Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Sa’dullah Chumaidi, Pejuang Hizbullah Jombang, Mantan Anggota MPR

Binti Rohmatin • Minggu, 30 Agustus 2020 | 23:38 WIB
Sa’dullah Chumaidi, Pejuang Hizbullah Jombang, Mantan Anggota MPR
Sa’dullah Chumaidi, Pejuang Hizbullah Jombang, Mantan Anggota MPR

JOMBANG – Tokoh ini asli Jombang. Ia termasuk berjasa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sa’dullah Chumaidi namanya. Ia adalah putra bungsu 12 bersaudara dari pasangan Imam Zahid dan Marfu’ah.


Imam Zahid sendiri merupakan salah satu murid Syaichona Cholil Bangkalan. Sa’dullah Chumaidi lahir di Sumobito sekira 1927. Namun saat baru berumur dua tahun, ayahnya meninggal dunia.


Sejak lahir, nama yang diberikan orang tuanya adalah Sa’dullah. Ia dikenal keras menentang penjajahan. Berbagai tindakannya membuat Belanda geram. Dalam sebuah cerita, Sa’dullah pernah menghilang dan mampu keluar dari penjara Belanda.


Dia pun mengganti namanya menjadi Chumaidi agar tidak diketahui penjajah. Ia dikenal para veteran dan pejuang dengan nama Sa’dullah. Namun setelah kemerdekaan lebih dikenal masyarakat dengan nama Chumaidi. Sebab, nama Chumaidi itu yang tercantum pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) nya.


Dia merupakan orang yang sangat disegani di kalangan pejuang Hizbulloh maupun masyarakat umum. Selain tegas dan berani, Sa’dullah Chumaidi merupakan pribadi bersahaja.


”Beliau tidak pernah cerita jika pernah berjuang militer bersama Hizbullah. Saya justru lebih banyak tahu dari para veteran atau pejuang yang dulu datang ke rumah untuk minta tandatangan,” ujar Ali Fikri, keponakan Sa’dullah Chumaidi.


Para veteran meminta tandatangan Sa’dullah Chumaidi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh pensiun dari pemerintah. Sa’dullah Chumaidi merupakan salah satu dari empat santri asal Sumobito yang dilatih Jepang langsung.


Akhir masa penjajahan Jepang, untuk mempersiapkan pertahanan pulau Jawa dan Sumatera dari ancaman Sekutu, digagaslah sejumlah kesatuan milier.


Selain PETA, ada juga Laskar Hizbullah yang dilatih di Cibarusah Jawa Barat. Setiap karesidenan di Jawa mengirimkan perwakilannya. Karesidenan Surabaya terdiri dari kota Surabaya, Gresik, Mojokerto, Sidoarjo dan Jombang.


Jombang sebagai salah satu wilayah karesidenan Surabaya memberangkatkan empat santri ke Cibarusah. Mereka adalah pemuda dari Sumobito, yaitu Hasyim Latief dan Sa’dulloh (paman Hasyim Latief), Maksum, serta Muhammad Nur (santri dari Madura).


Pelatihan di Cibarusah dilaksanakan selama tiga bulan, mulai awal Maret hingga akhir Mei 1945. Dipimpin para shudanco (komandan kompi) PETA yaitu Abdullah Sajad, Zaini Nuri, Abdul Rahman, Kamal Idris, dan lain-lain.


Komandan latihan adalah opsir Jepang, Kapten Yanagawa, yang setahun sebelumnya selesai melatih sukarelawan PETA. Materi pelatihan di siang hari meliputi baris-berbaris, bongkar pasang senjata, membuat bahan peledak, perang gerilya, dan sebagainya.


Pada 20 Mei 1945, pelatihan ditutup dengan upacara kebesaran dan sekaligus melantik 500 orang opsir yang diberi tugas memimpin dan membentuk Laskar Hizbullah di daerah masing-masing.


Inilah cikal bakal terbentuknya Laskar Hizbullah di Jombang. Sekaligus mewarnai perjalanan Bangsa Indonesia dalam rangkaian perang mempertahankan kemerdekaan.


Sa’dullah Chumaidi memiliki peran sentral sebagai perwira, dengan melatih pasukan yang akhirnya menjadi perwira. Selain itu, Sa’dullah Chumaidi masuk dalam struktural Hizbullah Jombang. Sebagai senior, ia juga menjadi Komandan Markas Besar Hizbullah Jombang.


Namun usai kemerdekaan, ia memilih jalan sendiri. Berbeda dengan rekan lainnya yang melanjutkan karir militer, Sa’dullah Chumaidi memilih kembali ke Sumobito mengurusi umat.


