JOMBANG – Pelawak ini memulai kariernya dari bawah. Dia adalah Isa, arek Jombang yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta dengan berbagai show di stasiun televisi nasional.
Pria kelahiran Jombang 24 Desember 1966 ini bernama asli Isa Sulistiyono. “Saya asli Jombang, rumah di daerah Kepatihan dan sampai sekarang juga masih, tapi memang kegiatan lebih banyak di Jakarta,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang beberapa waktu lalu.
Lahir sebagai anak tentara tak membuatnya goyah menjadi pelawak sejak remaja hingga kini telah berusia 51 tahun. Isa mengaku memulai kebiasaan melawak dari lingkungan sendiri. Kerap kali cangkrukan dengan beberapa anak di kampung. Kepiawaiannya memnghibur orang mulai terasah dengan sendirinya.
“Kalau ditanya bisanya dari mana, ya kita belajar dari lingkungan saja. Ayah saya juga bukan seniman, dia kan tentara walaupun suka kesenian karena seringkali mendatangkan ludruk dan hiburan lain saat di kodim dulu,” lanjutnya.
Kemampuannya semakin terasah berkat teman dan tetangganya yang kemudian jadi partner duet kini, yakni Jikin. Keduanya memulai grup duet lawak dengan mengikuti pentas 17-an di kampung-kampung. “Dulu saya dan beberapa teman salah satunya Cak Jikin membuat grup lawak namanya Remaja Kreatif. Bahkan dulu sampai mewakili Jombang yang bisa main di TVRI,” ungkap pria empat anak ini.
Meski demikian, di kalangan masyarakat luas, nama Isa moncer saat dirinya bersama grup baru asal surabaya bernama Ngelantur, mengikuti salah satu audisi pelawak di salah satu stasiun televisi nasional. Meski tak sampai menjuarai audisi, ia cukup dikenal dengan ciri khasnya yakni kumis tebal tak normal hingga cara bicaranya.
“Ya memang begitu itu cirikhasnya, dia kalau ngomong kayak anak SD jaman dulu waktu membaca buku, dan itu jadi ciri khas dari dulu,” sambung Jikin, sahabat Isa.
Setelah kini grupnya berangsur pecah karena kesibukan masing-masing, Isa tetap menjalankan rutinitas di Jakarta. Beberapa acara TV nasional pun sempat diikutinya seperti beberapa sinetron, acara dagelan bernuansa politik hingga mengisi ratusan acara off air.
“Sekarang ya tetap masih show di beberapa televisi swasta. Kalau Ngelantur memang sudah pecah anggotanya, mas Suro sekarang di Surabaya, mas Tatok masih di Jakarta tapi lebih banyak main di belakang panggung,” pungkasnya.
Remaja Kreatif, Lawak Pendidikan
MUNGKIN tak banyak yang ingat, grup lawak yang dulu digawangi Isa, Jikin dan dua temaannya yakni Joko dan Topo di tahun 1980-an, dikenal dengan nama Remaja Kreatif. Ternyata kiprah grup lawak ini membawa nama mereka sebagai salah satu aset seniman di Jombang.
“Remaja kreatif itu dulu awalnya saya sama mas Isa, tahun 1979 kita merintis dengan main di kampung-kampung, kemudian diseriusi saat masuk ke SMEA,” ucap Jikin. Grup Remaja Kreatif sendiri memang salah satu grup lawak yang background anak-anak usia sekolah menengah atas.
“Dulu setiap tahun ada lomba lawak, kita selalu yang menang, kemudian berkembang jadi empat orang karena selalu juara 2, yaitu mas Joko dan mas Topo ini masuk,” lanjutnya. Dengan konten lawakan bertema pendidikan dan logika-logika cerdas, grup ini tak jarang jadi juara di berbagai ajang lomba lawak di kabupaten.
“Kalau materinya kita memilih materi kependidikan, artinya kita tidak main bahasa kasar kayak ludruk di jaman itu, kita memang memilih cara berbeda,” sambung pria yang kini menjadi staf di Dinas Kesehatan Jombang ini.
Bahkan karena pilihan cara melawak ini, Jikin penyebut grup lawaknya sampai dinamai lawak pendidikan. Bahkan Isa menyebut, lawak mereka cenderung hanya dinikmati kalangan pelajar dan orang-orang terpelajar saja.
