JOMBANG - Meski tak lahir di Jombang, kiai dari Pondok Pesantren Tebuireng ini mencintai Jombang hingga mengabdikan seluruh hidupnya di daerah ini. Keteguhan dan keistiqomahan hatinya sangat inspiratif bagi banyak orang.
Sosok tersebut adalah KH Ishaq Lathif, lahir di Sidoarjo 3 Maret 1942 silam. Iamerupakan putra pasangan H Abdul Lathif dan Hj Asma, salah satu petani cukup berada di Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo.
Masuk Pesantren Tebuireng sekira 1957 usai menamatkan pendidikan dasar. Kiai Ishaq kecil memulai pendidikan di MI Tebuireng kemudian melanjutkan di MTs hingga MA di pesantren yang sama.
Kiai Ishaq mengabdi sejak kepemimpinan KH Kholiq Hasyim, KH Yusuf Hasyim, hingga KH Salahudin Wahid.
Bahkan ia juga merupakan salah satu santri yang dididik khusus KH Idris Kamali (menantu KH Hasyim Asy’ari) bersama lima santri lain. Di antaranya Kiai Syuhada Syarif (Lumajang), Kiai Makmun Mahbub (Tegal), Kiai Ismail (Tegal), dan Kiai Abdurrahim (Pasuruan).
Lulus dari MA, Kiai Ishaq tak memilih meninggalkan Jombang. Ia lebih memilih mengabdi di pesantren ini dengan menjadi pengajar. Selain sebagai guru di MTs, beliau juga membuka pengajian kitab klasik dan kitab kuning di Tebuireng.
Mengampu pengajian berbagai kitab dalam berbagai macam bidang keilmuan, Kiai Ishaq tak pernah mau menggunakan masjid sebagai tempat mengaji.
Banyak kalangan berpendapat, keputusan Kiai Ishaq ini karena sifat tawadhu’ kepada guru. Dirinya lebih memilih menggunakan salah satu kompleks UKP di pojok Tebuireng sebagai tempat mengajar, setiap hari usai salat isya.
Selain mengampu kitab kuning untuk santri Tebuireng, ia juga memiliki kajian rutin dengan warga sekitar. Pengajian ini biasa ia lakukan setiap Selasa dan Jumat, yang berarti juga pengajian di Tebuireng diliburkan.
Kiai ini adalah penggila bola dan kesenian wayang kulit. Namun dibalik hobinya itu, Kiai Ishaq adalah pribadi yang teguh. Ini terbukti dari kesetiaannya menghabiskan waktu di pesantren sampai akhir hayat. Tak heran ia disebut sebagai santri senior sekaligus kiai.
Kiai Ishaq meninggal dunia 25 Februari 2015 lalu tanpa pernah meninggalkan pesantren. Juga tanpa pernah menikah, meski hingga usia 72 tahun.
KH Salahudin Wahid dalam sebuah ceramahnya di Pesantren Tebuireng semasa hidup pernah menyebut Kiai Ishaq adalah orang yang mewakafkan dirinya kepada Pesantren Tebuireng.
Untuk penghargaan kepada pengabdiannya, Kiai Ishaq mendapat keistimewaan dan turut dimakamkan di kompleks makam Masyayikh dan keluarga terdekat Pesantren Tebuireng.
Editor : Binti Rohmatin