JOMBANG - Sosok kiai yang satu ini juga tak diragukan kiprahnya di dunia Islam Indonesia. Bersama gurunya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari juga sahabat sekaligus saudaranya KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri seringkali dianggap sebagai tri tunggal ulama Jombang yang kiprahnya untuk bangsa dan negara sangat besar.
Meski menetap dan dan mendirikan pesantren di Jombang hingga akhir hayat, KH Bisri Syansuri adalah ulama yang lahir dan tumbuh besar di kawasan pesisir utara Jawa Tengah. Tepatnya lahir di Desa/Kecamatan Tayu, Kabupaten Jawa Tengah pada tanggal 18 September 1886 M / 28 Dzulhijjah 1304 H. Wafat di usia 96 di Jombang pada 25 April 1980 M / 19 Jumadil Akhir 1400 H.
Lahir sebagai anak ketiga dari pasangan Syansuri dan Mariah, sejak kecil Mbah Bisri, begitu beliau akrabnya, dipanggil telah diasuh dan berkembang di lingkungan yang sangat menghormati dan memegang teguh agama Islam.
Seperti ulama besar kebanyakan, Mbah Bisri juga tercatat sebagai seorang yang haus ilmu agama sejak kecil. Di usianya yang masih 15 tahun, setelah genap menimba ilmu Alquran dan tajwid dari ayahnya dan juga Kiai Sholeh yang sekampung dengannya, telah merampungkan dasar kitab kuning di bawah asuhan KH Abdussalam di Pondok Pesantren Kajen, Margoyoso.
Ia telah mantap untuk melakukan pengembaraan mencari ilmu dari pesantren ke pesantren di wilayah lain Pulau Jawa. Awalnya, belajar kepada KH Khalil di pesantren Kasingan Rembang, kemudian KH Syuaib di Pesantren Sarang Lasem.
Tak puas dengan itu dirinya menjajaki tanah Madura untuk belajar langsung kepada KH Khalil Bangkalan dan akhirnya di Pesantren Tebuireng dengan asuhan langsung KH Hasyim Asy’ari.
Seakan tak puas menimba ilmu di nusantara, bersama sahabat karibnya semasa di pesantren Kademangan dan Tebuireng KH Wahab Hasbullah, Mbah Bisri berkelana melintasi belahan bumi lain untuk menuju Makkah, belajar dengan asuhan kiai besar lainnya.
Seperti Syaikh Umar Bajaned, Syaikh Muhammas Said Al Yamani, Syaikh Baker, Syaikh Saleh Bafadlal, Syaikh Jamal Al Maliki, Syaikh Abdullah, Syaikh Ibrahim Al Madani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Syuaib Daghestani dan Syaikh Mahfudz At Tarmsy.
Lahir dan tumbuh di pesisir pantai dalamn lingkungan taat agama, tidak neko-neko serta pengembaraannya ke berbagai pesantren, dibawah asuhan kiai-kiai besar, membentuk Mbah Bisri sebagai orang yang kalem cenderung tegas. Ia diakui sebagai ulama yang ahli dalam hal Ilmu Fiqh.
“Sikapnya selama belajar yang cenderung tekun dan rajin serta menyukai rutinitas, lebih suka membenamkan diri ke dalam pola hidup sebaya daripada menonjolkan kiprahnya, berakibat langsung kepada pola kehidupannya di kemudian hari, dan menjadi kiai ditempatnya sendiri,” tulis Jamal Ghofir, di bukunya saat menggambarkan sosok Mbah Bisri, ketika belajar dan mencari ilmu.
Pernyataan ini juga dibenarkan oleh cucu Mbah Bisri yang kini menjadi salah satu pengasuh PP Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib. “Mbah Bisri memang dikenal sebagai ulama yang sangat istiqomah, beliau memiliki rutinitas seperti bangun tegah malam untuk tahajud sampai menjelang subuh, kemudian shalat subuh dan setelah itu mengajar langsung santri membaca Alquran,” jelasnya.
Menurut Gus Salam, panggilan akrabnya, Mbah Bisri merupakan seorang ahli fiqh yang sangat memegang teguh nilai fiqh. “Beliau orang yang sangat teguh memegang nilai fiqh, untuk urusaan hukum agama, beliau sangat menganut Imam Syafi’i dan berhati-hati sehingga memang terkesan kuno, tapi memang itulah beliau,” lanjutnya.
