Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tajib, Rusmini yang Masih Tersisa di Jombang

Binti Rohmatin • Rabu, 2 September 2020 | 23:06 WIB
Tajib, Rusmini yang Masih Tersisa di Jombang
Tajib, Rusmini yang Masih Tersisa di Jombang


JOMBANG – Namanya adalah Tajib. Tak ada tanggal pasti yang menyebutkan kelahirannya, bahkan Tajib sendiri mengaku tak ingat lagi tanggal dan bulan ia lahir. Hanya yang ia ingat, tahun kelahirannya adalah di masa-masa penjajahan Belanda.


“Saya lahir tahun 28 (1928, Red) kalau bulan dan tanggalnya saya tidak tahu lagi mas,” terangnya saat ditemui koran ini di kediamannya Desa Gongseng, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang.


Dirinya bercerita, sebenarnya ia bukanlah warga asli Desa Gongseng. “Saya ini lahir dan besar di Banjardowo Kecamatan/Kabupaten Jombang sebenarnya, yang asli istri saya,” lanjutnya.


Menggeluti dunia peran sejak masih remaja, Tajib mengaku memulai perjalanan keseniannya saat diajak salah seorang seniman ludruk yang juga pemeran lakon Besut asal Kecamatan Ploso.


“Awalnya ya diajak pak Tari itu, dulu yang jadi besutnya, saya awalnya itu jadi tandak (Penari Remo, Red) saja tapi kemudian akhirnya ikut jadi Rusmini,” imbuh Tajib.


Meski tak ingat pasti kapan pertama kali dirinya memerankan Rusmini, Tajib sempat menyebut di awal kariernya, ia sempat menjalani pertunjukan di jaman-jaman penjajahan Belanda.


“Pernah lagi nggedong (bermain di panggung, Red) di Peterongan itu baru naik sudah bubar karena ada Belanda datang. Saya juga sudah jadi Rusmini waktu jaman penjajahan Jepang,” sambungnya.


Ia juga menyebut menggantikan posisi Rusmini untuk Tari yang saat itu ditinggal pemeran Rusmini sebelumnya yang meninggal dunia. Dan selama menjadi Rusmini, ia juga menjalani peran tersebut untuk sepuluh pesan Besut yang lain.


“Kalau pemeran Rusmini sebelumnya saya sudah tidak ingat, yang jelas dia dari Parimono. Kalau Besutnya dari mulai Pak Tari, Jito, Sunarin, Kamituwo mlaten (Tajib tak mengingat nama, Red), Leman, Sakiran dan Bandi dari Braan mas, itu yang saya ingat, tiga lainnya memang sudah agak lupa,” ucap bapak enam anak ini.


Meski juga tak ingat kapan dirinya mulai berhenti sebagai pemain Rusmini, Tajib menyebut akhir dari sejumlah pementasannya adalah ketika ludruk mulai meninggalkan besutan sebagai salah satu unsur pertunjukan, yakni sekitar tahun 1960 sampai 1970.


“Ketika itu cuma ada dua rusmini yang biasa main, dan kedua sudah tua namun penggantinya tidak ada, memang sulit ketika itu, melatih juga sudah ke banyak orang, namun belum ada yang pas. Karena untuk bermain Besutan apalagi jadi Rusmini, kemampuannya harus lengkap, artinya bisa menari, bisa nggending (Menyanyi jawa, Red) juga lakon dan parikan (Pantun, Red) sekaligus,” pungkasnya.


 


 


Travesti Tak Terganti


MENJADI peran Rusmini bukan saja menuntut pelakunya untuk menjadi total sebagai laiknya wanita. Namun juga memiliki kelembutan seorang wanita. Meski demikian tuntutan peran ini bukan berarti pemainnya lantas diserahkan pada transgender atau akrab disebut waria.


Tajib pun mengakui di masa lalu, ludruk adalah kesenian yang hampir semua pemain adalah laki-laki. Mulai pengrawit atau pemain musik, penari hingga pemain peran di dalamnya. Karena wanita bermain ludruk memang dianggap tabu.


“Ya memang dulu yang main semua juga laki-laki, mungkin kalau sekarang sudah tidak ya, ada yang diganti banci, ada juga yang diganti perempuan tulen,” terangnya.


