Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tiga Pahlawan Nasional dari Jombang (2); KH Abdul Wahid Hasyim

Binti Rohmatin • Selasa, 18 Agustus 2020 | 14:25 WIB
Tiga Pahlawan Nasional dari Jombang (2); KH Abdul Wahid Hasyim
Tiga Pahlawan Nasional dari Jombang (2); KH Abdul Wahid Hasyim


HUT Kemerdekaan Indonesia dimeriahkan Jawa Pos Radar Jombang dengan menyajikan edisi khusus, berisi tentang kilas balik perjuangan tiga tokoh besar asal Jombang yang menyandang gelar pahlawan nasional, masing-masing KH M Hasyim Asy’ari, dan KH A Wahid Hasyim dan KHA Wahab Chasbullah.


Selain itu, KH Bisri Syansuri saat ini juga tengah dalam proses pengusulan gelar pahlawan nasional.


Di Jawa Timur sendiri, sampai dengan 2019 terdapat 26 nama Pahlawan Nasional. Terbanyak kedua setelah Jawa Tengah. Sedangkan Jombang menjadi salah satu di antara sedikit daerah yang mempunyai tiga Pahlawan Nasional sekaligus.


Penetapan KH A Wahid Hasyim sebagai Pahlawan Nasional, dilakukan 24 Agustus 1964 berdasar Keppres Nomor 206 Tahun 1964. Kemudian KHM Hasyim Asy’ari ditetapkan Pahlawan Nasional pada 17 November 1964, berdasar Keppres Nomor 294 Tahun 1964. Terakhir, KHA Wahab Chasbullah ditetapkan Pahlawan Nasional pada 6 November 2014, berdasar Keppres Nomor 115/TK/2014.




KH Abdul Wahid Hasyim; Anggota BPUPKI, Perumus Dasar Negara


TOKOH nasional asal Jombang satu ini tak asing nama dan kiprahnya di Indonesia. Kemampuannya untuk menyerap ilmu pengetahuan untuk kemudian disebar luaskan sejak kecil juga telah masyhur. Kepiawaiannya dalam bidang organisasi serta sumbangsihnya di dunia pendidikan juga tak perlu dipertanyakan lagi.


Ya, beliau adalah KH Abdul Wahid Hasyim, putra dari KH Hasyim Asy’ari yang juga turut membantu dan meneruskan perjuangan ayahanya hingga akhir hayat. Lahir di Jombang 1 Juni 1914, Pak Id, begitu keluarga akrab menyapanya, adalah putra kelima dari pasangan KH Hasyim Asy’ari dengan Nyai Hj Nafiqoh.


Lahir dari  keluarga yang taat beragama, Abdul Wahid Hasyim telah menunjukkan kemampuan luar biasa sejak kecil. Belajar berbagai ilmu baik Alquran dan hadits dari ayahnya sendiri, kiai Wahid kecil sudah menuntaskan pendidikannya pada usia sangat muda 12 tahun.


Almarhum KH Salahuddin Wahid, salah satu putra Pak Id, pernah bercerita di usia 13 tahun KH Wahid Hasyim mulai mengajar di pesantren Tebuireng. Hal ini tentu tak lepas dari hobi dan kebiasaannya yaitu membaca. KH Wahid Hasyim memang dikenal sebagai orang yang sangat gemar membaca.


Banyak tulisan yang menggambarkan beliau senang sekali membaca majalah dan buku dari berbagai bahasa baik Belanda, Inggris maupun Arab. Tak heran jika kemudian beliau sangat berpikiran terbuka dan mampu mengetahui berbagai hal yang bahkan mungkin belum banyak diketahui oleh pemuda seusianya di masa itu. 


“Padahal untuk belajar huruf latin, di pondok tidak diajarkan, jadi memang harus belajar sendiri,” cerita almarhum Gus Sholah saat itu. Beliau juga menjadi orang yang memberikan perubahan di dalam ranah kajian ilmu dan kurikulum di Ponpes Tebuireng. Sistem salaf yang sebelumnya digalakkan oleh Mbah Hasyim, dilengkapi pula oleh pengajaran dan kurikulum umum oleh dirinya.


Sebagai seorang anak kiai besar yang haus ilmu pengetahuan, beliau juga melakukan tradisi mengembara ke berbagai pondok pesantren. Pernah ke Pondok Siwalan Panji Sidoarjo, Pondok Lirboyo Kediri, dan lainnya. Namun yang unik, berpindah ke berbagai pondok itu berlangsung sangat singkat. Karena masa pengembaraannya berlangsung 2 tahun untuk kembali ke pesantren Tebuireng.


Selain sebagai pelajar yang baik, beliau juga dikenal sebagai tokoh pelopor pendidikan. Di pesantrennya juga penulis yang cukup produktif, terlebih ketika usianya menginjak 20 tahun dan baru saja pulang dari tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan menetap selama beberapa waktu di sana. 


Usia 20 tahun itu, Pak Id sudah mendirikan Madrasah Nidhomiyah sendiri. Di bawah kepemimpinan Pak Id, Madrasah Nidhomiyah menjadi pesantren pertama yang mengajarkan ilmu berhitung dan menulis huruf latin. ”Saat itu banyak yang heran, kok ada pesantren yang mengajarkan dua ilmu itu. Karena dulu, pesantren itu hanya diniyah (ilmu agama). Isinya mengaji saja,” ungkap KH Muhammad Irfan Yusuf, cucu keponakan KH Wahid Hasyim, kemarin (16/8).


Selain itu KH Wahid Hasyim juga seorang penulis yang sangat produktif. Sejumlah tulisan berupa artikel-ertikel keagamaan, bahasa maupun politik maupun kegiatan surat menyurat seringkali ia lakukan untuk dirinya sendiri, juga untuk membantu ayahandanya.


Di organisasi NU, KH Wahid Hasyim mampu membangun organisasi lebih baik. Ia masuk di tataran paling dasar dulu, yaitu dari cabang Diwek setelah itu naik terus. Hingga akhirnya ia menduduki pucuk pimpinan PBNU bidang Maarif pada 1940. Di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Pak Id juga menjadi salah satu dari tim sembilan yang merumuskan Pancasila dan menghilangkan kata penting di sila satu Pancasila dan lahirlah piagam Jakarta.


”Ada cerita heroik, istri KH Wahid Hasyim menyembunyikan puluhan pucuk senjata milik pejuang Hizbullah di balik bak air yang diduduki beliau sambil mencuci di sumur. Pasukan Belanda datang ke Tebuireng untuk mencari pejuang, tapi tidak berhasil menemukan,” tambah Gus Irfan.


Pak Id harus dipanggil Allah SWT di usia yang masih sangat muda. Tepatnya 39  tahun, atau meninggal pada 19 April 1953 saat perjalanan menuju Sumedang  untuk menghadiri  rapat pengurus Nahdlatul Ulama. KH Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI Nomor 206 Tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964. Penetapan Pak Id sebagai Pahlawan Nasional, terjadi lebih dulu dari ayahnya yang baru ditetapkan 17 November 1964.

Editor : Binti Rohmatin