“Dulu kayaknya ada sekat untuk lawakan kami, dianggap pinggiran karena tidak umum, padahal sekarang yang kelihatan berkualitas, lawakan-lawakan macam begini, misal Cak Lontong dengan caranya dan lain sebagainya. Cara-cara melawak seperti itu yang kami lakukan dulu,” sahut Isa.
Bahkan, yang membuatnya bangga adalah grup lawaknya pernah menjadi salah satu pengisi di stasiun televisi milik pemerintah TVRI. “Waktu itu ada 7 grup tes yang lolos cuma kita, tentu jadi prestasi tersendiri dan bangga,” sambung pria dua anak ini. Bahkan Jikin menyebut di tayangan pertama, antusiasme masyarakat di sekitar rumah sangat heboh.
“Saya masih ingat betul, waktu saya main, salat magrib di musala jadi sepi, saking banyak yang penasaran,” kembali kata Jikin diiringi tawa keduanya. Usia yang semakin lanjut, membuat anggota grup hanya tersisa dua orang yang masih fokus di kesenian. Yakni Joko dan Topo yang harus menyelesaikan pendidikan di luar kota.
“Saya sendiri akhirnya masuk ke pemerintahan, meski tak meninggalkan kesenian. Dan mas Isa kemudian hijrah nekat ke jakarta memulai karier. Alhamdulilah kami sekarang sudah menjalani profesi masing-masing,” lanjut pria yang sering memerankan tokoh Besut ini.
Meski demikian, Jikin dan Isa mengaku tak pernah menyepakati pembubaran grup. “Kami hanya terpisah dan tidak bubar, karena memang tidak ada kesepakatan untuk bubar. Bagi saya melihat mas Isa di televisi dengan caranya melawak, itu juga bagian dari saya dulu, dan saya bangga,” pungkas Jikin.
Keteguhan Pelawak Berkumis
SELAIN dikenal humoris, di mata beberapa sahabat dan kerabat, Isa dikenal sebagai orang yang sabar. Keteguhannya menekuni seni lawak sejak kecil, juga benar-benar dijiwai. Seperti pengakuan Kiki, salah satu orang terdekat Isa di Jakarta.
“Kalau ngomong lek (sebutan paman, Red) Isa, ya begitu itu orangnya, kalem, sabar, dan nriman. Itu yang membikin saya betah ikut 10 tahun sama dia,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jombang. Hal ini terlihat dari caranya bersikap dan menghargai orang. Ia mencontohkan bagaimana Isa hidup di jakarta yang tak jauh dari kehidupannya di Jombang.
“Kalau undangan jaraknya jauh, dia nggak mau pakai mobil pasti pakai motor. Bahkan kalau misalnya pulang malam, sering juga tidur ngemper. Buat dia prestise artis ibu kota itu nggak penting sudah,” ucapnya.
Sikap teguhnya dalam karya juga menurutnya patut ditiru. Kiki menyebut selama ia bergaul dan membantu pertunjukan, dia merasakan betul bagaimaana Isa memegang teguh prinsip lawakannya sejak dulu.
“Dia nggak sungkan menolak job kalau tidak sesuai dengan caranya melawak, misalnya harus pakai mukul-mukul, ejek-ejekan nggak jelas. Silakan cari orang lain saja pak, pasti gitu jawabannya. Dia teguh memang di jalan lawakan cerdas,” lanjut pria berkacamata ini.
Ini juga terlihat ketika Isa dan ciri khas kumis tebal. Isa memang tidak akan tampil maksimal tanpa kumis jimatnya tersebut. “Kalu sekarang mungkin sudah mending pelihara kumis sendiri, dulu waktu masih bersih, jika ketinggalan kumisnya, saya yang bingung karena kebagian bikin kumis. Tampilnya pasti tidak akan maksimal, karena cirikhasnya itu,” lanjutnya.
Tak hanya sebagai pelaku seni semata. Di Jakarta, Isa juga masih terus mengembangkan kesenian lawak termasuk ludruk berbagai komunitas. “Aktif sekali memang, dia pergaulannya luas. Kayak membentuk regenerasi ludruk juga di jakarta, ada wadah seniman lawak juga,” pungkasnya.
Editor : Binti Rohmatin