Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Aktivis Perempuan Indonesia dari Jombang

Binti Rohmatin • Minggu, 30 Agustus 2020 | 23:28 WIB
Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Aktivis Perempuan Indonesia dari Jombang
Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Aktivis Perempuan Indonesia dari Jombang


JOMBANG - Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi, lahir di Jombang 4 Juni 1940, merupakan anak kedua dan putri tertua dari pasangaan KH Wahid Hasyim dan Nyai Hj Sholichah. Ia juga cucu dari dua ulama besar Jombang KH Hayim Asy’ari dan KH Bisri Sansuri.


“Beliau (Nyai Aisyah, Red) itu lahirnya dua tahun sebelum saya dan satu tahun setelah Gus Dur. Jadi beliau itu anak kedua,” cerita adik kandung Nyai Aisyah, almarhum KH Sholahudin Wahid, semasa hidup.


Lahir di lingkungan pesantren, namun dalam usianya ketiga tahun, Nyai Aisyah harus mau ikut ayah dan ibunya ke Jakarta akibat tugas negara. Saat itu, Kiai Wahid memang sedang mengemban jabatan Shumubu di era Jepang.


Meski kemudian harus kembali lagi ke Jombang akibat kondisi politik dan meneruskan pendidikannya di pesantren. “Baru tahun 1950-an kami berangkat lagi sekeluarga bersama bapak ke Jakarta dan akhirnya menetap disana,” lanjutnya.


Meneruskan pendidikan dan aktif di berbagai organisasi keagamaan NU sejak remaja, Nyai Aisyah juga sempat merengkuh berbagai posisi strategis baik di kancah organisasi maupun perpolitikan Indonesia.


Selain tercatat sebagai ketua PP Muslimat NU 1995-2000, ia juga pernah menjabat Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) periode 1990-1995, Anggota DPR dari Partai Golkar selama tiga periode sejak tahun 1997-2009.


Sejumlah jabatan di organisasi lain seperti Pengurus Dewan Pimpinan MUI (1995-2000), dan Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1999-2013) juga pernah disandang.


Sejumlah penghargaan juga pernah diterima sebagai bukti kiprahnya yang luar biasa. Sebut saja Yayasan Asma Indonesia (1990), Manggala Karya Kencana Kelas I dari Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN (1997), dan Honorary Award of the Realization of World Peace and the Promotion of Education and Culture dari Soka University, Tokyo (2001).


Hingga di usai 78 tahun, pada tanggal 8 Maret 2018, Aisyah meninggal dunia di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ia dipanggil Yang Maha Kuasa untuk selama-lamanya setelah sebelumnya sempat lima hari mengeluh sakit pernafasan.


“Tidak ada penyakit yang sampai berat sekali sebenarnya, beliau sempat mengeluh sesak nafas lima hari, pengecekan terakhir memang sudah komplikasi,” sambung Gus Solah.


Nyai Aisyah dimakamkan di dekat makam suaminya KH. Hamid Baidlowi yang meninggal tahun 2009 lalu di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi seluruh warga NU juga banyak perempuan dan tokoh yang memang mengenalnya baik. “Sangat dirasakan kehilangan oleh banyak orang, beliau meninggalkan 5 anak dan 15 cucu,” pungkasnya.


 


 


Keteguhan, Kerja Keras, dan Ahli Silaturrahim


MESKIPUN terlahir sebagai darah biru, ternyata tak membuat Nyai Aisyah lantas mau memakai jalan pintas untuk menapaki jenjang kariernya di dunia organisasi pertama hingga akhir hayat.


“Beliau memulai organisasi benar-benar dari nol, artinya dari level terbawah sebelum bisa mengecap posisi pucuk pimpinan,” kembali Gus Solah bercerita tentang kakak kandungnya ini.


Ia tahu benar bagaimana sejak kecil Nyai Aisyah memang telah bergulat di dunia organisasi di lingkungannya. Namun kemudian terus berkembang hingga level nasional.


“Awalnya sejak muda ya dari Fatayat, kemudian masuk ke Muslimat sampai akhirnya di banyak organisasi lain. Bahkan kalau ditotal mungkin sekarang sudah lebih dari 60 tahun beliau berkiprah di organisasi NU dan lainnya,” lanjut Gus Solah.


