Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Monumen di Sumberboto, Saksi Bisu Gugurnya Lima Pasukan Wanara

Binti Rohmatin • Rabu, 26 Agustus 2020 | 15:28 WIB
Monumen di Sumberboto, Saksi Bisu Gugurnya Lima Pasukan Wanara
Monumen di Sumberboto, Saksi Bisu Gugurnya Lima Pasukan Wanara


Selain sumber air, wana wisata Sumberboto di Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno juga terdapat monumen perjuangan Pasukan Wanara. Lokasinya di samping kolam renang. Dulu, tempat ini lokasi gugurnya lima pejuang kemerdekaan akibat ledakan bom.


JOMBANG - Suasana wisata alam Sumberboto tak ada yang berbeda seperti sebelumnya. Masih sepi pengunjung. Hampir tak ada pengunjung yang hilir mudik ke wisata yang berada di Desa Japanan ini. “Ramai saat liburan, kalau tidak begitu ya pas ada kemah,” ungkap Surono, salah seorang petugas bagian kebersihan dan pemeliharaan.


Tepat di samping kolam renang terdapat monumen yang sudah puluhan tahun berdiri, yaitu monumen perjuangan Pasukan Wanara (Komando Pasukan Gerilya Kehutanan). “Dibangun 1970, waktu itu diresmikan Dirjen Kehutanan. Itu di prasastinya ada,” kata dia sembari menunjuk monumen.


Menurut dia, monumen itu didirikan karena menjadi lokasi gugurnya lima anggota Pasukan Wanara. Di monumen ini ditulis siapa saja yang gugur. Meski saat ini tak ada sisa ledakan, namun menurutnya dulu pernah ada semacam peluru di dekat monumen.


“Bentuknya seperti peluru kendali, tapi sudah hilang tidak tahu kemana. Kurang lebih 1999-an, bentuk ujungnya lincip ada di dekat tiang bendera,” tuturnya. Sumberboto diketahui adalah nama sumber mata air dari sembilan sumber mata air di kaki gunung Anjasmara.


Sumberboto sendiri terletak di Dusun Tempuran. Mata air sumberboto adalah sumber mata air terbesar yang dulunya digunakan sebagai tempat pemandian masyarakat setempat. Sejumlah sumber sejarah menyebut, setelah proklamasi atau ketika Belanda dan Sekutu menginvasi kembali wilayah Indonesia, Sumberboto menjadi tempat Pergerakan Organisasi Angkatan Muda Kehutanan yang terdiri dari Korps Karyawan Kehutanan.


Kemudian, 24 Agustus 1947 pergerakan itu resmi dibentuk dengan nama “Pasukan Wanara” di Sumberboto Jombang. Berjumlah 39 pasukan dan di komando pasukan kehutanan yang berada 1 devisi di bawah pimpinan Soedomo dan Soekiman. Pasukan Wanara juga telah mendapat pengesahan khusus dari Panglima Besar Jendral Soedirman.


Sehingga Komando pasukan Wanara sendiri berpusat di Jogjakarta, dan basis pasukannya tersebar di hutan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri, Sumberboto menjadi daerah Batalyon III yang berada di bawah pimpinan Soejarwo selaku asisten direktur kehutanan saat itu.


Dalam menghadapi invasi dari Belanda dan Sekutu, para pasukan Wanara di Sumberboto memanfaatkan sisa senjata peninggalan kolonial Jepang di Jombang dan sekitarnya. Khususnya di daerah dekat Pabrik Gula (PG) Tjoekir, yang dulu menjadi basis utama tentara Jepang ketika menginvasi pondok pesantren serta sumber gula tebu lainnya di Jombang.


Selain itu, Sumberboto juga menyimpan banyak peninggalan senjata. Terbukti dengan ditemukannya bom seberat 500 kilo di sungai. Pasukan Wanara saat itu berusaha mencari senjata berupa bom, granat, dan peluru untuk diambil mesiunya. Kemudian dikumpulkan dan dirakit ulang menjadi sebuah senjata baru dengan alat seadanya.


Ketika para pasukan Wanara mencoba merakit bom seberat 500 kilo yang ditemukan untuk diambil mesiunya dengan cara ditatah itulah tiba-tiba bom meledak. Hingga akhirnya lima pasukan Wanara gugur. Mereka adalah Soegondo (Komando Seksi 1), Kadjas (Komandan Regu Persenjataan), Djaudji (anggota Regu Persenjataan), Soewadji (anggota Regu Persenjataan) dan Tasdmidjan (anggota Regu Persenjataan).


Peristiwa ini terjadi 1948 silam. “Soejarwo selaku pimpinan Batalyon III pasukan Wanara, selamat. Karena letak beliau berjarak 15 meter dari titik ledakan,” kata Moch Faisol penelusur sejarah di Jombang.


Untuk mengenang peristiwa itu, atas perintah Soehando Sastrosadarpo yang menjadi Komando Batalyon IV Pasukan Wanara dan Kepala Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, dirikan Monumen Perjuangan Pasukan Wanara dan diresmikan 19 Juli 1970.

Editor : Binti Rohmatin