Tentu pelajaran tersebut bisa diambil bagaimana seorang ulama besar yang teguh memegang keyakinan. Ketundukannya terhadap aturan agama memang terkesan aneh untuk dipandang di jaman yang sudah modern ini. Namun itulah Mbah Bisri, kiai yang menurutnya punya validitas sendiri dalam memutuskan langkah. “Keteguhan hati semacam ini tentu sudah sangat sulit ditemukan dan merupakan akhlak yang sangat patut dicontoh,” tegasnya.
Bersikap Lentur tapi Tegas
KH Bisri Syansuri juga terkenal sebagai orang yang terkadang bersifat lentur, akan tetapi tetap memiliki ketegasan yang khas. Terutama ketika menghadapi masyarakat lemah dan awam. Seperti saat pendirian Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, yang ketika itu adalah wilayah yang syarat dengan kegiatan hitam.
Dikatakan hitam karena Denanyar yang terletak di Jalan Raya Jombang-Madiun dan Jombang-Surabaya, serta lokasinya yang tak jauh dari pabrik gula membuat lokasi ini menjadi sarang maksiat dan berbagai macam aktifitas kejahatan.
Bromocorah merajalela, bahkan penguasa Desa Denanyar ketika itu adalah orang yang lebih mengandalkan pertarungan fisik daripada pendekatan pembicaraan.
Kedatangannya ke Denanyar meski dengan misi mendirikan pondok pesantren, dan merubah pola kehidupan masyarakat sekitar. Mbah Bisri melakukannya dengan tidak menyerang langsung.
Kedatangannya membawa nilai baru tak sekonyong-konyong dipertentangkan dengan nilai moral yang telah ada, untuk kemudian menjungkir-balikkan nilai dan norma yang telah ada. Lebih memilih untuk menggunakan pendekatan pemberian contoh.
Mbah Bisri lebih memilih menerima orang yang mau berubah dirumahnya secara berangsur-angsur. Dengan cara itu, Mbah Bisri mendapatkan dua hal sekaligus.
Pertama, pandangan masyarakat yang lambat laun mulai berubah terhadap dirinya. Kedua, terundangnya masyarakat sekitar untuk datang dan belajar kepadanya. Dan cara ini terbukti efektif karena lambat laun, semakin banyak santri baik dari lingkungan sekitar maupun wilayah lain, yang menimba ilmu di pondok pesantren yang didirikannya hingga kini.
Contoh lain adalah bagaimana menerapkan hukum yang sangat berat dengan dasar fikih dalam hidup untuk keluarga dan santrinya, namun akan lebih lunak kepada masyarakat awam. “Seperti kalau zakat, kita keluarga dan santri beliau akan mewajibkan 2,7 kg walaupun ada pendapat ulama lain yang mengatakan 2,5 kg atau yang lain,” kata Gus Salam kembali.
“Namun ketika ada masyarakat yang awam meminta fatwa ke beliau tentu beliau akan mengungkapkan fatwa berat dengan saran untuk juga sowan ke Mbah Wahab, karena mungkin Mbah Wahab lebih ringan dalam memberikan fatwa, itulah wujud lunaknya Mbah Bisri, karena memang orang yang ikhlas dan tidak butuh disanjung,” lanjutnya.
Ada juga cerita Gus Dur tentang bagaimana KH Bisri Syansuri mempunyai seorang khodam (abdi, pembantu, Red) yang juga tabibnya bernama Sadi. Tabib ini merupakan tabib ahli dalam penyembuhan sakit gigi.
“Ketika mengobati Mbah Bisri pakai surat An-nas, tapi akhir suratnya diganti jadi minal jinnati WARAS!! (seharusnya minal jinnati wan naas,Red), tapi Mbah Bisri ya nggak mempermasalahkan itu, padahal beliau ahli fikih,” cerita Gus Salam.
Hal tersebut dianggapnya sebagai bentuk toleransi terhadap nilai yang dianggap benar orang lain. “Padahal kalau mengajar Fatihah ke santri saja, satu surat Al Fatihah itu bisa sampai berbulan-bulan baru selesai, saking beliau berpegang ke fikih, dan beliau menganggap kalau Fatihah belum benar maka keabsahan salat juga diragukan,” terangnya.
