JOMBANG - Salah satu ulama besar yang dimiliki Jombang adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng serta pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Sebagai seorang ulama, pemimpin, juga Pahlawan Nasional, kiprahnya di dunia agama, kepesantrenan serta pembangunan negara ini tentu sudah tidak diragukan lagi. Sumbangsihnya untuk kepentingan bangsa dan umat begitu luar biasa.
Kiai kelahiran Jombang ini semenjak muda adalah seorang pencari ilmu yang sangat giat. Puluhan pesantren didatanginya untuk mencari ilmu baik di dalam maupun luar negeri. Antara lain Pesantren Wonokoyo Probolinggo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tenggilis, Pesantren Kademangan Bangkalan, Pesantren Siwalan Panji.
“Beliau bahkan belajar langsung ke Makkah selama 7 tahun di bawah asuhan Syekh Makhfudz Tremas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau,” jelas KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) cucu KH Hasyim Asyari, pengasuh Pesantren Tebuireng, semasa hidup dulu.
Tak heran jika beliau berhasil mendidik dan mencetak ulama besar dan tokoh yang berpengaruh lain. “Banyak tokoh nasional yang juga murid beliau, seperti KH. Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, juga banyak kiai besar yang lain, selain juga murid-murid tidak langsung beliau yang kini menjadi tokoh nasional dan ikut membangun bangsa,” tuturnya.
Bahkan, dengan banyaknya kiai serta tokoh besar yang lahir dari tangan dinginnya, beliau diberi gelar Hadratus-Syekh yang berarti maha guru. “Itu memang pantas karena beliau (mbah Hasyim, Red) memang dianggap sebagai gurunya para ulama yang lain,” lanjut Gus Solah.
Dalam kiprahnya mewujudkan kemerdekaan Indonesia, peran Mbah Hasyim bisa dikatakan sangat penting. Berkobarnya semangat santri dan pemuda Islam Indonesia untuk maju berjuang melawan penjajah Belanda melalui seruan jihadnya telah membuktikan kepeduliannya terhadap Indonesia yang harus merdeka agar Islam bisa tetap tegak di bumi Nusantara.
Tentu risiko dianggap sebagai pembangkang negara bahkan risiko dipenjara jadi bumbu dalam perjalanan seruan jihadnya. Beliau bahkan sempat di penjara selama tiga tahun di masa pendudukan Jepang karena menolak melakukan Seikerei (menunduk menghadap Jepang tiap pagi untuk menghormati Kaisar jepang dan Dewa Matahari).
“Namun berkat santri beliau yang sangat militan dan berdemo tiap hari ke penjara, beliau ahirnya kembali dilepaskan,” ungkapnya. Bahkan jelas Gus Solah, kiprah ayahnya yaitu KH Wahid Hasyim yang merupakan menteri agama pertama Indonesia juga sebenarnya juga tak lepas dari pengaruh KH Hasyim Asy’ari.
“KH Wahid Hasyim juga kan sebenarnya pengganti posisi Mbah Hasyim juga di pemerintahan, karena beliau (KH Hasyim Asyari, Red) tidak bisa meninggalkan Tebuireng dan tidak bisa berlama-lama menetap di Jakarta,” sambungnya. Dengan itu dirinya menganggap bahwa KH Hasyim As’yari tentu layak disebut berpengaruh besar terhadap pembangunan negara dan agama Islam.
Dikokohkannya pengakuan KH Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional lewat Surat Keputusan Presiden RI No.294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964 tentu menunjukkan jasa Mbah Hasyim bagi Indonesia telah sangat besar. Mengingat tak sembarang orang mampu memperoleh gelar tersebut.
“Pribadi seperti beliau sekarang ini sangat susah lagi dicari, Sebagai seorang ulama beliau berani mengutarakan seruan kebenaran apapun risikonya, sebagagai seorang pemimpin beliau tak kemaruk kekuasaan meski dinilai mampu. Tentu hadratussyaikh adalah sosok ulama yang pantas diteladani,” pungkas Gus Sholah.
Tawadhu Kepada Guru Selama Hidup
BANYAK cerita-cerita kecil yang meggambarkan bagaimana Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari adalah sosok ulama besar namun menjunjung tinggi tawadhu. Cerita yang paling akrab di telinga santri -santri khususnya Pesantren Tebuireng yang tetap terjaga hingga kini adalah bagaimana saling menjaga tawadhu dengan gurunya yang di lain hari juga menjadi muridnya sendiri.
Seperti dikisahkan dalam hubungannya dengan KH Mochammad Cholil atau yang biasa disebut Syekhona Kholil Bangkalan, gurunya di Pesantren Kademangan Bangkalan. Suatu hari, KH Hasyim Asy’ari yang memang seorang ahli hadits biasa menggelar pengajian kitab kuning hadits ternama yaitu Kitab Bukhari Muslim tiap 20 Sya’ban hingga sekitar 20 Ramadan tiap tahunnya didatangi oleh banyak murid dan kiai termasuk salah satunya adalah Syaikhona Cholil Bangkalan gurunya di pesantren dulu.
Mengetahui yang akan diajarnya adalah gurunya, tentu saja Hadratussyekh menolak pada awalnya karena menurutnya akan sangat tidak pantas jika seorang murid mengajar gurunya sendiri. Namun dengan paksaan dan Hadratussyekh yang tahu betul tabiat gurunya, beliau tetap menerima dengan beberapa syarat.
