PADA 9 Desember 2001, kakak KH Mashud yang bernama Qomari meninggal dunia dalam usia 66 tahun. Sejak itu, makam yang tepat berada di belakang Masjid Al Hidayah ramai dikunjungi peziarah. Khususnya tiap hari Kamis dan Jumat.
''Gus Qomari itu lelono sejak lulus SMP sampai wafatnya,'' kata KH Mashud. Seperti gelandangan bahkan orang gila. Namun banyak yang menghormati karena dinilai sebagai wali. ’’Orang yang didatangi bahkan seneng,’’tuturnya.
Peziarah yang datang, bahkan ada yang berasal dari Sumatera. Karena mengaku sempat ketemu Gus Qomari. Bahkan mengaku sempat ditolong Gus Qomari.
’’Yang mengaku ketemu di Makkah waktu musim haji juga ada,’’ bebernya.
Tidak hanya sekali, pertemuan dengan Gus Qomari itu sampai tiga kali dan ngobrol. ’’Padahal waktu itu Gus Qomari tidak kemana-mana,’’ paparnya.
Orang-orang yang ziarah ke makam Gus Qomari rata-rata mengaku pernah ditolong. ’’Rumah orang tua saya dulu pernah ditempati Gus Qomari.
Saya juga pernah diberi minuman dari beliau,’’ celetuk Handoko, warga Kasembon Malang yang berziarah. Alhasil, walaupun nakal, di sekolah dia tetap bisa juara. Makanya sampai sekarang, dia rutin ziarah ke makam Gus Qomari.
’’Rata-rata yang ke makam Gus Qomari karena merasa hatinya padang setelah ziarah,’’ sambung Mirsod.
Abdul Haris, santri yang lama ngaji di Masjid Al Hidayah Junggo mengaku sering diberi jajan oleh para peziarah.
’’Banyak peziarah yang mengaku pernah punya kesulitan lalu ngalap berkah Gus Qomari akhirnya beres. Makanya sekarang mencari makam untuk ziarah,’’ kenangnya.
Di area masjid tersebut sudah ada kamar mandi. Meski begitu, para santri masih memanfaatkan kolam. Ada dua kolam yang tersedia. Satu ukuran 6X6 meter dan satunya 6X10 meter.
Kedalamannya, yang tepi satu meter dan yang tengah tiga meter. ’’Walaupun airnya dari sungai dan dipakai mencuci padi, santri mandi tetap tidak gatal. Juga tidak digigit ular. Padahal banyak ular,’’ kata Adam, cucu H Mashud.
Mayoritas santri Al Hidayah mencukupi kebutuhannya secara mandiri. Pagi kerja ke sawah atau berjualan, sore hingga malam ngaji.
’’Karena sering ketemu peziarah yang ke makam Gus Qomari, saya jadi kerasan mondok disini,’’ pungkas Bahrudin, 12, salah seorang santri asal Mojowarno.
Editor : Rojiful Mamduh