Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Suhartono, Seniman Jombang Pewaris Tari Remo Boletan

Binti Rohmatin • Selasa, 1 September 2020 | 00:33 WIB
Suhartono, Seniman Jombang Pewaris Tari Remo Boletan
Suhartono, Seniman Jombang Pewaris Tari Remo Boletan


JOMBANG – Seniman satu ini masih aktif berkarya di Jombang. Mulai dari kesenian tari, gending, karawitan, hingga pedalangan dikuasainya dengan baik.


Ia juga tercatat memiliki hubungan erat karena murid sang maestro Remo yakni Amenan Bolet, salah satu penari remo sekaligus pencipta tari Remo Boletan yang khas dan asli Jombang.


Namanya Suhartono. Lahir 9 Januari 1951, asli warga Dusun Tawangsari, Desa Sengon, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Berasal dari keluarga polisi, Suharno mulai kenal dengan dunia tari dari acara di kesatuan ayahnya.


“Waktu itu, ada acara wayang orang di Polres Jombang dan saya diminta bapak ikut. Akhirnya ya ikut saja,” kenang Suhartono. Penampilanya cukup memukau. Ini terbukti dari banyak orang yang menyebut dirinya sangat berbakat dalam lakon tersebut.


Sejak itu dirinya terus mengasah bakat dengan pendampingan dari guru SD. “Ketika itu pernah diajak mendadak lomba tari di Kertosono, tanpa persiapan namun juara. Pengalaman yang benar-benar tidak saya lupakan,” lanjutnya.


Perkembangannya semakin pesat sejak putra pertama (alm) Aipda Moeljo Soetadji ini bertemu dengan Amenan Bolet, salah satu seniman ludruk yang juga penari remo.


“Pak puh (sapaannya kepada Bolet) memang sedang mencari anak untuk dikader jadi penerus. Kebetulan karena anaknya tidak bisa ikut, kemudian mengajak saya. Setelah itu saya sering diajak manggung kemana-mana,” lanjutnya.


Beberapa tahun sepanggung bersama Bolet, Har, sapaan akrabnya ternyata tak menari remo. Dirinya hanya ditugaskan untuk bermain tari cakil. Hingga beberapa tahun kemudian, dia baru tahu misi asli dari sang mentor sekaligus gurunya tersebut mengajaknya nyakil.


“Baru saya sadar setelah SPG, Pak Puh Bolet itu remonya sudah berubah. Ternyata saya diajak itu juga punya kepentingan, remonya pak Bolet itu ada unsur wayang orang utamanya Cakil, satu permainan sampur selendang, kedua permainan tangan ceklekan, itu ciri khas remo Amenan Bolet dan ciri khas tari remo Jawa Timur,” sambung bapak satu anak ini.


Tak heran, hingga kini dirinya tercatat sebagai salah satu orang yang hafal betul bagaimana cara memperagakan Remo Bolet. Beberapa orang bahkan menyebutnya salah satu pewaris Remo boletan.


“Kalau yang bisa memang nggak banyak, karena remo bolet itu sangat susah. Ada watak disitu, gerakannya juga tidak seperti remo pada umumnya. Serta butuh kreativitas tinggi. Saya bisa tetap tidak akan sama dengan Pak Puh Bolet,” lontarnya.


Puas belajar dengan Bolet serta sejumlah guru karawitan di SPG, Hartono kemudian meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan mengambil jurusan karawitan di Institut Seni Indonesia Surakarta.


Hingga lulus dan melatih sejumlah anak di sanggar yang ia bangun bersama Endang Widayati, istrinya. Serta di beberapa sekolah lain.


Meski mengaku tak ingat pasti, Hartono kini juga telah menelurkan ratusan karya kesenian yang berbentuk karya tari, karya gending, naskah macapat, dan transkrip macapat. Karya itu sering mendapat pengakuan di tingkat Nasional bahkan internasional.


“Juara nasional itu karya gending Wajib Belajar, Ndelok Wayang itu tertinggi sampai provinsi. Kalau tari saya bersama Sanggar Karangan Surabaya, juara nasional tari sempyak, sempat masuk lima besar nominasi internasional Tari Babar Anyar, yang masih saya ingat betul mungkin ya sampai sekarang. Selain itu sudah banyak yang lupa,” pungkasnya.


 


 


Perjuangan Kesenian Tradisional


MEMILIH terjun di dunia kesenian, Suhartono mengakui jika salah satu nilai yang dibawanya spirit kesenian Amenan Bolet. Selain rela kerja keras di bidang kesenian, Amenan Bolet juga disebutnya orang yang benar-benar total di dunia kesenian.