Syarat yang diajukan yaitu selama Syekhona Cholil mengaji di pesantren, dan beberapa kiai lain tidak boleh mencuci pakaian dan menyiapkan makanannya sendiri dengan alasan semua kebutuhan akan disiapkan oleh santri Tebuireng. Namun ketika malam tiba dan semua kiai tengah tertidur pulas, diam-diam ada orang yang mengambil pakaian kiai-kiai ini.
Mbah Cholil yang mengetahui kejadian itu dan melihat ada yang janggal, berusaha menyelidiki dan mengejar santri yang mengambili bajunya untuk dicuci.
Ternyata yang melakukannya adalah Hadratussyekh sendiri, beliaulah yang tiap malam mencuci baju-baju kiai yang belajar hadits di pesantrennya sendiri. Mengetahui ini tentu ada perdebatan panjang antara kedua kiai besar ini yang berujung kepada permintaan maaf dan pelukan keduanya seraya tangisan.
Hadratussyekh menganggap tindakannya ini adalah wujud baktinya pada guru yang telah mengajarnya di pesantren dulu, namun sebaliknya bagi Mbah Cholil, ini adalah tindakan yang menyentuh hati karena posisinya saat itu tengah menjadi santri dari Hadratussyekh.
Cerita lain menggambarkan bagaimana kedua kiai besar di Pulau Jawa ini harus saling berebut keluar masjid untuk berebut lebih dulu menata dan memasang sandal kepada gurunya. “Tentu ini adalah pelajaran langsung dari Mbah Hasyim bagaimana adab terhadap seorang guru. Sekali menjadi seorang murid, selamanya Mbah Hasyim akan tawadhu terhadap gurunya, dalam apapun kondisinya,” jelas Gus Sholah.
Sekadar diketahui KH Mochammad Cholil juga adalah salah satu ulama besar di Jawa Timur. Beliau sangat termasyhur pada zamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, ini.
Keturunan Ke-7 Jaka Tingkir
LAHIR di Dusun Gedang Kecamatan Diwek pada Tanggal 10 April 1875 atau 24 Dzulqaidah 1287H dan wafat di Jombang pada tanggal 25 Juli 1947 atau 6 Ramadan 1366 H. Memiliki nama lengkap Mohammad Hasyim Asy’ari, Hadratussyekh merupakan anak ke-3 dari 11 bersaudara.
Ayahnya yang juga mengasuh Pondok Pesantren Keras, sebuah pondok kecil di Desa Keras sebelah barat Tebuireng bernama Kyai Asy’ari adalah juga seorang ulama yang juga menantu dari Kyai Ustman pengasuh Pondok Pesantren Gedang Jombang. Dari garis keturunan ibunya, Nyai Halimah, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari adalah keturunan ke tujuh dari Jaka Tingkir (Mas Karebet) .
Tak heran dengan pengajaran dari ayah dan kakeknya yang merupakan ulama besar di Jombang. Hadratussyekh sejak kecil memang telah dikenal sebagai pemimpin di kelompok-kelompok yang beliau ikuti sejak masa kecil. “Bahkan di usia yang baru 13 tahun, Mbah Hasyim sudah ikut mengajar ngaji bersama Kyai Asy’ari, yang diajarpun usianya banyak yang jauh diatas beliau,” papar Gus Sholah.
Proses Hadratussyekh dalam mendirikan Pesantren Tebuireng juga tak mudah. Gus Sholah dalam bukunya “Mengenal Lebih Dekat KH Hasyim Asy’ari” menggambarkan, pendirian Pesantren Tebuireng memerlukan proses panjang dan berliku. Kawasan Tebuireng yang dulunya dalah sarang maksiat karena lokasinya yang dekat dengan Pabrik Gula Tjoekir sehingga biasa dijadikan para pekerja berfoya-foya oleh pekerja pabrik setelah menerima gaji merupakan tantangan tersendiri.
“Bahkan Hadratussyekh harus mendatangkan pendekar dari Cirebon untuk mengajari santri ilmu kanuragan untuk bertahan menghadapi preman-preman kala itu,” tulis Sus Sholah di bukunya.
Namun berkat kegigihan dan usaha tak kenal menyerah, beliau yakin bahwa kebenaran akan selalu menang dengan izin Allah. “Tentu ini wujud dari karomah dan usaha gigih beliau, jika bukan beliau yang mendirikan mungkin Pesantren Tebuireng tak akan bisa sebesar ini,” ujarnya.
Hadratussyekh tercatat memiliki beberapa kali pernikahan yang kesemuanya dengan putri ulama ternama. Istri pertama belau Nyai Hj Khadijah putri Kyai Ya’qub pengasuh Pesantren Siwalan Sidoarjo adalah istri yang mendampinginya hingga meninggal saat menemani Hadratussyekh belajar di Makkah, dari pernikahan pertamanya ini beliau dikaruniai putra yang juga meninggal di Makkah.
Setelah pulang ke Indonesia pasca meninggalnya Nyai Hj Khadijah, KH Hasyim Asyari kembali menikah dengan Nyai Nafiqoh, yaitu putri dari Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 10 orang anak, namun Nyai Nafiqah yang meninggal dunia di akhir dekade 1920-an.
Selepas itu, Hadratussyekh kembali menikah Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri, Jawa Timur. Dari pernikahan ini, Kiai Hasyim Asy’ari dikaruniai empat orang anak.
Editor : Binti Rohmatin