HUT Kemerdekaan Indonesia dimeriahkan Jawa Pos Radar Jombang dengan menyajikan edisi khusus, berisi tentang kilas balik perjuangan tiga tokoh besar asal Jombang yang menyandang gelar pahlawan nasional, masing-masing KH M Hasyim Asy’ari, dan KH A Wahid Hasyim dan KHA Wahab Chasbullah.
Selain itu, KH Bisri Syansuri saat ini juga tengah dalam proses pengusulan gelar pahlawan nasional.
Di Jawa Timur sendiri, sampai dengan 2019 terdapat 26 nama Pahlawan Nasional. Terbanyak kedua setelah Jawa Tengah. Sedangkan Jombang menjadi salah satu di antara sedikit daerah yang mempunyai tiga Pahlawan Nasional sekaligus.
Penetapan KH A Wahid Hasyim sebagai Pahlawan Nasional, dilakukan 24 Agustus 1964 berdasar Keppres Nomor 206 Tahun 1964. Kemudian KHM Hasyim Asy’ari ditetapkan Pahlawan Nasional pada 17 November 1964, berdasar Keppres Nomor 294 Tahun 1964. Terakhir, KHA Wahab Chasbullah ditetapkan Pahlawan Nasional pada 6 November 2014, berdasar Keppres Nomor 115/TK/2014.
KH A Wahab Chasbullah, Pencipta Syair Ya Lal Wathon
NAMA KH Abdul Wahab Chasbullah juga tak asing di Indonesia. Kiai ini dikenal sebagai penggerak sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama KH Hasyim Asy’ari. Mbah Wahab adalah Pahlawan Nasional ketiga yang dimiliki Jombang.
Jiwa ideolog yang haus ilmu, membuat Mbah Wahab berkelana menimba ilmu ke banyak pondok pesantren di Indonesia. Meskipun dirinya telah dianugerahi status sosial yang cukup tinggi sejak lahir.
Dilahirkan di Desa Tambakrejo pada Maret 1888 dan wafat pada 29 Desember 1971. Terlahir dari pasangan Chasbullah dan Nyai Lathifah yang merupakan anak Kiai Said yang juga seorang menantu dari KH Abdussalam atau yang kebih dikenal dengan Mbah Shoichah. Salah seorang Kiai besar pendiri Pondok Pesantren Gedang atau biasa dikenal dengan Pondok Selawe atau juga Pondok Telu.
Berdasarkan garis keturunannya, kakek Mbah Wahab yaitu Kiai Said adalah seorang kiai yang masih keturunan Sunan Pandan Arang Semarang yang jika diturut garis keturunannya akan bersambung kepada Siti Fatimah Binti Muhammad. Neneknya adalah keturunan dari mbah Shoichah yang merupakan keturunan dari Jaka Tingkir (Mas Karebet) yang juga keturunan Prabu Brawijaya IV.
Sedangkan dari garis ibunya, Nyai Lathifah adalah salah satu keturunan Sunan Ampel. “Dengan itu maka darah ningrat memang mengalir deras di Mbah Wahab dari banyak jalur. Oleh karena itulah seringkali disematkan nama Raden di depan nama KH Abdul Wahab Chasbullah,” tulis Jamal Ghofir di bukunya Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah pendiri dan penggerak NU.
Lahir dan besar di lingkungan pesantren membuat Mbah Wahab memang tumbuh dengan nilai dan karakter pesantren yang kuat. Bahkan di usianya yang masih 13 tahun, telah memulai pengembaraannya dari pesantren satu ke pesantren lainnya.
Selama 20 tahun lamanya, Mbah Wahab singgah dan belajar berbagai ilmu dari beberapa pondok pesantren antara lain Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Cepoko, Pesantren Tawangsari Sepanjang, Pondok Pesantren Kademangan Bangkalan, Pesantren Bangahan Kediri dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Bahkan setelah puas menimba ilmu di Indonesia, beliau bermukim di Makkah untuk belajar ilmu kepada berbagai kiai ternama. Selama lima tahun bermukim, beliau belajar kepada KH Mahfudz at-Tarmisy Termas, KH Mukhtarom Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Kiai Baqir Jogjakarta, Kiai Asy’ari Bawean, dan Syaikh Abdul Hamid Kudus.
Ada cerita unik tatkala beliau sedang menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Sesampainya di Pondok Kademangan, beliau ditolak ketika mengutarakan keinginannya menimba ilmu kepad Kiai Kholil. Namun bukannya pulang, beliau malah tidur di bawah bedug masjid pondok tersebut. Mengetahui itu Kiai Kholil menyampaikan ada seekor macan yang sedang berdiam di pesantrennya.
Kontan saja santri Mbah Kholil kemudian berjaga dengan senjata dan siaga penuh. Namun belakangan diketahui bahwa yang dimaksud macan tersebut adalah Mbah Wahab itu sendiri sehingga dirinya sempat dikepung oleh santri-santri Mbah Kholil. Mbah Wahab juga sempat diusir KH Kholil tanpa alasan yang jelas, namun itu tentunya dalah cara atau pendidikan yang diberikan KH Kholil terhadap Mbah Wahab.
