JOMBANG - Tarmin Hariadi adalah Bupati ke 14 Jombang. Ia memerintah dalam satu periode jabatan (1988-1993) dan merupakan pengganti dari Bupati Noeroel Koesmen di periode sebelumnya.
Pria kelahiran 14 Agustus 1942 ini memang bukan asli kelahiran Jombang. Data yang diperoleh Jawa Pos Radar Jombang menunjukkan, ia merupakan putra asli Cirebon. Tepatnya di Desa Karangwareg, Kecamatan Karangasem, Cirebon, Jawa Barat. Ia adalah anak ke lima dari enam bersaudara.
Lahir dari keluarga dengan latar keagamaan kuat, Tarmin kecil merupakan anak kampung yang sudah akrab dengan dunia dan kebudayaan santri. Seperti pernyataan anaknya Dede Rutana, anak keempatnya yang dikutip dari buku Biografi Para Bupati Jombang, menyebut jika Tarmin adalah putra kiai kampung atau yang biasa disebut ajengan bernama Ajengan Raswan.
“Sebagai putera pemangku masjid di desanya, Tarmin Hariadi tidak berbeda dengan anak-anak seusianya. Masjid bagi mereka telah dijadikan rumah kedua setelah rumah orang tua masing-masing. Kebiasaan tidur di masjid usai salat isya dan mengaji menjadi keasyikan tersendiri. Terutama bagi anak laki-laki, artinya mereka berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan melakukan puasa sunah dan salat malam untuk mengimbangi usaha mereguk ilmu sebanyak-banyaknya di bangku sekolah,” terang Dede di buku tersebut.
Menempuh pendidikan di Cirebon hingga SMA, dia kemudian melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi dan memilih jalan militer. Kembali dikutip dari buku yang sama, Tarmin tercatat pernah menempati jabatan strategis di TNI Angkatan Darat.
“Lulusan Akademi Militer Magelang angkatan 1965 ini pernah menduduki jabatan dari mulai Danton (Komandan Peleton) Yonif 511 Blitar, Danki Pan Yonif 511 Blitar, Wadanyon (Wakil Komandan Batalyon) 512 Malang, Danyon 512 Malang, dan Secaba Rindam V Brawijaya, Dandim Lumajang, Paban Madya MBS ABRI, Aspers Garnisun Surabaya, Wa Aspers Kodam V Brawijaya, Aspers Kodam V Brawijaya, Aster Kodam V Brawijaya, hingga Wakil Asisten Personalia (Wa Aspers) Kodam V Brawijaya. Hingga ketika sudah merengkuh pangkat kolonel, ia pun akhirnya menjabat Bupati Jombang tahun 1988,”.
Pernikahannya dengan Patonah, gadis yang telah dikenalnya semenjak sekolah, menghasilkan empat orang anak. Yakni Dudi Rudiana (lahir 1966), Tarina Handaningrum (lahir 1968), Tati Susilowati (lahir 1970), dan terakhir Dede Rutana (lahir 1974). “Untuk putra terakhir beliau ini sempat bekerja di Jombang sebagai salah satu staf Bappeda, tahun 2010,” ucap Dian Sukarno penulis dan tim peneliti buku Biografi Para Bupati Jombang.
Setelah memerintah di Jombang, Tarmin melanjutkan kiprahnya untuk menjadi Bupati Lumajang hingga lima tahun kemudian. Sedangkan posisinya di Jombang digantikan Bupati Soewoto Adiwibowo. “Pak Tarmin sempat diajukan untuk menjabat posisi strategis juga di Jawa Timur setelah pensiun dari Lumajang, tapi beliau lebih memilih untuk menikmati masa pensiun di Malang,” lanjut Dian.
8 Desember 2017, Tarmin Hariadi meninggal dunia setelah dirawat intensif di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang karena penyakit yang dideritanya.
Santri dari Tanah Pasundan
LAHIR sebagai anak kampung, Tarmin Hariadi memang salah seorang bupati dengan background pendidikan agama yang kuat. Tentu hal ini tak lepas dari didikan ayahandanya semenjak kecil.
Lahir sebagai putra pemuka agama yang cukup disegani di kampungnya, Tarmin memang menghabiskan masa kecil dengan pendidikan agama yang sangat cukup. Tak hanya itu, Ayahandanya, Kiai Raswan terus lekat dalam dirinya sebagai orang yang menginspirasi.
Kembali dalam wawancara dengan anak Tarmin di Buku biografi para Bupati Jombang Dede Rutana menggambarkan dengan betul, bagaimana kakeknya Raswan, inspirasi besar bagi ayahandanya tersebut.
