JOMBANG – KH Hasyim Latief, adalah salah satu komandan Laskar Hizbullah. Tak hanya pejuang di medan perang, KH Hasyim Latief juga pegiat pendidikan. Ini diwujudkan dengan mendirikan Yayasan Pendidikan Ma’arif (YPM) berpusat di Wonocolo, Sepanjang, Sidoarjo.
KH Hasyim Latief juga pernah menjadi anggota legislatif, sebagai wakil ketua DPRD Jatim dan anggota DPR RI anggota Komisi VI bidang Pendidikan dan Agama.
”KH Hasyim Latief ini satu-satunya yang terjun pada militer diantara saudara-saudaranya. Beliau ini termasuk salah satu tokoh besar NU di Jawa Timur, karirnya juga sukses baik bidang pendidikan, politik dan bisnis,” ujar Nasrul Illah, keponakan KH Hasyim Latief kemarin (18/18).
Ia menambahkan, KH Hasyim Latief pernah aktif berorganisasi pada kepengurusan NU berbagai level. Mulai dari ketua PW NU Jawa Timur, wakil ketua PB NU, wakil Rais Syuriah PB NU, dan Mustasyar PB NU.
KH Hasyim Latief sendiri lahir di Kediri, 16 Agustus 1928 di kediaman kakak dari ibunya. Hasyim Latief merupakan putra ketiga dari pasangan H Abdul Latief dan Asiyah. Pada usia 5 tahun Hasyim Latief diajak pindah kedua orangtuanya ke Sumobito hingga dewasa.
Ayahnya menjalankan usaha sebagai pandai besi dan pedagang. Ibunya turut membantu mencari nafkah dengan membuat jajan gorengan yang dititipkan ke penjual keliling.
Meski kondisi kedua orangtuanya berkecukupan pada waktu itu, Hasyim Latief tetap dididik dan dilatih dalam situasi dan kondisi keras sejak kecil dengan disiplin tinggi. Mulai dalam berbagai hal baik pendidikan, agama dan sebagainya. Seperti menjalankan ibadah salat harus di masjid. Begitu pula tidur malam tidak lewat dari jam 23.00, sebab dikhawatirkan tidak bisa bangun waktu salat subuh.
Sehingga Hasyim Latief tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, pekerja keras dan religius. Kemandirian dan kerja keras yang dilakukan ayahnya menjadi motivasi yang kuat bagi Hasyim Latief. Begitu juga sikap tegas dan disiplin dalam menjalankan perintah agama menjadikan Hasyim Latif tidak mudah mengeluh dan putus asa. Justru ia menjadi anak yang percaya diri dalam kesederhanaan dan selalu bersyukur atas apa yang dimiliki.
Hingga usia 8 tahun, Hasyim Latief belum pernah mengenyam pendidikan formal. Sebab belum banyak pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu. Hasyim Latief belajar langsung kepada KH Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng. Hasyim Latif juga sempat mengikuti dua kali khataman Shahih Bukhari.
Selain dari KH Hasyim Asy’ari dan KH Mahfudh Anwar, ia juga mendapat didikan sejumlah ulama yang dihormati. Mereka adalah kiai Syarkawi (Blitar), kiai Da’im (Kudus), kiai Nur Azis (Singosari) dan kiai Syamsun (Gayam). Setelah 6 tahun belajar di Pesantren Tebuireng, Hasyim Latief kembali ke Sumobito. Tak lama ia kembali mencari ilmu dengan mengaji ke KH Syamsul Huda Sumobito dan KH Arif Balongdowo Jombang.
Dikenal Bisa Menghilang
SEBAGAI santri Tebuireng, KH Hasyim Latief dikirim bersama tiga santri lain, dipilih untuk mewakili Jombang sebagai utusan karesidenan Surabaya, dalam pelatihan opsir Laskar Hizbullah Pusat di Cibarusah Bekasi. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai dikala berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah se-Jawa dan Madura.
”Setelah lulus dari Cibarusah, ia mendapat tugas untuk melatih 40 santri calon pelatih Laskar Hizbullah Jombang di pondok pesantren Seblak Jombang,” terang Moch Faisol, penulis buku sejarah Hizbullah di Jombang.
KH Hasyim Latief langsung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Sekitar 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hizbullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH A Wahib Wahab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. ”Peran KH Hasyim Latief ini sangat sentral, beliau juga turun pada pertempuran 10 Nopember di Surabaya,” ungkapnya.
Ia menuturkan, pada pertempuran 10 November 1945 inilah Laskar Hizbullah Karesidenan Surabaya disatukan dalam satu devisi yang diberi nama Devisi Sunan Ampel. KH Hasyim Latief dalam pertempuran itu didaulat memimpin 1 kompi pasukan. Setelah Kota Surabaya jatuh ke tangan Sekutu, para pejuang RI di Surabaya dan sekitarnya melakukan penyerangan untuk merebut kembali Surabaya dari tangan Sekutu, upaya tersebut sering disebut Serbuan Oemoem Soerabaja (SOS).
