JOMBANG – Pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir, memberi dampak berupa turunnya jumlah pendonor di Unit Tranfusi Darah (UTD) PMI Jombang. Penurunan pendonor mencapai 60 persen, sementara stok darah yang ada hanya cukup untuk tiga hari saja.
Seperti yang terpantau kemarin (8/7), jumlah pendonor terlihat sedikit sekali. Hanya ada dua sampai tiga orang yang melakukan donor darah. Kondisi ini ini sudah terasa sejak awal pandemi. ”Sejak ada pembatasan dan imbauan berada di rumah, jumlah pendonor turun drastis,” ujar Rahmad Siswojo, Kepala Bagian Pelayanan Medis UTD PMI Jombang.
Padahal golongan darah O dan sel darah merah, paling banyak dibutuhkan rumah sakit setiap hari. ”Stok hari ini menipis, kira-kira cukup untuk dua sampai tiga hari saja,” tambahnya. Dalam jumlah rata-rata, stok darah setiap hari kurang lebih 300 kantong. Sementara jumlah darah yang keluar paling sedikit 60-70 kantong.
”Jumlah permintaan darah disejumlah rumah sakit selama pandemi juga menurun,” papar dia. Padahal sebelum pandemi, jumlah pendonor mencapai 2.000 orang per bulan. Sejak Maret, April, Mei hingga Juni, hanya berkisar 800 pendonor. ”Kalau per hari mungkin rata-rata 30 orang,” jelas dia. Selain itu, kegiatan donor darah masal dan jemput bola juga ditidadakan sementara menyusul adanya pembatasan kegiatan sosial.
”Sekolah terutama SMA diliburkan, jadi paling banyak berkurang dari situ,” jelas dia. Untuk mengatasi kekurangan, pihaknya menukar kantong darah dengan paket sembako. Setiap hari, pihaknya menyediakan 50 sembako untuk pendonor pertama. ”Hitung-hitung peduli Covid-19 juga, jadi yang donor ke sini kami beri sembako,” pungkas dia.
Editor : Binti Rohmatin