Hal ini juga disampaikan beberapa kerabat dekatnya yang lain, seperti Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf. Menurut Khofifah, hingga saat ini telah ada ribuan panti asuhan dan juga PAUD yang telah dirintis Nyai Aisayh sepanjang hidupnya.


“Sampai usainya uzur, beliau mengomandani 144 panti asuhan, merintis 9.800 lebih Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD, Taman Kanak-kanak, hingga Raudlatul Athfal atau RA. Demikian pula sebagai perintis Yayasan Haji Muslimat, juga induk Koperasi An-Nisa,” ungkap Khofifah beberapa waktu lalu.


Bahkan hingga satu bulan sebelum kepergiannya, seluruh lembaga tersebut diurusnya dengan tangannya sendiri. “Khidmat beliau untuk umat memang luar biasa, dan itu semua jadi bukti. Baru beberapa hari yang lalu beliau akhirnya menyerahkan semua kepengurusan tersebut kepada saya,” lanjut Khofifah yang kini menjabat Gubernur Jawa Timur ini.


Sementara menurut Saifullah Yusuf, peran wanita yang juga masih famili dari ibundanya tersebut juga cukup besar di luar organisasi NU.


“Beliau juga penggerak kaum perempuan. saat menjadi anggota DPR RI beliau ikut berperan dalam Undang-Undang Kesetaraan Gender yang sekarang menjadi sesuatu yang sangat diperlukan kaum wanita untuk bisa berkiprah lebih banyak dalam kehidupan sosial dan berbangsa,” ucap Gus Ipul.


Selain memperjuangkan kaum wanita dan aktif di kegiatan sosial, kemampuannya bisa menjalin silaturahim dengan siapapun. “Almarhumah ini adalah ahli silaturrahim, yang mana hari-harinya adalah bagian dari silaturrahim baik ke sesama, ulama, dan banyak tokoh lain,” lanjutnya.


Ia bahkan mengaku sangat mengingat bagaimana Nyai Aisyah tak pernah lupa untuk menyempatkan diri mengunjungi kerabat hingga keluarga saat menginjakkan kota manapun.


“Beliau itu setiap kemana kalau ke Jombang didatangi keluarga, setiap ada acara di suatu tempat beliau tidak langsung pulang tapi keliling. Makanya beliau berteman dengan banyak orang, baik ulama, dan tokoh bahkan dari agama lain. Dan ini yang membuat beliau diterima semua pihak saat memimpin Muslimat dulu,” pungkasnya.


 


 


Layaknya Pengganti Ibu


SEBAGAI putri tertua, posisi Nyai Aisyah dalam keluarganya juga dikenal cukup sentral. Selain sebagai kakak, seluruh adiknya menganggap Aisyah juga sebagai pengganti ibunya karena sifatnya yang dianggap mampu mengayomi keluarga.


“Beliau kakak, tapi juga seperti ibu kami dan semua adik-adiknya memang sangat dekat dan diayomi sama beliau sejak kecil,” kembali terang Gus Solah.


Hal ini terlebih setelah ayahandanya KH Wahid Hasyim wafat. Gus Solah mengerti bagaimana kakaknya tersebut harus bisa berperan sebagai kakak sekaligus sebagai ibu di saat ibu kandungnya Nyai Solichah sedang sibuk di kegiatan luar.


“Terlebih setelah Gus Dur ikut kuliah keluar negeri, praktis memang yang menggantikan posisinya ya kakak saya ini,” sambung anak ketiga KH Wahid Hasyim ini.


Dalam keluarga, Nyai Aisyah memang dikenalnya punya ketegasan. Ia juga tipikal orang yang disiplin dan rapi dalam setiap pekerjaan. “Beliau memang orang yang ingin semuanya berjalan lurus dan rapi, orangnya pekerja keras dan pandai dalam hal problem solving,” imbuhnya.


Karena itu, hingga usia dewasa, Aisyah sebut Gus Solah masih menjadi rujukan dan jujukan bagi seluruh keluarga untuk beberapa masalah dalam keluarga.


“Jangankan adik-adiknya, Gus Dur juga biasanya akan ke kakak saya ini kalau memang ada yang perlu dibicarakan. Beliau memang sangat dekat sama semua saudara, tak heran ketika meninggal dunia, kami juga seolah tak percaya semuanya berlalu secepat ini,” pungkasnya.

Editor : Binti Rohmatin