Pada SOS I ini KH Hasyim Latief dan pasukannya melakukan penyerbuan berangkat dari Tulangan, sebuah wilayah di sebelah barat Kota Sidoarjo. Selanjutnya pada SOS II, KH Hasyim Latief melakukan persiapan konsolidasi di wilayah Perning Mojokerto, Pasukan Hasyim Latief juga mendapat tambahan pasukan dari Hizbullah yang baru datang dari Jombang dan Laskar Sabilillah Mojokerto.
”Banyak cerita menarik pada pertempuran yang dilakukan KH Hasyim Latief dan pasukannya,” jelas dia. Salah satunya, KH Hasyim Latief dikenal bisa menghilang. KH Hasyim Latief yang menjadi komandan peleton menyerang pasukan Belanda. Namun pasukannya bercerai berai karena Belanda memiliki senjata modern dan pasukan berjumlah lebih banyak. Beliau terpisah dari pasukan dan berlari sendiri yang terus dikejar tentara Belanda. Pada situasi terjepit inilah KH Hasyim Latief melakukan kontak doa kepada Allah SWT.
Kontak doa wirid ini agar tidak terjadi kontak senjata, maklum kekuatan pasukannya tidak sebanding dengan pasukan Belanda. Beliau yang saat itu bersembunyi di tengah semak belukar menemukan keajaiban. Tentara Belanda sesungguhnya tak berhasil menemukan tempat persembunyian. Jika saja tentara penjajah memberondong senjata ke persembunyiannya, secara nalar dipastikan ia tewas. Namun KH Hasyim Latief lenyap dari kejaran tentara musuh.
Tentara Belanda pun uring-uringan karena yang diburu hilang dari pandangan. Seketika itu, muncul seseorang yang oleh tentara Belanda dikira KH Hasyim Latief, padahal bukan. Tentara Belanda langsung memuntahkan pelurunya ke arah orang yang di matanya dianggap sebagai sosok KH Hasyim Latief. Tentara musuh bergembira karena merasa telah membunuh KH Hasyim Latief. Selanjutnya, pasukan Belanda melakukan operasi ke tempat yang lain. Beliau pun terlepas dari maut.
Sementara itu, pemerintah Soekarno pernah mencurigai KH Yusuf Hasyim terlibat Pemberontakan DI/TII. Tudingan Presiden Soekarno berimbas pula ke KH Hasyim Latief karena ia berada dalam satu barisan dengan KH Yusuf Hasyim. Tuduhan ini sempat menyeret KH Hasyim Latief ke meja hijau. Namun, ia kemudian melarikan diri ke Yogyakarta dengan kuliah di UII (Universitas Islam Indonesia).
”Di UII ini KH Hasyim Latief menggunakan nama Munir sebagai cara menghapus jejak agar tak dikejar-kejar pemerintah. Nama ini melengkapi nama aslinya menjadi Munir Hasyim Latief,” tandasnya.
Tegas tapi Kalem
SEMENTARA itu, meski tegas dan disiplin namun KH Hasyim Latief dikenal sebagai sosok yang kalem. ”Sebenarnya KH Sadullah Chumaidi dan KH Hasyim Latief ini usia sepantaran, mereka sama-sama berjuang di Laskar Hizbullah sebagai komandan juga. Tapi karakter mereka berdua tidak sama, memiliki kelebihan masing-masing,” ujar Nasrul Illah kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Menurutnya KH Hasyim Latief orangnya kalem sedangkan KH Sadullah Chumaidi tegas dan blak-blakan. Keduanya sebagai paman dan keponakan sangat baik dan rukun, meski bersaing beda payung. KH Hasyim Latief ini tokoh besar NU, sedangkan KH Sadullah Chumaidi tokoh Muhammadiyah. Bahkan keduanya mengajar di lembaga pendidikan yang berbeda di lokasi berdekatan.
”KH Hasyim Latief memiliki manajemen yang bagus, pengelolaan pendidikannya juga bagus. Bisa dilihat saat ini Yayasan Pendidikan Maarif yang didirikan beliau berkembang pesat di Jawa Timur,” imbuhnya.
Konsen pada bidang pendidikan dicurahkan dalam pengembangan Yayasan Pendidikan Maarif (YPM) di Wonocolo, Sepanjang, Sidoarjo. Kini YPM telah berkembang pesat menjadi puluhan unit pendidikan mulai dari PAUD sampai dengan perguruan tinggi baik di Pulau Jawa dan Kalimantan. Kelahiran YPM ini tercatat 10 September 1961. ”KH Hasyim Latief memang sudah wafat, tapi YPM masih tetap berjalan dan berkembang sampai saat ini,” tandasnya.
Editor : Binti Rohmatin