“Sosok Kiai Raswan menjadi barometer awal seorang Tarmin Hariadi untuk meyakini prinsip-prinsip kehidupan. Justru dari keseharian sosok ayahnya yang kiai kampung itu meneguhkan pilihan jalan hidup yang menganut ajaran kesederhanaan, daya juang yang tinggi, dan memegang teguh ketauhidan,”.
Maklum, saat lahir, kondisi Indonesia sedang perang berkecamuk. Kondisi hidup sederhana dan seadanya membuat ia terlatih menjadi orang yang penyabar namun memiliki tekad kuat. “Karena prinsip itulah beliau akhirnya memilih jalan menjadi tentara dan masuk ke kemiliteran meski jiwa santrinya juga tak pernah hilang,” jelas Dian Sukarno kembali.
Dian menyebut, dipilihnya Tamrin sebagai Bupati Jombang juga bukan pilihan asal. Jombang dengan karakteristiknya yang unik, menurutnya memang sudah seharusnya dipimpin orang yang tak biasa dan khusus.
“Disitu saya melihat pak Tarmin punya dua hal kuat, satu di militer dia punya taji, secara keagamaan dia juga tidak diragukan. Karenanya memang pas jika ditempatkan di Jombang,” lanjutnya.
Selama memimpin, Dian menyebut beberapa contoh kejujuran dan kesederhanaan yang ditunjukkan Tarmin. “Seperti keluarga yang tidak pernah dapat jatah untuk proyek apapun, istrinya yang tetap bisa jadi ibu rumah tangga dan tidak bergantung pada pembantu, ini dikatakan anaknya sendiri ketika penelitian, dan itu bukti bagaimana pemimpin menunjukkan kesederhanaan dan kejujuran,” lontarnya.
Menurutnya, kemampuan Tarmin mengolah Jombang selama lima tahun dengan baik menunjukkan kemampuan managerial yang luar biasa. “Tidak mudah untuk seorang bupati bisa memimpin Jombang tanpa gejolak berarti, dan beliau termasuk spesial karena bisa melakukannya dengan baik,” sambung Dian.
Keeping Harmony, Gaya Bupati Tarmin
SEBAGAIMANA bupati-bupati lain saat memimpin Jombang, Bupati Tarmin Hariadi memang punya sikap tersendiri. Tak dikenal menonjol, corak kepemimpinannya memang banyak dirasakan dengan sangat menjaga harmonisasi.
“Beliau bukan orang yang bercorak agamis pemerintahannya seperti Pak Affandi (alm) misalnya, atau priyayi seperti Pak Woto, tapi menurut saya dalam pemerintahannya, harmonisasi itu dijaga betul,” ucap Dian Sukarno saat mengingat pemerintahan Tarmin.
Dirinya memang sempat merasakan bagaimana pemerintahan kala itu berjalan. Layaknya sebuah kerja militer, kepemimpinan di era Tarmin dirasanya memang cukup lempang dan tidak ada gejolak serius. “Memang tidak ada ledakan yang bisa diingat, namun jelas saat itu semuanya harmonis tanpa ada gejolak,” lanjutnya.
Hal ini dirasanya memang cukup berkaitan dengan sifat Bupati Tarmin sendiri yang terkenal pendiam dan kalem dan tidak aneh-aneh. “Jika ditanya prestasi tentu tidak bisa dibandingkan, tapi untuk urusan ketenangan mungkin beliau akan jadi nomor satu,” sambungnya.
Meski demikian, kegiatan rutin seperti event kebudayaan disebutnya tetap berjalan sebagaimana biasanya. Dengan tak banyak perubahan, Dian menyebut kerja Tarmin lebih berupa pelaksanaan tugas dengan lurus dan tekun.
“Era beliau saya sendiri masih mengalami, kesenian masih cukup berlangsung baik. Bahkan saya masih menyimpan beberapa piagam yang ditandatangani beliau. Kan beliau itu seperti kerja formal, menjalankan protap yang ada dan berjalan on the track lurus,” sambungnya.
Sehingga, tak banyak bangunan monumental ataupun karya megah yang berhasil diukirnya dan masih tersisa hingga kini. Namun di sudut kota Jombang, sebuah bangunan megah diam-diam tertulis namanya sebagai petugas peresi.
“Bangunan itu adalah teater plaza yang sekarang nampak tak lagi berfungsi dan terbengkalai. Tapi ya memang begitulah, beliau menjalankan protap sebagai penerima mandat dengan terjaganya harmoni, dan itu tidak buruk sama sekali,” pungkasnya.
Editor : Binti Rohmatin