Ini termasuk masjid tua di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Masjid yang berada di komplek Pesantren Al Hidayah Salafiyah ini terletak di Dusun Junggo, Desa Rejoagung.
Lokasinya hanya 100 meter dari Jl Raya Ngoro-Kandangan. Namun dari jalan raya, yang terlihat hanyalah papan nama pesantren.
''Masjid ini dibangun 1901,'' kata KH Mashud pengasuh Pesantren Al Hidayah Salafiyah. Ia menyebut, yang mendirikan masjid adalah kakeknya, H Maksum yang berasal dari Pagotan Madiun.
H Maksum hanya punya satu anak, Insiyah. Dinikahkan dengan Kiai Haromain. Dari pasangan ini lahir sembilan anak yaitu Alwan, Nasihin, Jayadi, Siti Kalimah, Ahmad Affandi, Istianah, Qomari, Mashud dan Fakih. Namun kini yang masih hidup hanya Mashud. ''Saya kelahiran 2 November 1941,'' ucapnya.
Setelah ada masjid, baru kemudian berdiri pondok pesantren. ''Pondok dulu besar waktu diasuh kiai Haromain,'' paparnya. Jumlah santri sampai seratus orang lebih.
Namun sekarang yang menetap tinggal sekitar 25 santri. ''Masjidnya dulu kecil, beratap daduk (daun pohon tebu, Red),'' kenangnya. Lokasi awalnya dulu di sebelah barat. Kemudian dipindah ke lokasi sekarang. ''Sudah beberapa kali rehab,'' ungkap dia.
Meski begitu, keberadaan kayu jati tetap dipertahankan. Khususnya yang dipakai di atap. Bentuk linmas di bagian atap juga tetap dipertahankan. Agar nilai sejarahnya tidak hilang.
Mimbar juga tetap dua. ''Kanan untuk khutbah. Kiri untuk pengimaman,'' papar Mirsod, 43, salah satu keponakan Mashud.
Yang khas, di ujung pengimaman ada ruang meditasi. Pintunya hanya sebesar jendela. Namun di dalamnya, ada ruangan kedap berukuran 1X1,5 meter.
Ruang meditasi itu dulu hanya dimasuki oleh imam. Usai memimpin salat, imam bisa langsung masuk kesitu untuk meditasi. ''Waktu kecil, saya sering masuk kesitu karena penasaran,'' lanjutnya.
Mirsod menjelaskan, keberadaan ruang semedi itu menunjukkan yang mendirikan masjid adalah anak buah Pangeran Diponegoro berpangkat komandan.
''Itu menjadi semacam kode atau tanda. Tidak semua masjid yang didirikan anak buah Diponegoro ada ruang meditasi. Yang punya ruang meditasi hanya yang berpangkat tinggi, selevel komandan,'' urainya.
Ciri umum masjid yang didirikan anak buah Pangeran Diponegoro yakni mimbar dua dan ada pohon sawo di depan. ''Dulu di depan masjid ada pohon sawo, tapi sudah ditebang,'' sahut Adam, salah seorang cucu Mashud.
Editor : Rojiful Mamduh