Berkat keteguhan hatinya tersebut, KH Kholil akhirnya menerimanya sebagai santri hingga kemudian menyuruhnya berguru ke Tebuireng kepada KH Hasyim Asy’ari.
Kisah-kisah tersebut menunjukkan meskipun derajat sosial Mbah Wahab sangat tinggi, namun tidak membuat cepat berpuas diri. Terlahir di keturunan orang berada dan juga cendekiawan dan ulama membuatnya kian getol untuk menimba ilmu-ilmu lain di luar lingkungannya.
Ilmu-ilmu inilah nanti yang membuat beliau mampu menjadi orang yang arif dalam menganggapi berbagai isu di masyarakat. Mengingat beliau semanjak muda juga terkenal sebagai orang yang menyukai kelompok-kelompok diskusi dan mendiskusikan berbagai hal dengan kaca mata yang luas.
Meski tergolong tokoh dengan banyak jabatan di pundak dan super sibuk seperti anggota DPR, Rais Aam NU dan DPA zaman orde lama dan lain sebagainya, Mbah Wahab dikenal keluarganya sebagai seorang ayah dan pemimpin keluarga tegas namun tetap hangat. Pribadinya yang humoris serta moderat juga berpengaruh terhadap pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada anak-anaknya.
Hj Mundjidah Wahab, salah satu putri Mbah Wahab sekaligus Bupati Jombang beberapa waktu lalu pernah mengatakan, pemikiran Mbah Wahab yang moderat membuat pengasuhan terhadap anak-anaknya juga menerapkan sistem yang tidak otoriter.
“Artinya semua anaknya diberikan keleluasaan untuk memilih mau jadi apa dan kepingin belajar apa. Pengajaran beliau memang sangat modern,” jelasnya mengenang sosok ayahanda tercintanya.
Meski Kiai Wahab Chasbullah lebih sering tinggal di Jakarta semasa dirinya kecil, namun ia mengaku setiap bulan Ramadan, ayahandanya tak ragu untuk pulang dan mengajar kitab langsung kepada anak-anaknya juga santri di pondok pesntren yang ia pimpin. “Kalau untuk anak-anaknya, biasanya kitab Fathul Qarib (salah satu kitab fikih, Red). Kalau khataman untuk santri ya kitab tafsir, biasanya setelah salat tarawih,” lanjutnya.
Dalam kesibukannya di Jakarta, Mbah Wahab seringkali juga mengajak anak-anaknya untuk datang ke rumah di Jakarta untuk diajak liburan bersama dan terkadang mengikuti beberapa kegiatan.
“Waktu tujuh belasan masa Pak Karno dulu pernah diajak ke istana. Pernah juga saya diajak menyambut Presiden Yugoslavia, tentu waktu itu kita sangat senang,” sambung pengasuh Ponpes Wahabiyyah 1 dan Ponpes Putri Lathifiyah 2 PPBU ini.
Seringkali pula di waktu senggangnya, Mbah Wahab tak segan untuk bercanda lepas dengan anak-anaknya. “Kadang-kadang memang abah itu usil, jadi beliau tiba-tiba praktik pencak di depan saya dan saudara, jelas saja kami lari-lari kemudian dikejar-kejar juga sama abah sambil tertawa,” kenangnya.
Namun pelajaran berharga yang diakui Mundjidah adalah pelajaran tentang menghargai keluarga. “Sebelum hari raya biasanya abah bawa kain satu koper besar untuk dibagikan ke adik-adiknya dan keponakan, masing-masing dapat sesuai jumlah anggota keluarganya, itu kan menunjukkan kalau beliau tidak acuh sama keluarga besar,” sambungnya.
Mengingat waktu itu memang hampir seluruh saudara Mbah Wahab telah tiada dan meninggalkan anak dan istri. “Jadi buat beliau anak dan istri bisa belakangan, yang penting keluarga adik dan kakaknya aman dulu,” lanjutnya.
Mundjidah juga menjelaskan bagimana pelajaran mengenai perlunya meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi yang diajarkan Almaghfurllah KH Wahab Chasbullah.
“Abah itu, kalau ada orang yang matur ingin anaknya dijadikan fungsional atau pejabat di lingkungan NU misalnya, beliau akan mudah meng-iya-kan, tapi kalau untuk anak-anaknya dan keluarga sendiri beliau pasti katakan opo jare wong akeh mengko (apa kata orang banyak nantinya),” tambahnya.
Dirinya mengaku sangat merekam memori tersebut dan dijadikan pedoman dalam hidupnya. “Yang pasti itu ajaran abah yang sangat saya ingat, untuk masalah jabatan, orang lain akan kita usahakan bantu. Tapi kalau keluarga sendiri ya nanti tunggu keputusan bersama,” lanjutnya.
Sikap-sikap seperti inilah yang diharapkan Hj Mundjidah Wahab mampu diteladani semua pemimpin di negeri ini. Karena dengan nilai moral dan karakter seperti ini, maka nepotisme akan cenderung berkurang. “Ya walaupun kiai pejabat, beliau tak berubah jadi orang lain. Pedoman hidup beliau tetap harus bisa bermanfaat untuk orang lain,” harapnya.
Mbah Wahab ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2014 tertanggal 6 ovember 2014. Penyerahan piagam kepada ahli waris dilakukan langsung Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
Editor : Binti Rohmatin