Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Uniknya Jam Tangan dari Limbah Kayu Sonokeling, Tembus Pasar Bali

Binti Rohmatin • Sabtu, 1 Agustus 2020 | 16:36 WIB
Uniknya Jam Tangan dari Limbah Kayu Sonokeling, Tembus Pasar Bali
Uniknya Jam Tangan dari Limbah Kayu Sonokeling, Tembus Pasar Bali


JOMBANG - Kerajinan jam tangan dari limbah kayu bikinan Rana Ragesta, 28 Warga Dusun Santren, Desa Cangkringrandu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang cukup unik. Ia memanfaatkan potongan limbah kayu sonokeling yang diolah menjadi produk handmade bernilai ekonomis.


Suara bising terngiang dari rumah sederhana di Desa Tunggorono, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Kamis kemarin (30/7) kemarin. Dua pekerja tampak sibuk mengukir kayu berukuran 10 centimeter. Seorang pria berpeci hitam tampak sibuk memasang mesin jam kerangka yang seluruhnya terbuat dari kayu.


Ya, Rana dibantu dua pekerja tengah membuat jam tangan dari limbah kayu sonokeling. Awalnya, Rana terinspirasi membuat jam tangan berbahan limbah kayu itu dari tempat ia bekerja sebelumnya. ”Saya berpikir bagaimana caranya kayu ini memiliki nilai jual. Akhirnya saya cari referensi membuat jam tangan dari limbah kayu,” ujar dia saat ditemui wartawan koran ini. 


Rana kemudian menekuni kerajinan ini awal 2017.  Berbagai kendala sempat dihadapi. Hingga empat tahun berjalan, ia berhasil menjual ke beberapa toko souvenir luar daerah seperti Bali dan Jakarta. ”Kebanyakan saya jual keluar, khususnya daerah pariwisata,” tambahnya.


Jam tangan limbah kayu bikinannya, tak kalah dengan produk jam tangan pabrikan. Untuk membuat satu set jam tangan berbahan kayu, ada beberapa proses yang dilalui. Diantaranya, merendam kayu dengan air hingga 1 x 24 jam, kemudian dikeringkan sebelum diproses.


Untuk membuat tampilan jam tangan terlihat elegan, Rana menggunakan cat kayu yang dicampur dengan oli khusus. Penambahan oli ini agar menghasilan warna hitam legam. ”Sebenarnya yang membuat unik adalah warna kayu sonokeling, karena ada tekstur kayunya,” papar dia. 


Dalam sebulan, Rana hanya bisa membuat 50 produk saja. Hal ini dikarenakan peralatan yang digunakan cukup terbatas. Meski begitu, sebelum pandemi ia mengaku pesanan yang datang kepadanya cukup banyak. ”Namun pandemi ini turun drastis, karena tempat wisata banyak tutup sehingga permintaan sangat jarang,” bebernya. 


Satu buah jam tangan ini ia jual dengan harga Rp 350 ribu. Di beberapa daerah seperti Bali dan Jakarta harga tersebut cukup terjangkau. ”Mesin jam ini pesan lewat online, sehingga yang membuat mahal adalah kualitas mesinnya,” pungkas Rana.

Editor : Binti Rohmatin