JOMBANG - Meski tak banyak diketahui masyarakat Jombang secara umum, namun bagi beberapa orang yang masih meyakini keberkahannya, Mbah Pagon begitu biasa ia disebut, masih jadi salah satu tujuan ziarah.
Tak diketahui pasti kapan dirinya dilahirkan dan meninggal. Namun dari cerita yang disampaikan turun-temurun, Mbah Pagon dikenal sebagai seorang pemuka agama, sekaligus pemilik ilmu kanuragan yang cukup diakui kehebatannya di kawasan setempat.
“Nama aslinya itu Syeh Hambali, kalau asalnya darimana banyak yang menyebut dari Madura dan beliau diyakini salah satu prajurit Diponegoro yang melarikan diri hingga menemukan tanah di Jombang,” sebut juru kunci makam M. Syamsul Faridi.
Bahkan, beberapa orang menyebutnya sebagai pembabat alas Jombang, meski Syamsul menyebut hal itu masih diragukan kebenarannya. “Kalau mbabat alas mungkin tidak, cuma beliau ini kan setiap tempat yang disinggahinya menanam kelapa, dan hanya di sini yang kelapanya mampu tumbuh dengan dua warna yakni ijo (hijau, Red) dan abang (merah, Red) makanya nantinya disebut Jombang,” lanjutnya.
Sedangkan secara penampilan, dari keterangan Syamsul menunjukkan Mbah Pagon biasa tampil dengan balutan jubah dan ikat kepala. Ia menyebut penampilannya persis seperti yang digambarkan selama ini sebagai Pangeran Diponegoro.
Hal ini menurutnya seolah menjadikan keyakinan kuat jika Mbah Pagon memang salah satu dari bala tentara Diponegoro. “Dari mbah-mbah saya dulu kalau cerita, penampilannya ya persis Pangeran Diponegoro itu, kulitannya putih dengan jubah dan sorban melingkar,” sambungnya.
Tak saja sebagai ulama di wilayah tersebut, Mbah Pagon alias Syeh Hambali ini dikenal sakti. Bahkan diyakini, di lokasi tersebut dulunya juga menjadi padepokan bersama dua sahabatnya dalam melatih belajar ilmu kanuragan dan agama.
“Memang beliau punya perguruan bersama Mbah Hadi dan Mbah Mulyo, yang sekarang makamnya diletakkan bersebelahan tiga,” imbuh bapak dua anak ini.
Beberapa cerita tutur sempat terungkap dari Syamsul mengenai kesaktian yang dimiliki Mbah Pagon ini. Mulai dari kekuatannya yang seringkali mampu ditunjukkan ketika menghadapi penjajah Belanda, hingga muridnya yang juga disebutnya tak sedikit.
“Beliau memang tokoh disini dulu, mulai perlawanan kepada Belanda hingga pemimpin rakyat. Makanya sampai sekarang makamnya masih diziarahi orang karena diyakini berkah. Kalau muridnya tentu banyak, meski sekarang mungkin sudah sangat sulit terlacak,” imbuhnya.
Hingga saat ini, makam Mbah Pagon masih bisa dikunjungi. Letaknya berada di tengah-tengah kota, sekitar 200 meter selatan Kebon Rojo Jombang. Makam ini biasa dikunjungi banyak orang terlebih di malam Jumat dan malam Senin dengan berbagai tujuan. “Masih tetap ramai mas, biasanya di malam-malam itu (malam jumat dan malam senin, Red) banyak orang tahlilan di sini, kadang-kadang malah sampai malam,” sebutnya.
Jujugan Ngalap Berkah Pejabat
LOKASINYA yang menyempil di sebuah gang kecil ternyata tak juga membuat makam Mbah Pagon sepi pengunjung. Di malam-malam tertentu, pengunjung makam ini memang selalu ramai baik yang bertujuan untuk sekadar berdoa, bahkan hingga untuk tujuan khusus.
“Kalau malam saja ramainya, kalau siang begini ya memang sepi, apalagi kalau malam Jumat legi,” ucap Wilono salah satu pedagang Kebon Rojo. Meski tak menampik adanya beberapa orang yang ziarah dengan tujuan kesuksesan atau lancarnya karier, dirinya mengakutak tahu persis ritual apa-apa yang harus dikerjakan di lokasi. “Setahu saya ya ramai itu saja, perkara di dalam ada apa-apa saya juga nggak tahu,” lanjutnya.
Hal inipun diamini M. Syamsul Faridi, sang penjaga makam. Dirinya tak menampik perihal banyaknya orang yang datang ke lokasi tersebut untuk melakukan berbagai ritual. “Ya ada saja, tapi kepercayaan kan ya masing-masing, yang jelas kalau saya biasanya memang diadakan tahlilan disini. Kalau meminta apa-apa, tentu urusannya peziarah sendiri,” jelasnya.
Bahkan uniknya, menurut Syamsul makam kian ramai menjelang gelaran Pilkades, Pilkada dan Pemilu. Banyak orang yang akan datang kemari untuk melakukan doa dan permohonan hajat berharap ada berkah untuk kelancaran pencalonannya.
Bahkan, orang-orang yang datang tersebut disebutnya seringkali malah berasal dari kota-kota besar di Jawa Timur. “Nanti mau Pilkada atau Pilkades biasanya ramai, banyak yang sowan kemari. Banyak juga memang yang dari luar kota,” lanjutnya.
Bahkan ia menyebut, pembangunan makam hingga berbentuk bangunan permanen kini juga tak lepas dari jasa orang-orang yang disebut telah berhasil, setelah berdoa di tempat ini. “Dulunya makam ini ya cuma biasa, ada pohon besarnya di sebelah utara dan hanya ditutup kelambu. Kalau sekarang bisa seperti ini, memang ada saja orang yang membantu setelah sukses, setidaknya sudah 3 kali bangunannya dipugar, tapi struktur makamnya masih tetap,” imbuhnya.
Meski demikian ia menampik masalah ritual tak wajar di lokasi ini. Selama ini, ritual yang dijalankan peziarah masih dalam koridor yang benar dan dirinya pasti mendampingi. “Memang ada saja, kadang bakar kemenyan atau dupa, tapi tidak semua. Kebanyakan biasanya ritual ya baca doa saja di sini,” pungkas pria yang telah 35 tahun menjaga makam ini.
Editor : Binti Rohmatin