“Misalnya ini ditunjukkan Pak Puh sendiri dengan mati-matian untuk menghidupi kesenian ludruk, meski dana seadanya. Karena kalau dibilang sukses juga enggak sebenarnya, kehidupan Pak Puh Bolet dulu sederhana saja,” ucapnya.


Nilai-Nilai inilah yang kemudian berusaha diwujudkannya dalam berkesenian hingga kini. Meski sempat tak menjadi pilihan utama kala memutuskan ke jenjang kuliah, tapi kini Suhartono benar-benar memilih terjun di dunia seni. Bahkan, keseriusan ini ditunjukkan dengan rela melepas jabatan PNS di Jombang.


Ya, Hartono memang sempat tercatat mengajar di salah satu SDN di Kecamatan Jombang. Kemudian ia memilih mengundurkan diri. “Tepatnya 1975 saya dapat SK pengangkatan PNS sebagai guru, tapi empat tahun kemudian saya memilih untuk melepas dan jadi seniman mbambung ini,” ucapnya diikuti tawa.


Saat ditanya apa alasannya meletakkan jabatan yang justru banyak diburu orang, Hartono hanya menyebut produktifitas kesenian yang jadi persoalan. Saat berkiprah menjadi guru formal di sekolah, dirinya sempat kedodoran dalam karya tari yang harus ia lakukan, sehingga hasilnya tidak bisa maksimal.


“Mungkin tuntutan kesenian saya terlalu sombong, ketika jadi PNS karya saya di tari cuma satu selama empat tahun, itupun tidak bagus. Tapi itulah saya, Pak Puh Bolet mengajarkan untuk total pada kesenian dan itu berusaha saya wujudkan,” lanjutnya.


Hal inipun diakui istrinya Endang Widayati, yang menyebut suaminya tipikal orang keras dan disiplin tentang kesenian dan cara melakukannya. Bahkan, karena sifatnya tersebut, seringkali siswa yang diajar suaminya di sanggar harus lari karena tak kuat.


“Kalau menyangkut tentang kesenian, beliau memang orangnya keras, murid saja mungkin bisa dihitung yang bertahan, mereka yang serius saja,” ucapnya ditemui di kediamannya.


Meski demikian, sifat keras tersebut yang membuat suami yang juga bekas gurunya itu mau mengabdikan diri untuk kesenian tradisional. Hal ini diwujudkan dengan membuat sanggar yang membuka ruang luas bagi siapapun yang ingin belajar kesenian dan uri-uri budaya, tanpa kepentingan ekonomi.


“Kalau bilang ke saya ibadahnya, jadi beliau memang melatih secara cuma-cuma untuk siapapun baik anak maupun orang yang mau mengenal kesenian. Ini dilaksanakan setiap minggu pagi pukul 10.00 sampai 12.00 dengan membuka kelas gratis di sanggar,” pungkas Endang.


 


 


Berharap Nama Bolet Tak Dihilangkan


SEBAGAI orang yang sangat dekat dengan Amenan Bolet semasa hidupnya hingga mengikuti jalan kesenian yang sama, ia memiliki harapan nama Bolet tidak dihilangkan. Harapan ini seiring dengan makin dikenalnya kesenian remo boletan yang kini mulai disebut Remo Jombangan.


Menurut Suhartono, Remo Boletan tak selayaknya disebut  dengan Remo Jombangan. Karena jika merujuk pada pencipta keseniannya, nama Bolet yang seharunya ikut disebut dan tak boleh hilang.


“Kan banyak sekarang baik di jombang maupun luar Jombang, yang mulai menyebut Remo Jombangan untuk remo yang dicipta Pak Puh Bolet ini, tentu sangat disayangkan dan saya sendiri keberatan,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.


Hal ini menyangkut hilangnya nama Bolet yang harusnya lebih diutamakan, ketimbang nama Jombang yang dianggap lebih bernilai politis.


“Saya tahu bagaimana upaya mati-matian Pak Puh untuk mengenalkan remonya, sampai menemukan gerakan-gerakan itu. Banyak pengorbanan yang dilakukan, tapi setelah diakui, namanya dihilangkan, gak enak saja,” lanjutnya.


Jika nanti remo yang dipopolerkan Amenan Bolet tersebut akan dinamai resmi, maka nama Bolet tak bolah dihilangkan. “Tentu nama Remo Boletan lebih elok, kalaupun nanti tetap pakai nama Remo Jombangan, bagi saya itu tetap Remo Bolet,” pungkas Hartono.

Editor : Binti Rohmatin