Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ngudi Rahardjo, Pelukis Nasional yang Menjadi Murid Basuki Abdullah

Binti Rohmatin • Jumat, 28 Agustus 2020 | 23:36 WIB
Ngudi Rahardjo, Pelukis Nasional yang Menjadi Murid Basuki Abdullah
Ngudi Rahardjo, Pelukis Nasional yang Menjadi Murid Basuki Abdullah


JOMBANG - Ngudi Rahardjo, adalah salah satu pelukis nasional. Lahir di Bojonegoro pada 24 Agustus 1948, Ngudi Rahardjo meninggal dunia di Jombang 3 Mei 2013 atau saat berusia 64 tahun. Ngudi lama tinggal di Desa Randuwatang, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang.


Ia adalah anak dari pasangan Kardidjo dan Sukimah. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah sekaligus seniman batik. Dari informasi yang dihimpun, Ngudi Raharjo berpindah-pindah dalam mengenyam pendidikan. Sekolah dasar di Bojonegoro, berlanjut SMP dan SMA di Nganjuk, kemudian menempuh kuliah jurusan perpajakan di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya.


“Bapak menjadi pelukis karena turunan. Setiap hari melihat kakek membatik, bapak jadi suka menggambar,” ungkap Sumilah, 48, istri almarhum Ngudi Rahardjo. Ia menceritakan, semasa hidup suaminya adalah pelukis dengan aliran realis. Tema yang paling banyak diangkat dalam lukisan adalah pasar dan panen.


Suka menggambar sejak kecil, kegiatan melukis Ngudi Rahardjo semakin bergeliat saat kuliah di Surabaya. Dari hobi tersebut, Ngudi bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Sebab lukisannya sering dibeli kolektor dan reseller lukisan di Surabaya. Sampai akhirnya lukisan karya Ngudi Raharjo sampai ditangan Basuki Abdullah, pelukis legendaris Indonesia.


“Pada sebuah acara pameran, lukisan bapak mendapat apresiasi dari pak Basuki. Dari sana bapak kenal dan berguru kepada pak Basuki, setiap ada acara melukis bareng pak Basuki pasti ikut,” imbuhnya. Ngudi Raharjo lalu bertemu dengan jodohnya 1986. Saat itu Sumilah bekerja di Surabaya sebagai sales produk kosmetik.


Setelah menikah Ngudi Raharjo pindah domisili ke Dusun Sraten, Desa Randuwatang, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, yang menjadi daerah asal istrinya. Sebelum eksis dengan tema pasar dan panen, Ngudi Rahardjo juga sempat mengangkat tema cerita pewayangan Rama dan Shinta. “Bapak juga pernah melukis kuda dan merpati. Tapi lebih lama pasar dan panen,” tambahnya.


Sumilah juga bercerita, semasa hidup suaminya dikenal sebagai pelukis realis yang cukup produktif. Dalam setiap bulan, rata-rata Ngudi Raharjo bisa menghasilkan 15 sampai 20 lukisan berbagai ukuran. Pemandangan pegunungan, sawah, dan pasar tradisional menjadi objek lukisan yang disukai pasar. “Selain lukisan palet, bapak juga biasa dengan lukisan kuas,” pungkasnya.




Sebelum Meninggal, Buat Lukisan Kontroversial


KEMATIAN memang menjadi peristiwa yang tidak terduga. Tak jarang orang yang akan meninggal, tanpa sadar menunjukkan perilaku aneh. Setidaknya ini yang pernah dialami istri dan anak Ngudi Rahardjo, beberapa bulan sebelum orang yang disayanginya menghembuskan nafas terakhir.


Perilaku aneh tersebut adalah hasil lukisan dengan objek seorang ibu bersama dua anak yang terlihat akan pergi ke suatu tempat. Saat masih proses melukis, beberapa kerabat sempat bertanya mengapa hanya ada seorang ibu dan dua anak dalam lukisan. Padahal jika ditambah objek seorang ayah, hasilnya lebih baik.


“Waktu itu bapak menjawab, lukisan memang menceritakan kisah sebuah keluarga tanpa ayah karena sudah meninggal dunia,” kata Sumilah, istri almarhum Ngudi Rahardjo. Lukisan itu akhirnya menjadi polemik di keluarga. Sebab dari jumlah anggota keluarga yang dikisahkan dalam lukisan, memiliki kesamaan dengan kondisi pelukisnya.


Dua anak dalam lukisan tersebut, paling tua berjenis kelamin perempuan. Sedangkan yang paling kecil berjenis kelamin laki-laki. “Kami memang memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki. Itu sama dengan yang ada di lukisan,” tambah Sumilah. Keluarga khawatir jika lukisan itu dirampungkan, kisahnya akan benar-benar nyata.


Namun almarhum Ngudi Rahardjo tidak berhenti melukis objek tersebut. Hingga akhirnya pada 3 Mei 2013, Ngudi Rahardjo menghembuskan nafas terakhir karena menderita berbagai penyakit. Lukisan yang sempat menuai kontroversi itu sampai saat ini masih ada, dan dipajang bersama lukisan peninggalan yang lain.




Menurun ke Anak


BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini pas dengan kisah hidup Ngudi Rahardjo. Hobi melukisnya menurun ke anaknya Feri Kurniawan, 28, anak bungsu.


“Saya juga hobi menggambar sejak kecil, sama seperti bapak,” ungkap Feri kepada Jawa Pos Radar Jombang. Alumni SMAN Kabuh ini mengaku memiliki aliran melukis yang hampir sama dengan ayahnya. Pemilihan objek dalam lukisan juga sama, mulai dari petani, pedagang pasar tradisional, hingga pemandangan alam.


Namun untuk mendapatkan tempat di pasar seni lukis sebagai penerus Ngudi Rahardjo, Feri mengaku masih kesulitan. Pasar masih menganggap lukisan karya Feri belum memiliki karakteristik yang sama dengan hasil karya bapaknya. Selain itu dalam beberapa pameran lukisan, Feri menyebut nama ayahnya kerap dianggap tidak memiliki penerus.


Hal itu menurutnya menjadi cara untuk memutus regenerasi, dengan latar belakang persaingan meraih tempat di pasar seni lukis. “Alamat rumah bapak di Jombang juga dihilangkan,” lanjutnya. Semasa hidup, Feri menyebut puluhan kali ayahnya mengikutsertakan karya lukisan dalam setiap ajang pameran di berbagai kota,” kenangnya.


Bahkan tercatat dua kali ayahnya menggelar pameran tunggal. Feri mengaku ada satu mimpi yang ingin diwujudkannya, yaitu membawa pulang ke Jombang karya lukisan ayahnya yang tersebar di beberapa kota dan negara seperti Hongkong dan Singapura. “Banyak lukisan karya bapak yang dititipkan di galeri milik teman. Inginnya lukisan itu pulang ke Jombang dan dibuatkan galeri sendiri,” pungkas Feri.

Editor : Binti Rohmatin