Tidak sedikit bawahannya yang menyayangkan keputusan itu. Sebab cukup banyak pejuang lain yang memilih melanjutkan karir di TNI hingga menjadi perwaira tinggi.


Ini menunjukkan jika yang dicari Sa’dullah Chumaidi bukanlah pangkat, jabatan, atau materi. Dia memilih jalannya sendiri dengan berbagai aktivitas lain sebagai bentuk pengabdian diri untuk kepentingan umat.


Selain masjid, dia juga menyibukkan diri dengan mengurus lembaga pendidikan. Sa’dullah Chumaidi meniti karir dengan menjadi penghulu, Kepala KUA Kecamatan Sumobito, Kepala Departemen Agama Kabupaten Jombang, Kepala Kanwol Departemen Agama Jatim.


Ia juga sempat menjadi anggota MPR RI utusan daerah kala itu. Sa’dullah Chumaidi meninggal Oktober 1997 dan dimakamkan di Sumobito. ”Saya justru tahu dari orang lain seperti sahabat atau rekan beliau. Pak Chumaidi tidak pernah cerita apa yang dilalui, seperti menjadi pimpinan pejuang Hizbullah. Menurut beliau itu tidak perlu, katanya hal itu malah merusak keikhlasan,” tandas Ali Fikri.


 


 


Hobi Membaca, Berwawasan Luas


MESKI tidak pernah mengenyam pendidikan formal, Sa’dullah Chumaidi merupakan orang yang berilmu dan berwawasan luas. Sejak kecil ia banyak belajar dari satu pondok pesantren ke pesantren lainnya. Mulai dari Tebuireng hingga Semarang. Mempelajari Alquran, hadits hingga tafsir.


”Pak Chumaidi tidak pernah mengatakan jika dirinya hafal Alquran atau hafidz. Tapi setahu saya beliau itu hafal. Sebab tahu detail ayat-ayat Alquran makna dan tafsirnya,” beber Ali Fikri kembali.


Menurutnya, Sa’dullah Chumaidi merupakan sosok yang tidak pernah berhenti belajar. Jelang kematiannya pun masih sempat minta dibelikan kitab. ”Waktu itu saya ibadah haji beliau pesan untuk dibawakan kitab kumpulan hadits palsu dan dhoif. Katanya beliau sudah mencari kitab ini ke seluruh Indonesia tapi tidak ada,” paparnya.


Setelah dibawakan kitab itu, Sa’dullah Chumaidi pun menulis kitab tentang kumpulan hadits palsu dan dhoif yang masyhur atau populer di Indonesia. Tulisannya itu pun sempat geger dan membuat MUI Jawa Timur bereaksi.


Sa’dullah Chumaidi sendiri memang dikenal tak suka basa-basi namun sekali bicara langsung mengena. Berbagai amalan dilakukannya diantaranya puasa daud.


”Saya banyak belajar dari nasehat dan amalan yang dilakukan Pak Chumaidi. Saya dulu masih kecil dan sering diajak kemana-mana ikut kegiatannya,” ungkapnya.


Sa’dullah Chumaidi memiliki pendirian yang teguh. Sangat berani mengungkapkan pendapatnya. Bahkan mengkritik jika kebijakan yang ditetapkan menurutnya kurang tepat. Tidak memandang pembuat kebijakan itu masih sahabat karib atau keluarga.


Mungkin hal itu yang membuatnya dicap keras oleh sebagian orang. Namun dibalik itu semua, ia merupakan orang yang sangat sabar. ”Bukan hanya keponakan atau keluarga, banyak anak-anak lain yang diasuh dan dikawal pendidikannya hingga perguruan tinggi dan sukses menjadi pegawai negeri,” lontarnya.


Saat salah satu anak didiknya pernah mengolok-olok saat kampanye, lantaran perbedaan partai pada zaman itu. Namun ia sabar dan tidak dendam. Justru orang lain yang kesal melihat hal tersebut.


”Saat saya tanya waktu itu diam saja, tapi akhirnya saat ini saya menemukan alasannya. Itu merupakan keteladanan beliau pada Nabi Muhammad yang sangat sabar. Itu yang sangat susah dan tidak bisa dilakukan semua orang,” pungkasnya. 


Ali Fikri pun mengingat betul wasiat sang paman yang mengasuhnya sejak kecil untuk meneruskan pengajian tafsir rutin di masjid Imam Zahid. Hal itu terus dilaksanakannya. Bahkan sesibuk apapun ketika menjabat Wabup Jombang, ia selalu menyempatkan diri mengisi pengajian kitab tafsir di masjid setiap Selasa malam Rabu.

Editor : Binti Rohmatin