Seorang pensiunan KKO yang kini Korps Marinir hidup sebatang kara di Desa Kedungturi, Kecamatan Gudo. Meski begitu, ia punya banyak kenangan saat berjuang untuk Indonesia.
JOMBANG - Seorang pria tua nampak tertidur pulas di sebuah bangunan bekas toko di Desa Kedungturi. Tubuhnya terlihat rapuh, berdiripun ia sudah terlihat kesulitan. Di kamar kecilnya ini, tumpukan barang terlihat berhamburan tak terawat.
Foto, piagam, bendera hingga banyak barang pusaka miliknya nampak kotor berdebu. Kendati begitu, ia terlihat nyaman tidur di tempat yang seadanya. “Saya hanya sesekali saja keluar, soalnya kalau dibuat banyak gerak kepala ini pusing,” ucap Sulawi, pensiunan Korps Marinir ini.
Di usianya yang senja, ia kini memilih hidup sendiri, setelah sang istri wafat puluhan tahun lalu. Di Jombang, ia tak punya anak, pernikahan dengan istri yang lebih dulu meninggalkannya, memang tak dikaruniai keturunan. “Kalau makan ya Alhamdulillah bisa dengan sisa gaji pensiunan,” ucap dia.
Soelawi tercatat lahir 1939 dari Suwondo dan Suleni. Pensiunan Korps Marinir ini mengaku memulai karier perjuangannya dengan bergerilya dan sempat masuk dalam jajaran Korps Komando (KKO) di era Presiden Soekarno.
“Saya berjuang sejak zaman penjajahan Jepang, dulu ikut gerilya, sampai ketika merdeka saya masuk di KKO, membantu pak Soekarno juga,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Meski kelahirannya 1939, Soelawi mengaku tanggal itu bukan tanggal asli kelahirannya. Tanggal itu adalah pemberian Bung Karno saat ia menjadi pengawalnya dulu. “Usia asli saya kalau dihitung sudah lebih dari 100 tahun, usia yang tercatat itu memang dibuat lebih muda,” lanjutnya.
Sebagai marinir, sejumlah pengalaman ia dapatkan terlebih dalam mengarungi lautan. Bahkan salah satu kapal bersejarah yang hingga kini jadi pusat pelatihan tentara muda Dewa Ruci sempat ia cicipi. “Hampir seluruh Nusantara sudah saya kelilingi, baik Makasar, Manado, bahkan sampai ke Australia,” kenangnya.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya barang yang kini masih tersimpan rapi di rumah. Lencana, piagam hingga beberapa benda kenangan seperti bendera merah putih masih tersimpan meski bentuknya sudah mulai tak utuh.
Sejumlah foto masa lalu bersama istrinya juga nampak masih terpajang meski warnanya telah memudar. “Piagam-piagam dan lencana ini kita dapat setelah pendidikan dan perang, misalnya di Timor Leste, ini dapat, tiga tahun di kapal selam dulu dapat lencana juga,” ucap dia.
Yang lebih membanggakan baginya, penghargaan atas pencapaian dia menaklukkan Gunung Rinjani Lombok 1971 lalu. Arsipnya, bahkan masih ia simpan, yakni sebuah surat tugas yang ditempelkannya pada sebuah artikel dari harian Suara Karya.
Dalam tulisan itu dikatakan, jika Soelawi yang saat itu berpangkat Kopral KKO bersama dua kawannya dipimpin Kapten Rukhiyat, menjalani misi mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Rinjani. “Waktu itu gunung belum terjamah, tidak seperti sekarang,” ucapnya.
Dalam beberapa hari setelah keberangkatan, tim ini berhasil mencapai puncak. Bendera pun berhasil dikibarkan di puncak Rinjani. Sayang, Kapten Rukhiyat sang pemimpin regu, tewas saat tidur karena menghirup gas beracun di atas gunung.
“Saya merasakan bagaimana harus menjaga kapten dan dua teman saya yang juga tewas dalam misi, sampai membantu membawa mereka turun,” tambahnya.
Meski akhirnya bisa turun dengan selamat setelah ada tim penolong, Soelawi menyebut pengalaman itu jadi pengalaman tak terlupakan dalam hidupnya.
Editor : Binti Rohmatin