STASIUN Jombang Kota adalah stasiun di jantung Kota Jombang. Kondisi bangunan, kini telah berubah 180 derajat dengan fungsi aslinya. Meski beberapa bangunan masih bertahan, namun fungsi berubah menjadi pasar.
Foto yang menunjukkan bangunan lama, didapat Jawa Pos Radar Jombang dari Joko Agus Siswoyom seorang penelusur sejarah yang juga kolektor benda antik. Foto itu, menggambarkan kepala stasiun dan beberapa pekerja Stasiun Jombang Kota foto bersama.
“Saya perkirakan foto ini sekitar 1925-an, saya dapat foto ini dari rumah yang lokasinya tak jauh dari lokasi stasiun,” katanya. Data yang berhasil didapat dari PT KAI, stasiun dibuka bersamaan dengan selesainya segmen Jombang–Jombang Kota pada 1 Januari 1898 silam. Dan dilanjut menuju Dolog pada 16 Agustus 1899. Operasionalnya di bawah perusahaan kolonial Babat Djombang Stroomtram Maatschappij (BDSM).
Setelah 1916, operasional jalur kereta ini beralih ke tangan ke perusahaan kereta api milik negara SS (Staatsspoorwegen). Pada bagian stasiun, tertulis Jombang Kota +37 37 yang menyatakan jika bangunan ini berdiri di atas ketinggian 37 meter dari permukaan laut. Rute yang dilintasi kereta BDSM sepanjang 68,3 dari Jombang kota menuju Babat.
“Kalau stasiun kecil ada banyak, nanti di Ploso ada, di Ngimbang sampai Babat juga. Setahu saya, operasional juga masih berlangsung sampai beberapa puluh tahun setelah kemerdekaan,” bebernya.
Sempat terbengkalai, stasiun ini akhirnya berubah fungsi menjadi pasar tampungan saat pembangunan Pasar Citra Niaga (PCN) Jombang 1997 lalu. “Waktu itu stasiun yang dipilih karena lokasinya dekat, dan kebetulan juga bangunannya kosong. Dibangunkanlah waktu itu beberapa kios dan penampungan lain untuk pedagang,” ucap Ahmad Yasri Agus ketua paguyuban pedagang emplasemen.
Namun, saat PCN baru selesai dikerjakan, ternyata tak semua pedagang mau kembali ke pasar dengan alasan-alasan masing-masing. “Karena lokasinya diubah, sembako yang harusnya di bawah, tapi di beri di atas, juga banyak pedagang baru, sementara pedagang lama tak diutamakan, akhirnya banyak yang menetap sampai sekarang,” imbuhnya.
Setelah puluhan tahun menumpang di lahan yang disewa Pemkab kepada PT KAI, pedagang yang kadung betah menempati kompleks stasiun, dalam dua tahun terakhir harus menyewa sendiri lahan ini ke KAI. “Jadi kita semua urunan untuk lima tahuni. Sekitar Rp 1 miliar. Karena dari pemkab sudah tidak lagi menyewa,” pungkasnya. (riz/bin/jif)
Editor : Rojiful Mamduh