setelah Pak Haji Sayuti meninggal itu anaknya Pak Chudori Sayuti. Saya menangi Pak Chudori,’’ terang pria yang akrab disapa Hari ini.
Rumah pendiri masjid itu pun sampai sekarang masih dibiarkan apa adanya. Yakni berada di depan halaman masjid. Terbuat dari kayu dan gedek bambu. ’’Rumah ini juga tua, karena dari dulu sampai sekarang belum pernah diperbaiki. Sejak saya kecil ya masih begitu,’’ papar dia.
Sementara lokasi sumur berada di area tempat wudhu hingga kini masih dipergunakan. ’’Dipakai untuk pengairan. Jadi sumur tua ini airnya tidak pernah habis, baik kemarau masih tetap ada,’’ ungkapnya sembari menunjukkan sumur dengan kedalaman sekira 15 meter tersebut.
Dikatakan, masjid itu sendiri bisa menampung hingga ratusan jamaah. Selain untuk ibadah salat lima, masjid juga digunakan untuk kegiatan keagamaan lainnya. ’’Ngaji dan konsultasi masalah keagamaan,’’ jelas Hari.
Dia kemudian menunjukkan jam istiwa, yaitu bangunan lama setinggi setengah orang dewasa yang disebut bencet. ’’Jadi bencet ini lama, juga dibangun Pak Chudori Sayuti. Sebetulnya mau dibongkar, tapi tidak boleh karena peninggalannya,’’ tambahnya.
Tidak hanya mempertahankan bangunan, fungsi jam istiwa juga masih dipakai. Diperuntukkan kala memasuki salat duhur karena memang jam berfungsi dengan sorot matahari.
Terdapat dua besi yang tak begitu panjang. Di bawahnya ada garis semacam penunjuk arah. ’’Bencet ini dipakai hanya waktu duhur. Lebih akurat dari pada jam,’’ terang Hari. Sehingga sampai sekarang jam tersebut masih digunakan untuk melihat waktu duhur. ’’Kalau sekarang hampir mirip, selisih beberapa saja,’’ terang dia.
Bangunan lama itupun terlihat jelas kala berada di depan atau halaman masjid. Karena tidak dibongkar dan masih dipakai sampai sekarang. Menurut Hari, dulu di area masjid juga terdapat tempat untuk mengaji. Beberapa warga pun sempat menginap seperti pondok. ’’Tempatnya disamping masjid dari gedek, tapi sekarang tidak ada lagi,’’ pungkasnya. (fid/bin/jif)
Editor : Rojiful Mamduh