Hal ini juga dianggap sebuah hal yang menarik oleh pemerhati kebudayaan Jombang Nasrul Illah. Dalam seni peran, hal ini disebutnya sebagai Travesti. Yakni peran wanita yang dilakukan seorang pria tulen.


“Dan pak Tajib ini memang pemeran Travesti, artinya meski perannya sebagai wanita, beliau adalah laki-laki tulen di luar panggung,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.


Dirinya menyebut, sebagai pemeran travesti, seorang lakon memang harus benar-benar mampu menjiwai perannya tanpa harus meninggalkan status biologisnya di dunia nyata.


“Dan ini tentu tidak mudah,” lanjutnya. Ia kemudian mencontohkan bagaimana beberapa ludruk di masa kini lebih suka menggunakan waria sebagai pemeran pengganti perempuan dalam cerita ludruk.


“Meskipun ada juga yang tidak, namun peran ini memang sudah sangat jarang. Yang bisa disaksikan sekarang mungkin Tessy Srimulat ya, dia memang berperan wanita saat dipanggung, tapi dia bukan waria, tapi pria tulen, perannya saja wanita,” lanjutnya.


Rumitnya peran tersebut dan tak banyak yang mau berlatih untuk berakting travesti itu menurutnya juga yang jadi kendala hingga saat ini peran-peran legendaris, seperti Rusmini di panggung besutan, hingga ludruk tak pernah bisa dengan baik.


“Dan saya kira, sebagai pemain travesti dari remaja hingga tahun 60-an seperti pak Tajib itu adalah peran yang sangat berdedikasi. Sampai saat ini saya kira juga masih susah juga untuk mencari pengganti peran beliau, apalagi dengan lakon besutan yang sudah mulai hilang,” pungkas dia.


 


Kerinduan Panggung Sang Rusmini


 


Siir kosiir... Mbang kombang..


Prau kintir gak disambang...


Disambang... sabuk’e ilang


Bajul mudik.. kethayal.. kethayal...


 


Begitulah Tajib menunjukkan caranya mengawali nggending ala Besutan jaman lama saat Jawa Pos Radar Jombang menjumpainya. Menurutnya, kisah besut memang selalu dilakonkan dengan pola-pola yang sama dan antara beberapa orang yang terus saling kenal.


“Pertunjukan sebenarnya cuma selipan saja kalau di ludruk, jadi setelah lawakan itu ada besutan, kemudian lawakan lagi. Kalau pemerannya ya Besut, Rusmini Man Gondo dan Sumogambar,” terangnya.


Karena itulah Tajib memang masih mengingat betul setiap dialog dan tembang yang harus dilantunkan dalam pertunjukan besutan ini, tanpa meninggalkan unsur-unsur kecil, semacam sahutan pemain lain di setiap tembangnya. “Ya hafal betul memang, karena pakemnya memang cerita rumah tangga Besut dan Rusmini saja yang kemudian terus diulas dengan banyak cerita,” lanjutnya.


Terlebih di era jayanya, kesenian ini hampir dilakukannya setiap malam dari pangung ke panggung. “Hampir semua senimannya kenal mas, dulu setiap malam ada saja tanggapan, bahkan dulu ketika kita pemian ini belum datang, warga sudah menggelar tikar di jalanan,” lanjutnya.


Kini, dia mengaku sangat prihatin akan pudarnya kesenian yang dulu jadi salah satu seni kegemaran masyarakat Jombang. “Kalau sekarang sudah sedikit sekali mungkin ya, yang banyak sekarang malah acara musik kalau di panggung. Selain seniman juga mungkin sudah tua, penggantinya jarang sekali yang mau meneruskan,” imbuh pria yang kerap sepanggung dengan Maestro remo Boletan yakni Pak Bolet Amenan ini.


Meski usianya sudah sangat tua, Tajib juga seringkali masih rindu dengan gebyarnya pertunjukan ludruk kala itu. Meskipun dirinya mengakui, kini tak banyak lagi teman-temannya yang tersisa untuk bisa diajak meneruskan kesenian ini kembali.


“Kalau sekarang memang susah, yang seumuran saya dulu dan teman-teman sepanggung sudah wafat semua, tinggal saya ini. Kalau rindu ludruk paling-paling ya mendengarkan di radio saja, cuma itu obatnya,” pungkas dia.

Editor : Binti Rohmatin