Bahkan tak jarang dalam hubungannya dengan KH Wahab Hasbullah, beliau seringkali mengalami silang pendapat hingga saling serang di dalam forum.
Namun ketika forum selesai ikatan saudara akan kembali seperti semula dan seolah perbedaan pendapat tak menghalangi seseorang untuk tetap berhubungan baik. Sebuah nilai yang patut diteladani bagaimana seorang yang berilmu, memang harus mengedapankan akal sehat dalam melakukan perubahan.
Bagi Mbah Bisri, perubahan tak harus dilakukan dengan menyerang secara membabi buta atas pandangan yang tak sesuai. Dengan kondisi masyarakat kini yang mulai rentan terhadap toleransi terhadap perbedaan pandangan, KH Bisri Syansuri dapat jadi salah satu tokoh yang patut untuk diteladani akhlaknya. Bahwa perbedaan tak perlu menghalangi seseorang untuk tetap hidup berdampingan.
Sayang Istri, Tak Meninggalkan Tawadhu’
MBAH Bisri merupakan ulama yang sangat menghormati dan menyayangi istrinya, Nyai Hj Nur Khodijah. Sebagai bukti rasa sayangnya terhadap istri yang juga adik sahabatnya, yaitu KH Wahab Hasbullah ini beliau membuat sebuah gebrakan yang menjadi terobosan baru bagi dunia pesantren kala itu. Dengan membuka pertama kali pendidikan pesantren khusus santri putri.
Langkah yang diambilnya tahun 1919 itu cenderung aneh dalam kebudayaan pesantren, khususnya Jawa Timur. Langkah yang diambilnya ini sampai-sampai mengundang gurunya, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk datang langsung dan melihat proses pembelajaran di pesantren putri tersebut.
“Waktu itu ya yang belajar memang anak-anak dari kalangan tetangga sekitar saja, yang mengasuh ya langsung Nyai Khadijah,” papar KH Abdussalam Shohib.
Dengan keuletannya, pesantren putri ternyata mampu berkembang dengan baik. “Kita mungkin satu-satunya pesantren yang punya masjid dan bukan musala khusus untuk santri putri, dan masjid lain di pesantren putra, jadi ada dua masjid,” lanjutnya.
Usaha tersebut kemudian diamini oleh hampir seluruh pondok pesantren yang kini telah berkembang. Tentu sangat langka menemukan pemikiran, bahwa perempuan saat itu juga berhak untuk mendapatkan hak sama dalam pendidikan.
“Suatu kebanggaan pula karena Mbah Bisri mampu memelopori hal itu (pendidikan perempuan, Red), selain langkah itu juga menurut saya adalah bukti kecintaan beliau terhadap nyai Khadijah,” terang Gus Salam.
Dengan kecintaan terhadap istri yang besar, bukan berarti menurunkan derajatnya dalam hal tawadhu’ khususnya terhadap guru. Sebagai ulama besar, Mbah Bisri tidak menjadi orang yang tinggi hati.
“Ada sebuah cerita ketika KH Wahid Hasyim sedang berkunjung ke Denanyar, kemudian secara spontan Nyai Khadijah berkata kepada Mbah Bisri kalau dirinya ingin memiliki menantu yang baik dan saleh seperti Mbah Wahid,” ceritanya.
Mendengar hal tersebut KH Bisri Syansuri menjawab dengan nada tawadhu’. “Kita ini kayak katak yang kepingin bulan bu, Nak Wahid itu anak Hadratussyaikh tentu bukan hal yang pantas jika saya mengharap anak guru saya jadi menantu,” kata gus Salam menirukan kakeknya.
Meski pada akhirnya pernikahan antara KH Wahid Hasyim yang merupakan anak KH Hasyim Asy’ari dan juga Nyai Sholihah yang merupakan putri dari KH Bisri Syansuri tetap terjadi. Cerita tersebut menunjukkan bahwa tawadhu’ yang dimiliki Mbah Bisri tetap dikedepankan.
Beliau yang sebagai murid Hadratussyaikh, selamanya akan menjadi murid dan akan menjadi sangat tidak pantas jika seorang murid mengharapkan sesuatu diluar ilmu yang diberikan oleh sang guru kepadanya.
Editor : Binti Rohmatin